Kartini Mapagama #2 ; Para penyibak kabut Gunung Pangrango

Berawal dari keinginan mengeksiskan kegiatan khusus wanita di organisasi kepecintalaman MAPAGAMA, akhir April tahun kemarin Tim Kartini #1 MAPAGAMA melakukan kegiatan Climbing di Lembah Kera, Malang. Kegiatan ini diadakan untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi. Sebelumnya, wanita MAPAGAMA juga sudah pernah melakukan ekspedisi yaitu Ekspedisi Putri Rinjani, sehingga muncul kembali ide untuk membuat kegiatan mandiri khusus wanita yang lebih berisi. Dan Alhamdulillah, tahun ini, kegiatan Kartini #2 dapat dilakukan lagi.

Tujuan tim Kartini#2 kali ini adalah pendakian ke Puncak Pangrango, Bogor. Ide ini bermula dari obrolan ringan cewek-cewek MAPAGAMA yang nongkrong di Aquarium (sekretariat Mapagama-red). Kebetulan ada salah satu cewek yang sangat mengidolakan Soe Hoek Gie, sehingga dia ingin sekali makan coklat di Lembah Mandalawangi seperti adegan dalam film “Gie”. Akhirnya, teman-teman pun setuju dengan ide itu.

Segeralah, hasil dari obrolan ringan itu diworo-worokan ke cewek-cewek MAPAGAMA. Dan ternyata, tidak hanya cewek-cewek yang tertarik, jejaka MAPAGAMA pun ingin ikut perjalanan kami ke Pangrango. Alhasil, anggota yang berangkat meliputi 12 wanita dan 7 pria. Dua belas wanita inilah yang terjun langsung dalam manajemen tim.

Hasil dari rapat pertama, terpilihlah Laras “Ithenk” sebagai koordinator tim, Tanti sebagai koordinator lapangan, Incem sebagai sekretaris, Cathy sebagai bendahara, Ayu sebagai koor. transportasi, Viema sebagai koor. konsumsi, Iyut sebagai koor. dokumentasi, Uus sebagai koor. logistik, Yulia sebagai koor. komunikasi, Asa sebagai koor. survey dan perijinan (yang akhirnya dia tidak bisa ikut karena malah tidak mendapat ijin ), serta Bekti dan Laras “Srowot” sebagai pendamping.

Berbekal persiapan fisik dan mental yang matang, termasuk menjajakan roti untuk mensubsidi biaya yang harus dikeluarkan, 11 cewek dan 7 cowok MAPAGAMA ditambah Yudhis, rekan dari Panta Rhei (mapala fakultas Filsafat UGM) berangkat dari Stasiun Lempuyangan pada hari Rabu,20 April 2011, pukul 17.00. Sebagian carrier diletakkan di bagasi atas dan yang sebagian lagi dimasukkan ke bawah kursi yang kita tempati, lalu kami bersembilan belas memulai perjalanan yang cukup memakan waktu untuk sampai ke Stasiun Pasar  Senen keesokan harinya.

Sampai disana, kami sudah disambut oleh beberapa teman Fadlih (MG’ers).  Ayu Salah Satu anggota tim Kartini datang belakangan karena ketinggalan kereta di awal perjalanan, maka kami menunggunya sembari ngobrol, ngemil, dan beristirahat, Perjalanan menuju Cibodas kami mulai setelah sarapan di sekitaran halte. Semua tas dan Carrier dimasukkan ke dalam bis, lalu kami berduapuluh bersama-sama memulai perjalanan. Harus berdiri di dalam bis menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar solider dengan mereka yang berjuang keras menghabiskan banyak waktu untuk berproses menuju tempat tujuan.

Perjalanan menuju Cibodas berlangsung sekitar 4 jam. Pukul 09.00, kami tiba di Base Camp Green Ranger. Di sana sudah

berkumpul banyak  pendaki. Pendakian dimulai pukul 11.00 karena menunggu beberapa teman yang akan menemani kita dari

Haihata pencinta alam STEI Tazkya Bogor.

Setelah pemeriksaan simaksi,  kami pun memulai perjalanan melewati pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Belum ada kira-kira 5 jam kami berjalan, ada beberapa anggota tim yang tertinggal di belakang. Akhirnya kami

putuskan untuk menunggunya sembari beristirahat sambil makan siang di salah satu pos pendakian yang kami lewati. Tak berapa lama kemudian,yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, mereka langsung makan snack dengan lahapnya.

Langkah demi langkah kami tempuh sambil membawa carrier. Hujan, dingin, tidak menjadi penghalang perjalanan kami. Melewati air panas menjadi tujuan yang amat ditunggu-tunggu, karena cuaca yang dingin saat itu. Setelah itu kami berhenti

di salah satu pos, untuk sekedar minum dan beristirahat sejenak. Hari itu sudah gelap, bukan waktu yang tepat sebenarnya untuk melanjutkan perjalanan, tetapi karena kondisi medan yang tidak memungkinkan untuk ngecamp, akhirnya kami memutuskan

untuk melanjutkan perjalanan sampai Kandang Badak, tempat para pendaki biasa ngecamp.

Air yang menetes dari dedaunan, sinar matahari yang memancar di celah-celah pepohonan, dan tenda-tenda pendaki lainnya menjadi pemandangan di pagi yang cerah itu. Pendakian menuju Puncak Pangrango (3.019 m.dpl)  rencana dimulai kira-kira pukul 09.30. Tapi, terjadi sedikit trouble, dan kami pun harus melanjutkan perjalanan tanpa Ayu dan Viema.

Awal perjalanan yang menanjak, medan yang licin, serta kemampuan masing-masing anggota  yang berbeda mengakibatkan perjalanan kami terbagi menjadi 2 rombongan. Rombongan depan dengan Bang Ode (Lawalata IPB), Mbak Tika (Haihata Tazkia), sedangkan rombongan belakang dengan Bang Ocit. Kira-kira Pukul 16.00, rombongan depan sampai lebih dahulu di Puncak, dilanjutkan rombongan belakang.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh para Kartini, menggunakan kebaya dan jarik ala Kartini dan mengabadikan

momen itu di Mandalawangi ( padang Edelweis ). Jarak dari Puncak menuju Mandalawangi memang tidak cukup jauh,

hanya sekitar 5 menit saja. Sampai disana, banyak pendaki yang memandangi kami dengan ekspresi yang tampak heran dan

kagum,melihat wanita-wanita cantik berkostum kebaya berada di Puncak Pangrango. Pemandangan yang sangat jarang ditemui bukan? Sampai-sampai ada beberapa pendaki yang ingin berfoto bersama kami.

Beberapa kamera mulai dipasang di titik-titik strategis, dan kami pun mulai berpose. Bosan juga dengan hanya berpose,

akhirnya kortim mengusulkan agar kita membuat sebuah persembahan yang menarik yang nantinya akan dipertontonkan pada MG’ers lainnya. Maka, Incem pun menawarkan diri menjadi pembaca puisi “Mandalawangi- Pangrango” dan anggota yang lain memperagakan setiap baris yang terucap. Karena cuaca sudah mendung, maka kami pun segera packing.

Perjalanan turun menuju Kandang Badak  diselimuti oleh cuaca mendung. Sampai di Kandang Badak, kami

makan siang, sedangkan yang lain (khususnya yang tidak muncak) membereskan tenda. Setelah itu perjalanan turun kami

lanjutkan kembali. Medan yang licin dan berlumpur membuat perjalanan kami cukup lambat. Satu per satu dari kami banyak yang tergelincir dan jatuh. Walaupun begitu, semangat Kartini tidak serta merta hilang dari diri kami, meski langkah sudah semakin

berat tapi kami tetap gigih untuk terus berjalan menuju tempat tujuan. Dan akhirnya sampai juga di pos pemeriksaan simaksi pada pukul 21.00.

Sampai di Basecamp, Kortim segera memastikan semua anggota lengkap, dan Ayu segera mencari angkutan menuju daerah Sentul, Bogor, tempat kontrakan teman Mbak Tika, yang rencana akan menjadi tempat istirahat kita malam itu. Satu pickup untuk mengangkut carrier dan satu angkutan lagi untuk kami. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Selama perjalanan, hampir

semua orang tidur kecuali sopir dan Incem yang memang sengaja tidak tidur agar tidak muntah, namun akhirnya muntah juga di punggung Samid (orang yang duduk tepat di sebelahnya).

Hari terakhir di Bogor kami habiskan dengan bercanda dan mengobrol dengan teman-teman dari Tazkia. Sebagian yang lain,

bersiap packing sambil membersihkan dan menjemur beberapa barang yang basah. Evaluasi yang menjadi agenda wajib tiap kegiatan kami lakukan pada siang harinya.

Untuk menuju Stasiun Pasar Senen, kami harus dua kali naik KRL. Kereta tujuan Yogyakarta hanya ada pada pukul

21.00, sehingga kami harus menunggu di stasiun kurang lebih 2 jam. Waktu yang cukup luang ini, banyak dimanfaatkan anggota

tim untuk berfoto, mengobrol atau sekedar tidur sejenak. Ada juga yang berkenalan dengan beberapa anak penjual kipas dan

koran bekas yang biasa mangkal di stasiun. Sampai akhirnya, kereta kami datang dan kami pun bersiap pulang ke Yogyakarta.

Kebersamaan ini membangun kemandirian, solidaritas antar anggota, mengontrol emosi pada kondisi yang serba tidak pasti, menyiapkan mental dan fisik yang lebih dari biasanya. Aktualisasi diri akan tercipta pada kondisi seperti ini. Perempuan memperoleh sarana untuk menciptakan eksistensi diri dan mengekspresikan gagasan. (oleh Iyut Purbasari, editor Fahmy)

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *