Merbabu, surganya sabana yang direnggut kabut
Hanif Nur Hassan Al Faruqi
Kabut tipis perlahan merangkak naik dari lembah menuju ke permukaan langit. Atap yang pada awalnya biru, hilang ditelan kabut yang tak menentu. Sabana yang parasnya manjakan mata, sangat disayangkan tersetubuhi kabut jua, kami pun tak mendapat panorama yang indah ketika perjalanan dari pos 3 menuju puncaknya. Puncak trianggulasi, tanah tertinggi diGunung yang berdampingan dengan Merapi. Siapa lagi kalau bukan Merbabu ?
Sedikit mengulas tentang merbabu, tahukah kawan-kawan tentang asal-muasal Gunung Merbabu? Jikalau belum Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pamarihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, “merbabu” berasal dari gabungan kata “meru” (gunung) dan “abu” (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.
Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.
Merbabu, gunung yang memiliki sabana yang begitu mempesona itu kami kunjungi kala sabtu dan minggu yang lalu, Tim dibagi ke 4 jalur yang ada. Selo, Wekas, Suwanting, dan Thekelan, kebetulan aku dan 4 orang temanku(Dian, Deswita, Ilham dan Yoga) mendapatkan jalur Suwanting. Mengingat waktu kami yang singkat, bagi tugas pun kami laksanakan dengan cepat. Sebab, hanya 5 orang yang kami miliki untuk bekerja sama dalam melakukan persiapan Pendakian Wajib Gunung Ambu Udan XXXIII, kami tidak sendirin dalam bermanajemen. Didampingi Mba’ Kokor, Mba’ Eva, Mba’ Hanifa dan Mas Anwar, tim kami makin terpacu untuk melakukan Pendakian Lintas Jalur(traverse) dari Suwanting ke Selo diGunung Merbabu.
Tugas demi tugas skenario yang mencakup koortim, Koorlap, Sekretaris, Bendahara, Transpostasi, Surjin, Dokumentasi, Konsumsi, Logistik, Komunikasi, dan P3K kami buat dan penuhi sesuai dengan apa-apa yang kami rencakanan selama Jum’at-Minggu, 3-5 Maret 2017. Presentasi kami sampaikan dengan semampu kami dalam berusaha, segala persiapan kami tuntaskan sebelum hari H keberangkatan tiba. Melalui kumpul rutin selama 3 kali dalam seminggu kami berdiskusi demi lancarnya acara ini.
Akhirnya tibalah waktu dimana semua tinggal direalisasikan. Jum’at berkat nampaknya. Sebab, langit begitu cerah saat kami menaiki pick up yang telah dipersiapkan PJ Transportasi dalam mengurus keberangkatan kami dari Terminal Jombor hingga Basecamp Suwating, pick up melaju dengan sangat cepat, bulu kuduk kami serempak berdiri tegak saat kendaaran yang kami tumpangi telah tiba didaerah Ketep Pass, area dimana aroma pegunungan sudah sangat khas mengeruak disekelilingnya. Setibanya dibasecamp kami langsung menata barang-barang, melakukan komunikasi dengan pihak warga pastinya juga, briefing untuk kegiatan esok hari. Hawa semakin dingin saat malam benar-benar pada ujungnya, kami putusakn untuk segara istirahat demi kondisi yang bugar dipagi hari.
Pagi menjelang, kesibukan desa telah diaktifkan sebelum adzan subuh berkumandang, Ibu-ibu menuju ke ‘pawon’ untuk menyiapkan makanan yang akan menjadi santap sarapan para pendaki dibasecamp dan warga yang sedang berjaga dipos pendaftaran. Dingin masih menggelayut manja diseluruh tubuh kala ayam mulai berkokok dengan riuhnya, mengingatkan datangnya pagi yang tak bisa dicegah lagi. “Semesta indah hari ini” kataku pada diri sendiri setelah melepas sleeping bag dan keluar basecamp. Dirasa belum cukup nyawa bagiku, ku putuskan menuju ke toilet untuk membasuh tubuh serta berwudhu’ setelahnya ku bangunkan kawan-kawan yang lain tuk bergegas bangun, sebab hari ini perjalanan panjang akan segera dimulai.
Suasana semakin ramai saat kami telah bersiap dengan carier masing-masing untuk menuju ke rumah warga yang semalam telah dipesankan sarapan untuk tim melalui Deswita selaku PJ konsumsi, perjalanan menuju rumah warga dari basecamp cukup membantu aklimatisasi kami sebelum mendaki Gunung Merbabu via jalur Suwanting. Sarapan selesai, kami pun melakukan plotting dengan peta yang kami pegang masing-masing, sebab selain mendaki kami juga diwajibkan untuk mendalami materi IMPK(Ilmu Medan Peta Kompas) demi proses serangkaian Pendidikan Calon Anggota Mapagama. Setelah titik diketahui dan semua dirasa sudah siap, stretching/pemanasan pun dilakukan demi mencegah terjadinya keseleo lebih awal atau otot yang menegang karena tidak siap melewati medan yang cukup menanjak selama jalur pendakian via Suwanting ini.

Tepat pada pukul 09.30 WIB tim berjalan meninggalkan rumah terakhir dari pemukiman Dusun Suwanting, Pos 1 yang tak cukup jauh dapat kami jangakau dengan 20 menit berjalan. Sepoi angin yang menikam tubuh, menjejali diri pada tapak demi tapak yang harus tabah, hingga pos 1 yang vegetasinya adalah pepohonan pinus, kami mulai berjalan lagi menuju pos-pos berikutnya, hingga pos air yang terletak dekat dibawah pos 3 kami putuskan untuk berhenti dan mengisi penuh jerigen, sebab kami akan turun melewati jalur selo yang tidak terdapat mata air dijalur pendakiannya. Setelah kami rasa cukup, perjalanan menuju pos 3 yang menjadi tempat camp paling favorit bagi para pendaki kami lanjutkan. 30 menit berselang, semua anggota tim telah tiba di area camp pos 3. Ilham dengan cepat mendirikan tenda bersama Mas Anwar sementara aku dengan cepat membagi tugas pada teman-teman yang lainnya untuk segera membentangkan flysheet dan mendirikan tenda yang satunya. Semua telah berdiri dengan aman dan nyaman, semua isi carier dikeluarkan, barang-barang ditata didalam tenda.
Malam kian menjadi saat angin berkuasa, riuhnya tenda menjadi interaksi paling membumi yang mengalahkan semua aplikasi, satu dua keluar tenda menikmati panorama kerlap-kerlip cahaya lampu kota. Santap malam kami cukup menyenangkan sebab koki kali ini adalah Deswita dan Dian dengan menu sop ayam dengan oat, dipadu dengan susu vanilla yang hangat membuat selera makan kami menjadi meningkat dan terasa nikmat. Seperti biasa, kami lakukan briefing dari tiap sie untuk kesiapan dan kegiatan diesok hari, juga kami sempatkan untuk melakukan plotting posisi pos 3 dan sedikit refresh materi untuk kemudahan kami dalam melakukan pengaplikasian materi IMPK esok hari. Sebelum malam menuju penghujungnya, tepat pada pukul 23.00 WIB aku memastikan semua kawan-kawan ku telah pada pejamnya dalam meramu mimpi menuju esok hari.

Minggu yang ditunggu akhirnya tiba dengan sendirinya, Deswita yang telah terbuka matanya lebih awal segera keluar tenda untuk menyiapkan sarapan, gesekan demi gesekan sendok dengan nisting membuat warga tenda kami terbangun semua, dan aktivitas dihidupkan lagi. Beberapa melakukan ibadah Sholat Subuh, mempulihkan nyawa yang sejenak dipinjam Sang Pencipta. Semburat kekuningan dari ufuk timur memaksa merapi membuka jubah hitamnya, mempertunjukan elok parasnya, dan membuat para penikmatnya begitu terkagum-kagum akan proses datangnya mentari. Sarapan telah matang, kami pun siap untuk makan pagi bersama-sama(lagi), selesainya kami langsung mencuci apa-apa yang dipergunakan untuk makan dan sesegera mungkin packing semua barang-barang. Barang-barang telah dipacking dan semua telah pada penampilan barunya setelah kemarin dihujani rintiknya dan deru angin merbabu, sebelum pergi kami lakukan cleaning disekitar area camp pos 3. Ilham selaku PJ tugas pengabdian, memberikan satu kresek kepada masing-masing anak untuk dipenuhi dengan sampah. Selesainya, kami berkumpul untuk melakukan pemanasan atau senam pagi demi meregangnya otot-otot ditubuh kami sebelum melakukan perjalanan lagi. Foto bersama sebelum berangkat pun diadakan, “cekrek” terdengar bunyi kamera sebagai pertanda momen telah diabadikan. Sejenak kami buat lingkaran untuk do’a bersama dengan penutup ritual seperti biasa “Viva Mapagama! so so so!” serentak suara kami teriak menjadi peningkat semangat. “Ayo Ham, Des, Dian, Yoga jalan duluan baru aku dibelakang kalian hehe” kataku pada kawan-kawan. Perjalanan mnuju puncak dilanjutkan.
Sayang dan sangat dirugikan, kabut merenggut indahnya sabana, dan kami hanya mampu menikmati sisa-sisa kabut yang berarak-arak menghilang sedikit demi sedikit menjauhi sabana, Puncak Suwanting pun kami tapaki dengan sejenak rehat juga foto bersama. Tak berselang lama, Puncak Trianggulasi telah menunggu untuk kami datangi. Dan pada perjalanan kabut pun perlahan menghilang, meski tak dapat menyeluruh setidaknya jalur menuju puncak dapat terlihat dengan jelas dan membantu kami berjalan, detik demi detik berlalu berganti ke menit, menit demi menit berbuah menjadi jam, hingga tepat pada pukul 11.40 WIB seluruh tim Suwanting mencapai Puncak Trianggulasi 3.119 MDPL. Satu persatu mengucap syukur, terlebih mereka yang baru pertama kali menggapai puncak gunung yakni, Dian dan Deswita. Mereka begitu bersyukur bisa berjalan sejauh ini, terlebih lagi kami juga bertemu kawan-kawan dari jalur Wekas dan Thekelan, riuh rendah tawa kami menjadi renyah setelah tim kami mengeluarkan jatah makan siang untuk dimakan bersama-sama dengan kelompok lain.
“Sejatinya Puncak bukanlah tujuan akhir, melainkan Pulang dan kembali ke rumah dengan selamat lah tujuan dari beperjalanan”, setelah kami rasa cukup untuk bercumbu dengan Trianggulasi dan Kenteng Songo, tepat waktu menghunus menuju pukul 13.00 WIB, kami segerakan turun menuju Sabana 2 jalur pendakian selo yang disana kami sudah ditunggu oleh kawan-kawan Tim Pendakian Gunung Merbabu via Selo.
Tak perlu waktu lama untuk kami menuruni tanjakan demi tiba di sabana 2, 30 menit berlalu akhirnya kami pun melebur menjadi satu, semua pendamping yang mencakup 2 angkatan(Glati Kuat dan Sajan 16), semua calon anggota muda dari Gladimula XXXIII(Ambu Udan), serta mantan Ketua Mapagama yakni Mas Yusya(Angkatan Kabut Alas). Setelah plotting selesai dilakukan kami pun memasak air hangat untuk secangkir teh panas yang diseruput bersama-sama. Foto bersama pun tidak luput dari kegiatan kami selama disabana 2. Tepat ketika jam hampir menunjukkan pukul 14.00 WIB kami bergegas untuk turun ke Basecamp Selo.

Sabana demi sabana kami lewati hingga akhirnya kami tiba di pos 3 yang kerap disebut “Watu Tulis” 15 menit estimasi waktu yang kami sediakan untuk plotting dan rehat sejenak. Perjalanan berlanjut menuju pos 2 dimana jalan yang kami lewati masih tanjakan yang harus kami turuni dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Pos 2 telah didepan mata hingga pada permukaan tanah kaki kami menyentuh pos 2, plotting dilakukan lagi dan interpretasi jalur diamati lagi, dan didokumentasikan oleh Dian, kini perjalanan sudah cukup landai dengan jalur yang sudah tidak terlalu menurun, ada kejadian unik dimana Yoga selalu berlari dan ketika akan berhenti ia sangat susah untuk menjaga keseimbangan diri karena alas sepatunya yang cukup licin, hingga tak jarang ia menjadi bahan tertawa kami semua karena jatuhnya di tanah. Hehe
Menuju pos 1 dimana vegetasi disekitarnya masih cukup lebat, kami semakin berjalan lebih cepat setelah deru motor dikejauhan terdengar ditelinga kami dan menjadi pertanda jika basecamp sudah kian dekat. Samar-samar pos 1 sudah terintip secara nyata didepan mata. Kami pun rehat sejenak serta tegur sapa bertemu dengan pendaki lainnya yang tengah memulai pendakian, sembari rehat kami sempatkan untuk plottiing dan menerka-nerka keberadaan posisi kami pada peta yang kami bawa. Dirasa cukup, kami lanjutkan lagi untuk menuju Basecamp Selo, tak terasa hari sudah sore, terpampang langit mulai bermetamorfosa dari biru menjadi kelabu, satu dua kali gelegar petir terdengar menjadi pertanda bahwa akan turun hujan. Setelah lelah berpeluh basah akhirnya kami tiba dipintu jalur Pendakian Gunung Merbabu via Selo, rasa syukur kami haturkan pada Pencipta atas campur tangannya dalam Pendakian kami kali ini. Foto bersama pun diadakan dan dipimpin langsung oleh Dian, selesainya kami langsung menuju ke Basecamp Mbah Jupri.
Rintik hujan perlahan membasahi permukaan pelataran basecamp disaat kami mulai mengeluarkan pakaian ganti dari carrier untuk membersihkan diri di kamar mandi. “Sueger Tenan lur”(read:Seger banget bro) kataku pada kawan-kawan selepas ganti pakaian kering dan bersih. Tak sengaja perutku kerucukan melihatYoga membeli bakso tusuk, lantas ku teriakkan nada minta tolong pada Yoga “Yog, tulung aku sisan! hehe”(read:tolong aku beliin sekalian) sudah segar, kenyang rasanya masih ada yang kurang, teh hangat pun kami pesan untuk menghangatkan suhu tubuh karena tidak beraktivitas seperti ketika dijalur pendakian. Sore benar-benar berada pada fasenya, setelah tim kami tiba satu persatu dari tim yang lain menyusul menuju basecamp. Tak mau terlena karena sudah nyaman, aku ingat akan tugasku sebagai PJ Transportasi, juga kuperintahkan Dian untuk melapor kondisi tim ke pihak Basecamp Selo utnuk selanjutnya disampaikan ke pihak Basecamp Suwanting bahwa tim telah turun dengan aman, sehat dan berjumlah 9, masih utuh seperti ketika keberangkatan. Urusanku adalah bertemu dengan Mas Kamto selaku penyedia sekaligus supir Mobil yang akan kami sewa guna kendaraan kembali tim kami ke Yogyakarta.
Dian selesai melaporkan, aku pun sudah berkomunikasi dengan Mas Kamto perihal kepulangan dan penataan barang, maka kusegerakan mengkoordinir kawan-kawan untuk meletakkan masing-masing cariernya ke dekat Mobil, ku pastikan juga tak ada barang yang tertinggal agar ketika dikendaraan sudah aman dan tenang. Sebelum benar-benar menaiki mobil, aku izin pamit kepada tim serta pendamping yang lain untuk mendahului pulang sebab, manajemen transport kami dengan tim yang lain berbeda. Dreen dreeen………
deru mobil dinyalakan mengantar kami menuju Jogja, terasa indah didada dan menyenangkan dimata ketika kanan-kiri jalan adalah ladang milik warga, sejuk. Sejauh mata memandang warna hijau mendominasi panorama alam sekitar. Mobil melaju dengan cukup cepat, satu dua cakap kami ciptakan untuk sekedar bercerita dengan Mas Kamto perihal Selo dan kegiatannya, juga tak jarang riuh tawa kami mengudara didalam mobil yang mengantarkan kami ke jogja. Tersebab, hal terindah bagi seorang petualang adalah ketika ia telah tahu jalan menuju pulang.
Pagi hari tanggal 12 Agustus 2023 tim menambah kegiatan eksplorasi permukaan ke Desa Lanne. Tim ditemani tiga warga lokal, yaitu Kak Saridah, Kak Ainun, dan bapak kepala dusun. Sebelum menuju Desa Lanne, tim mampir terlebih dahulu ke warung untuk mengisi bensin dan membeli air minum. Namun, saat di perjalanan, motor yang dikendarai Gandhi dan Haqqi mengalami bocor ban di depan Kantor Desa Bonto Birao. Anggota tim yang berada di warung pun sedikit terkejut sebab pergi ke bengkel di desa ini akan menjadi lebih sulit karena jalanan yang rusak. Untungnya saat itu di kantor desa ada banyak orang karena sedang ada kerja bakti, sehingga Gandhi dan Haqqi dibantu untuk menambal bannya yang 
Kapal pun berangkat dari Pelabuhan Makassar sekitar pukul 03.00 WITA dan perjalanan diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih selama 24 jam. Selama di kapal, tim menghabiskan waktu sama seperti pada saat keberangkatan, ada yang menonton film, membaca novel, dan menikmati pemandangan dari atas kapal. Akhirnya, tim tiba di Pelabuhan Tanjung Perak pada 17 Agustus 2023 sekitar pukul 03.00 WIB dan tim segera keluar dari Pelabuhan. Tim menunggu Mama Kaizan dan supir yang akan menjemput kurang lebih selama 1 jam. Setelah mobil yang menjemput tiba, tim segera memasukkan barang-barang ke dalam mobil lalu mampir untuk membeli makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Kaizan. Setelah makan, tim menuju ke rumah Kaizan untuk bersih diri dan beristirahat sebentar. Pukul
Hari kedua berada di Desa Bonto Birao, tim melanjutkan kegiatan lapangan akhir dengan pemetaan Leang Pa’niki. Pemetaan Leang Pa’niki dianggarkan selama lima hari hingga tanggal 12 Agustus 2023. Tentu saja sebelum berangkat pemetaan, tim mengisi perut terlebih dahulu. Hidup berdampingan dengan tim KKN dari Unhas dan keluarga kepala desa sendiri menjadikan tim harus bekerja sama dalam penyediaan pangan untuk seluruh personel yang tinggal di rumah ini. Dengan jumlah penghuni mencapai 19 orang, pagi hari pun digunakan untuk bergelut di dapur bersama tim dapur KKN Unhas. Sedikit obrolan dengan tim KKN Unhas menghasilkan beberapa informasi penting bagi tim, salah satunya adalah tidak adanya warung yang menjual sayur di sekitar desa. Konsumsi sayur masyarakat Bonto Birao sepenuhnya bergantung pada mobil pick-up penjual sayur yang berkeliling dengan jadwal tak menentu. Atau jika memungkinkan, beberapa hari sekali kepala desa akan meminta tolong orang-orangnya untuk berbelanja sebab rumah kepala desa tidak pernah sepi kunjungan sehingga harus selalu tersedia bahan makanan. Pasar di desa ini hanya ada di hari Jumat, pun sering tak menentu sebab bergantung pada para pedagang yang mau naik ke desa ini. Pengaturan konsumsi tim selanjutnya pun harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Beruntungnya, tim telah membawa bahan makanan sehingga stok bahan pangan untuk setidaknya dua hari sudah aman. Pada hari pertama pemetaan ini, salah satu anggota KKN Unhas dan beberapa warga lokal turut menemani tim. Seluruh anggota tim kecuali Azarya masuk ke dalam gua, sedangkan Azarya berjaga di mulut gua ditemani oleh Kak Babul dan beberapa pemuda sekitar. Dari informasi yang didapatkan tim, Leang Pa’niki termasuk gua dengan aliran air yang digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat sekitar juga sering masuk untuk menangkap ikan. Memasuki Leang Pa’niki, tim disambut dengan
Hari berikutnya adalah saat untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tim memulai persiapan dari pukul 07.00 WITA. Kegiatan Tri Dharma ini berlokasi di balai desa yang berada tepat di depan lapangan desa. Balai desa memiliki posisi bangunan yang lebih tinggi daripada lapangan yang pada saat itu adalah hamparan luas rumput yang menguning. Pegunungan di kejauhan dapat terlihat dari balai desa dan seolah menjadi latar pemandangan lapangan desa. Lapangan desa pada hari Jumat itu memiliki pemandangan lain, yaitu pasar dadakan. Pasar dadakan pagi itu hanya terdiri dari 2 mobil pick-up yang menjual kebutuhan pokok. Tim sungguh beruntung bisa menyaksikan pasar dadakan ini, sebab setiap Jumat pun belum tentu para pedagang mau naik ke desa yang jaraknya 2-3 jam dari pasar induk terdekat. Tri Dharma yang semula direncanakan pada hari Minggu harus berubah menjadi Jumat pagi sebab menyesuaikan kegiatan sehari-hari masyarakat sekitar. Akhir minggu digunakan untuk masyarakat pergi ke ladang dan pagi hari di hari Jumat menyesuaikan dengan waktu ibadah solat Jumat. Tri Dharma ini berbentuk sosialisasi yang berjudul “Tata Cara Pengajuan Kelegalitasan Nomor Izin Berusaha (NIB) sebagai Awalan dalam Memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR)” dengan sasaran masyarakat dan Karang Taruna Desa Bonto Birao, terutama yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya. Pada kegiatan Tri Dharma ini, Kaizan dan Jayu bertugas sebagai pemateri, Saphira sebagai MC, Binar sebagai operator dan notula, Azarya sebagai notula, serta Gandhi dan Haqqi sebagai dokumentasi. Setelah materi disampaikan oleh Kaizan dan Jayu, praktik langsung bersama masyarakat yang hadir juga dilakukan untuk mendapatkan NIB melalui aplikasi bernama OSS. Selama pembuatan NIB, beberapa orang mengalami kendala sehingga kondisi sempat sedikit hectic oleh ibu-ibu yang kebingungan. Namun, setelah dibantu oleh tim akhirnya NIB pun berhasil terbit. Masyarakat yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya terlihat sangat antusias untuk mendapatkan NIB ini sehingga mereka sangat senang saat NIB sudah berhasil terbit. Sebanyak sebelas NIB berhasil terbit dari masyarakat Bonto Birao yang dibantu oleh

Akhirnya dengan segala perjuangan, tim tiba di rumah Kepala Desa Bonto Birao pukul 00.30 WITA yang kemudian disambut oleh teman-teman KKN dari Universitas Hassanudin dan bapak kepala desa. Selayaknya bertamu pada umumnya, tim beramah-tamah dan akhirnya istirahat pada pukul 03.00 WITA. Bertemankan suara jendela dan
Pada saat melakukan eksplorasi ke dalam salah satu gua, ditemui ular berwarna merah yang sedang beristirahat pada dinding gua. Karena terkejut dan warga lokal yang menemani masuk takut dengan ular, tim segera memutuskan keluar gua dan melanjutkan kegiatan. Setelah menemukan beberapa gua, tim ishoma terlebih dahulu.Lokasi ishoma berada di sungai yang dengan air terjun kecil. Roti dan buah menjadi santapan siang sembari beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon dan menikmati segarnya air sungai. Setelah cukup beristirahat, tim melanjutkan kegiatan eksplorasi hingga ke desa sebelah. Selama melintasi jalanan desa yang tidak kalah buruk dari jalanan semalam, tim beberapa kali berhenti untuk mengambil footage dari tempat yang dirasa bagus, salah satunya adalah lahan dipenuhi batuan yang digunakan untuk melepas sapi-sapi coklat milik warga. Tempat itu seperti kastil sapi dan rupanya memang cukup ikonik di situ. Setelah menyusuri area eksplorasi, tim kembali ke rumah kepala desa lalu bersih-bersih, ramah tamah, eval, briefing, dilanjut dengan istirahat.
0 Comments