Edukasi Kebencanaan Pada Wisatawan di Desa Wisata Pentingsari, Umbulharjo, Yogyakarta
Oleh : Anggita Swestiana D. (UGM Research Expedition I)
Pariwisata saat ini menjadi sektor utama bagi dunia global untuk pembangunan ekonomi. Namun, pariwisata merupakan sektor yang mudah terpengaruh oleh fenomena eksternal seperti bencana alam. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi industri pariwisata, khususnya di area Asia-Pasik seperti Indonesia yang memilki banyak gunung aktif sebagai destinasi wisata. Salah satunya adalah Desa Wisata Pentingsari di Daerah Istimewa Yogyakara. Desa ini terletak di Kawasan Rawan Bencana II Gunung Merapi. Sehingga, pariwisata di daerah ini terpengaruh dampak letusan merapi dan membutuhkan pendekatan khusus untuk mengurangi resiko dampak dari letusan Gunung Merapi disektor pariwisatanya salah satunya pemberian edukasi kepada wisatawan.
Penelitian ini akan menganalisis seberapa jauh edukasi mengenai kebencanaan yang diberikan pada wisatawan di Desa Wisata Pentingsari. Penelitian ini menggunakan basis teori kerangka manajemen resiko yang digagas oleh Bill Faulkner (2001). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan mewawancarai pemangku kepentingan disektor pariwisata Desa Wisata Pentingsari. Hasil dari penelitian ini berupa penjelasan mengenai seberapa jauh Desa Wisata Pentingsari telah memberikan edukasi mengenai kebencanaan pada wisatawan dengan basis kerangka manajemen resiko dalam pariwisata yang digagas oleh Faulkner.
Kata Kunci: Desa Wisata Pentingsari, Edukasi, Manajemen Resiko Bencana, Manajemen Resiko Bencana Pariwisata, Bill Faulkner, Gunung Merapi.
Sektor pariwisata adalah sektor penting yang menjadi salah satu kunci untuk pembangunan ekonomi di berbagai negara sekaligus meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat (United Nation World of Tourism). Kontribusi sektor ini menghasilkan berbagai lapangan kerja, usaha, pembangunan infrastuktur dan pendapatan ekspor. Sehingga, tak mengherankan bahwa saat ini pariwisata menjadi sektor yang paling strategis untuk dikembangkan di berbagai negara. Walaupun begitu, Pariwisata memiliki faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangannya salah satunya adalah kebencanaan. Sektor ini merupakan sektor yang paling rentan terhadap ancaman bencana karena destinasi wisata pada umumnya adalah darah-daerah yang memiliki potensi alam seperti daerah pantai atau pegunungan yang rentan akan tsunami ataupun erupsi. (Cassedy; Okumus et al.; Pforr in Ritchie, 2009). Ritchie (2009) memberikan gagasan bahwa kenaikan angka kebencanaan dan krisis memiliki pengaruh besar terhadap industri pariwisata. Hal tersebut dianggap dapat menggangu pembangunan industri pariwisata dan stabilitas arus wisatawan. Tak hanya itu, karena multiplier effect yang dimiliki pariwisata, ketika terjadi bencana selain destinasi dan wisatawan, sektor-sektor lain yang menunjang pariwisata juga akan terkena dampak dari bencana tersebut. Hal ini tentunya dapat mengancam ekstistensi suatu destinasi wisata. Bencana kemudian menjadi tantangan yang besar bagi pembangunan industri pariwisata saat ini di berbagai Negara terutama di area Asia-Pasifik. (Hooper; Henderson; Lyon and Worton in Mistillis, 2006).
Salah satu Negara di Asia-Pasifik yang sedang mengembangkan industri pariwisata adalah Indonesia. Negara ini dikenal dengan berbagai destinasi wisata alam yang eksotis namun tetap lekat dengan aspek kebencanaan seperti gunung Merapi. Gunung berapi yang terletak di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini dikenal sebagai ring of fire yang memiliki frekuensi erupsi yang tinggi (Yuwono,JSE,2012). Pada tanggal 26 Oktober dan 5 November 2010, Yogyakarta mengalami bencana besar yang disebabkan oleh erupsi merapi. Erupsi ini membuat kerugian pada sektor pariwisara di Yogyakarta sebesar Rp. 7, 484 triliun (Kompas, November 15, 2010). Meskipun begitu, pengalaman tersebut tidak membuat beberapa destinasi wisata untuk lebih waspada akan bahaya erupsi gunung Merapi.. Pada tahun 2014, walaupun status Merapi naik dari normal menjadi waspada, namun beberapa destinasi wisata di kawasan rawan bencana tetap dibuka[1]. Meskipun tidak tercatat adanya korban dari kalangan wisatawan, destinasi wisata di kawasan rawan bencana perlu untuk memperhatikan aspek keselamatan wisatawan. Melihat kondisi tersebut, tentunya dibutuhkan pengelolaan khusus untuk sektor pariwisata dengan tujuan mengurangi dampak dari bencana terhadap destinasi dan wisatawan.
Desa wisata saat ini menjadi destinasi wisata andalan di daerah sekitaran Gunung Merapi. Semenjak program Pariwisata Inti Rakyat dikembangkan oleh Kementrian Ekonomi Kreatif dan Pariwisata pada tahun 2006, banyak bermunculan destinasi serupa. Pionir dari desa wisata di Yogyakarta salah satunya terletak di kawasan rawan bencana II yaitu Desa Wisata Pentingsari. Desa ini menggunakan konsep pariwisata keberlanjutan sebagai dasar pembentukannya yang selaras dengan manajemen kebencanaan sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dan Desa Wisata Pentingsari sebenarnya telah membuat usaha-usaha untuk mengurangi dampak bencana seperti pembuatan standard operation system, workshop, pelatihan, pengadaan alat-alat untuk emergency rescue dan juga menjalin system komunikasi dan kerjasama. Namun, aspek wisatawan kemudian tidak menjadi perhatian khusus dalam usaha-usaha yang telah dilakukan tersebut. Menurut Faulkner (2001), wisatawan merupakan aspek yang paling rentan terhadap bencana dibanding dengan warga lokal atau pengelola di daerah tersebut karena wisatawan memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai lokasi dan memerlukan adaptasi untuk menghadapi fenomena yang tidak dapat diprediksi. Aspek keamanan wisatawan kemudian menjadi kunci yang menentukan apakah destinasi wisata tersebut masih dapat mempertahankan reputasinya setelah bencana terjadi. Penurunan jumlah wisatawan biasanya akan terjadi apabila tidak adanya pengelolaan bencana untuk mengurangi efek negative bencana. (Zhang in Mistillis, 2006). Sehingga menurut Faulkner (2001), Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak bencana terhadap wisatawan adalah memberikan edukasi mengenai kebencanaan khususnya kepada wisatawan dan pengelola.
Penelitian ini akan difokuskan pada aspek pemberian edukasi terhadap wisatawan dengan dasar kerangka manajemen bencana dalam pariwisata karya Faulkner (2001). Kerangka tersebut diambil sebagai landasan teori karena teori Faulkner memasukan aspek wisatawan sebagai pertimbangan dalam manajemen bencana di pariwisata, teori ini juga pernah digunakan oleh Ritchie (2009) dan Mistilis (2006) sebagai salah satu dasar teori mereka sehingga dapat dikatakan kerangka tersebut telah mumpuni sebagai sebuah dasar teori penelitian. Dalam kerangka Faulkner, manajemen bencana dibagi menjadi enam fase yaitu : 1) pre-event phase 2) prodromal phase 3) Emergency phase 4) Intermediate phase 5) Recovery phase and 6) Resolution phase. Pememberian edukasi kepada wisatawan dan pengelola terjadi pada fase pre-event. Pre-event adalah fase dimana mitigasi dan manjemen resiko terjadi. fase pre-event ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari bencana. Dalam fase pre-event terdapar unsur pemberian edukasi untuk aspek keamanan bagi wisatawan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan kerangka berpikir deduktif. hipotesa awal penelitian ini adalah desa wisata Pentingsari belum mengedukasi wisatawan mengenai kebencanaan gunung Merapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana desa wisata pentingsari telah mengedukasi wisatawan tentang kebencanaan.
Pembahasan
Desa wisata Pentingsari terletak di daerah Umbulharjo, Kabupaten Sleman, 12.5 km dari puncak gunung Merapi dan termasuk kawasan rawan bencana II (BPPTKG, 2014). Dampak erupsi gunung Merapi di kawasan ini adalah hujan abu vulkanik, hujan batuan pijar, awan panas, aliran lahar vulkanik, dan gas beracun. Sehingga ketika bencana terjadi, evakuasi dibutuhkan secepatnya untuk menyelamatkan penduduk dari bahaya-bahaya tersebut. Meskipun begitu, hal itu tidak mengurangi jumlah wisatawan yang berkunjung di daerah ini. Tercatat antara tahun 2008-2016 terdapat 167.457 wisatawan domestik dan 1.664 wisatawan mancanegra berkunjung ke destinasi ini (Pentingsari,2016). Dengan tingkat kunjungan yang tinggi, Doto Yogantoro, ketua kelompok sadar wisata desa wisata Pentingsari mengatakan bahwa diperlukan usaha-usaha untuk mengurangi dampak bencana erupsi demi keberlanjutan industri pariwisata di desa ini.
Sebelum erupsi Merapi tahun 2010, pengelola desa wisata Pentingsari tidak memiliki kesadaran terhadap efek bencana terhadap pariwisata. Doto Yogantoro menyebutkan bahwa saat terjadi erupsi, terdapat 80 wisatawan yang mengambil paket live in selama 7 hari. Di hari pertama wisatawan datang, tour leader kelompok ini mendapatkan kabar dari orang tua wisatawan mengenai bencana Merapi yang tersiar di media. Sehingga, wisatawan panik dan pengelola memutuskan untuk mengabil tindakan-tindakan yang telah dipelajari sesuai dengan prosedur emergency rescue.
“Saat itu ada 80 orang, kami berusaha untuk mengamankan mereka (wisatawan) dahulu, baru kami. Karena kami memiliki tanggung jawab sebagai bisnis hospitalitas. Kita harus membuat mereka merasa aman dulu baru nanti kita-kita. Itu konsekuensi bekerja di industri wisata.”[2]
Pada saat sebelum evakuasi, wisatawan membuat tindakan-tindakan yang tidak seharusnya dilakukan dan menghambat proses evakuasi seperti menangis, pingsan atau membuat keputusan yang tidak sesuai dengan prosedur emergency rescue. Hal tersebut membuat pengelola sadar bahwa proses emergency rescue wisatawan tidak sama dengan proses emergency rescue untuk warga sekitar desa wisata Pentingsari. Proses evakuasi kemudian dilakukan secepatnya ke Universitas Islam Indonesia (UII) yang terletak di Jalan Kaliurang.
“Ada beberapa turis yang mulai menangis atau pingsan waktu terjadi gempa bumi. Ada juga yang mengambil posisi pemimpin tanpa tahu prosedurnya. Itu kan hal yang ngga boleh karena mereka bukan pengelola”[3]
Semenjak kejadian tersebut, pengelola mulai bahwa mereka harus mempertimbangkan fenomena alam di sekitarnya. Desa wisata Pentingsari mulai mengikuti forum-forum kebencanaan dan bekerja sama dengan pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Usaha-usaha yang mereka lakukan meliputi : mengikuti berbagai forum komunikasi area gunung Merapi (e.g Forum Jalin Merapi), mengikuti workshop dan training yang diberikan pemerintah, dan membuat sistem koordinasi dengan kedua lembaga tersebut, serta mengedukasi warga, pengelola dan wisatawan.
“Awalnya kami tidak sadar kalau Pentingsari berada di kawasan rawan bencana. Yang kedua kami tidak punya pilihan untuk pergi (dari desa Pentingsari). Jadi, semenjak erupsi 2010 kami harus mulai berteman dengan bencana yang terjadi di sini.”[4]
Namun, dengan tidak adanya aktifitas vulkanis yang mengancam setelah tahun 2010, pemberian edukasi kepada wisatawan mulai tidak konsisten. Tidak semua wisatawan yang berkunjung mendapatkan pengetahuan mengenai kebencanaan. Hal tersebut dibuktikan ketika, Wafi, siswa SMA 1 Angkasa Jakarta ditanyai mengenai pengetahuannya akan kebencanaan. Wafi tidak mengerti bahwa Pentingsari terletak di kawasan rawan bencana gunung Merapi. Ia tidak mendapat pengetahuan bahwa desa tersebut mengalami bencana di tahun 2010. Ketika ditanya mengenai usaha penyelamatan diri, Wafi tidak mengerti prosedur yang harus ia lakukan. Hal yang serupa diungkapkan oleh dua siswi dari SMA N 8 Yogyakarta, Silvi dan Vira. Mereka hanya mengetahui informasi mengenai erupsi Merapi namun tidak mengetahui mengenai prosedur penyelamatan diri. Ketiganya mengakui bahwa diperlukan informasi mengenai hal tersebut, karena mereka tidak mendapatkannya baik dari pihak tour and travel, sekolah maupun desa wisata Pentingsari.
Berbeda dengan ketiga siswa SMA diatas, Kuntoro Adi, Mahasiswa UGM mengatakan bahwa ia mengetahui dasar-dasar penyelamatan diri karena ia pernah tertarik untuk mempelajari kebencanaan. Ia tidak mendapatkan informasi langsung sebagai wisatawan mengenai penyelamatan diri, tapi ia dapat mengaksesnya di Internet. Menurutnya, diperlukan informasi mendetail mengenai kebencaan namun tidak membuat wisatawan merasa terancam dan takut. Selanjutnya, wisatawan dari latar belakang umur yang lebih dewasa, Supeno, guru dari SMA 1 Angkasa Jakarta, menyadari ancaman dari gunung Merapi dan sepenuhnya mengetahui informasi mengenai kebencanaan dari berita dan pengalaman pribadi. Ia berpendapat bahwa sangat diperlukan informasi untuk wisatawan di setiap daerah rawan bencana mengenai penyelamatan diri terutama di destinasi yang pernah mengalami bencana dan telah memakan korban.
Faulkner (2001) memecah aspek edukasi menjadi beberapa hal yaitu edukasi mengenai lokasi, emergency rescue, evakuasi dan cara beradaptasi. Desa wisata Pentingsari mengedukasi wisatawan secara lisan dengan tidak menentu, sehingga tidak semua wisatawan mengetahui informasi mengenai penyelamatan diri. Selain itu, pengelola jarang memberikan edukasi mengenai emergency rescue, evakuasi dan cara beradaptasi. Desa wisata Pentingsari harus mengetahui bahwa wisatawan datang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Tidak semua wisatawan memiliki kesadaran untuk mengakses informasi mengenai kebencanaan karena mereka berwisata untuk aktifitas leisure yang umumnya tidak memikirkan ancaman-ancaman yang terjadi di destinasi tersebut. Karena itu diperlukan usaha-usaha untuk mengedukasi wisatwan baik secara lisan maupun di media. Selain usaha-usaha dari pengelola, wisatawan juga harus mengedukasi diri mereka terlebih dahulu dan menyadari potensi fenomena yang tidak terduga di lokasi mereka berwisata, sehingga mempermudah pemberian edukasi dari pihak pengelola destinasi wisata.
[1] http://news.liputan6.com/read/2044151
[2] Interview with Doto Yogantoro, 15 November 2016 in Pentingsari Tourism Village
[3] Interview with Hendi Hidayat and Agus OG (tour guide of Pentingsari), 17 November 2016
[4] Interview with Doto Yogantoro, 15 November 2016 in Pentingsari Tourism Village
Bencana dan Mitigasi Bencana: Sudahkah Dusun Tekelan Berbenah Diri?
Jalur Tekelan terletak di Dusun Tekelan berjarak beberapa ratus meter setelah daerah Kopeng. Di dusun tersebut, bencana alam menjadi hal lumrah dan wajar bagi warga lokal mengingat posisi geografis dusun yang berada di lereng Gunung Merbabu. Selama perjalanan menaiki bus mini menuju pertigaan Kopeng, dapat dijumpai beberapa titik di kanan jalan yang longsor akibat hujan deras yang mengguyur Merbabu setiap hari tepatnya hampir tiap sore hingga malam. Komposisi tanah yang gembur dan vegetasi yang akar-akarnya renggang menjadi faktor kedua setelah hujan deras disertai angin kencang sehingga rawan longsor. Sampai di Basecamp, hal pertama yang tim observasi adalah aksesibilitas dan amenitas. Aksesibilitas terlihat dari jalanan yang lumayan bagus untuk dilalui kendaraan umum dengan tonase terbesar adalah truk ukuran sedang dikarenakan lebar jalan tidak besar. Amenitas dilihat dari nyaman dan tidaknya fasilitas dari pihak basecamp dan menurut tim, jika dilihat dari fasilitas yang sudah disediakan sudah lumayan dan sehendaknya pihak pengelola harus terus berbenah mengingat belum disediakannya kotak saran di basecamp.
Ai selaku koordinator Observasi dan Pengabdian Masyarakat terlebih dahulu membriefing dan menambahkan beberapa detail spesifikasi wawancara untuk memudahkan tim dalam upaya observasi metode wawancara ke warga lokal dengan beberapa kriteria yakni;
| No | Daftar Pertanyaan Wawancara | Spesifikasi Narasumber | |
| 1 | Apakah Bapak/Ibu/Saudara/i mengetahui mitigasi bencana/upaya penanganan bencana? | Rentang usia 15 – 70 tahun.
Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. |
|
| 2 | Bencana apa yang kerap terjadi di jalur Tekelan? Kabarnya sering bencana longsor, apakah benar? | Penduduk adalah warga lokal, yang menetap di dusun tersebut atau daerah sekitarnya di Jalur Tekelan. | |
| 3 | Bagaimana cara menghadapi bencana alam tersebut, misalnya longsor? | ||
| 4 | Apakah ada pihak lain yang ikut dalam usaha mitigasi bencana terkait longsor atau lainnya? | ||
Jumlah anggota tim yang hanya 6 orang kala pendakian, dibagi lagi menjadi 3 tim kecil guna mencapai target narasumber minimal 3 orang dan efisiensi waktu karena wawancara dilaksanakan pada malam hari.
Dari beberapa warga lokal yang telah diwawancarai, anggota tim hampir tidak mendapatkan kendala berarti dalam proses wawancara. Banyaknya warga lokal yang mampu berbicara bahasa indonesia, menunjang percakapan sehingga berjalan lancar. Pengetahuan dasar mengenai mitigasi bencana, bencana alam yang kerap terjadi di Jalur Tekelan dan sekitarnya, serta usaha konservasi pun telah diajarkan kepada warga lokal langsung dari mahasiswa pecinta alam, pihak kehutanan hingga komunitas penggiat konservasi lingkungan.
Pondasi cinta lingkungan pun telah dibangun di struktur pengembangan pemuda desa, seperti melalui Komunitas Putra Syarif yang bergerak dalam bidang lingkungan. Aksesibilitas dan amenitas yang telah disediakan di jalur Tekelan sudah optimal, sehingga berkorelasi pada peningkatan jumlah pendaki dan wisatawan tiap tahunnya.
Dusun tekelan telah berbenah diri dan setidaknya dapat menghadapi bencana alam yang lazimnya terjadi seperti longsor, pohon tumbang, banjir dan kebakaran hutan. Peran pemerintah yang disinergikan komunitas lokal adalah langkah jitu dalam upaya mitigasi bencana. Sebagai stakeholder keduanya mempunyai peran penting dan tidak terpisahkan. Berbenah diri tidak akan maksimal jika warga lokal membangun seorang diri. Mitigasi bencana adalah sebuah sistem yang di dalamnya mencakup berbagai komponen berkaitan. Lantas sudahkan Tekelan berbenah diri? Pasti.
Kami juga melanjutkan membersihkan jalur pendakian, dengan banyaknya sampah dari pendaki membuat kami harus membersihkan apa yang seharusnya tidak ada dan dibuang di alam.
Suwanting, layakkah menjadi sebuah jalur pendakian ??
Merbabu, Gunung yang mencakup 2 kabupaten ini menjadi ikon terbaru pendaki sebagai tempatnya menepi, mendaki dan mengabadikan momen bersama kawan. Sabana hijau yang luas membentang membuat minat pendaki kian meningkat, terlebih memiliki 5 jalur dengan ciri khas yang berbeda ditiap-tipa jalurnya. Sedikit mengulas tentang Merbabu kali ini kami akan sedikit banyak memaparkan problem yang dihadapi oleh Gunung Merbabu terkhusus Jalur Pendakian Via Suwanting. Sama seperti dengan jalur-jalur yang lainnya, Suwanting juga memiliki pos basecamp, warung makan, toilet, pos administrasi, dan beberapa fasilitas lainnya untuk standar jalur pendakian pada umumnya.
Melihat dari Suwanting yang beralamat lengkap di Kelurahan Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Suwanting memiliki sisi khas tersendiri yang tak dimiliki oleh jalur lainnya, yakni Sabana indahnya sepanjang jalur pendakian pos 3 hingga puncak suwanting. Dari situ bisa diketahui jika Suwanting menarik pendaki untuk mengunjungi Merbabu Via Suwanting, mengangkat kasus tersebut mau tidak mau kesiapan dari pihak pengelola harus mencakup fasilitas yang berada dibasecamp dan kondisi fisik jalur yang sesuai dengan Standar Umum Jalur Pendakian Gunung di Indonesia. Nah, maka dari itu kami selaku tim suwanting yang telah melakukan observasi diarea basecamp pada tanggl 20-21 Februari 2017 dan observasi lapangan pada 3-5 Maret 2017 Dari hasil observasi yang kami lakukan, kami mengamati begitu banyak kekurangan yang seharusnya sudah disiapkan sejak awal sebelum jalur pendakian dibuka secara resmi.
Yang sangat mencolok dari jalur pendakian Gunung Merbabu via Suwanting adalah pada fasilitas disekitar basecamp dan kondisi fisik jalur serta keberadaan sampah disekitarnya, yang mana fasilitas disekitar basecamp yang mencakup pos kesehatan, pos keamanan, pos administrasi, warung makan, alat komunikasi, tempat pengambilan air, kamar mandi, dan tempat ibadah ternyata masih belum memadai keberadaanya. Yang terekam dari pemantauan kami selama berada dibasecamp hanya kami dapati basecamp, kamar mandi, warung makan, tempat ibadah,dan tong-tong sampah. Namun, tong sampah hanya khusus untuk warga karena keberadaannya yang tersedia disetiap bagian depan rumah warga. Jadi untuk fasilitas lainnya seperti tempat pengelolaan sampah kami rasa masih sangat kurang keadaannya. Disisi lain Basecamp Suwanting secara sosial masyarakatnya sudah cukup baik, berdasarkan informasi yang kami dapat dari salah satu warga yang kebetula sedang berjaga dipos administrasi, untuk tiap RT yang berada dikelurahan Banyuroto penjagaan Basecampnya dirolling duap harinya per RT, dan tiap RT yang berjaga memiliki hak penuh atas pendapatan dari pengelolaan perharinya. Juga, briefing yang menurut kami perlu dilakukan oleh pihak pengelola kepada pendaki masih belum kami dapati kegiatanya, padahal tidak semua pendaki memahami kondisi fisik jalur pendakian dan camp site disetiap posnya.
Masuk kepada bagian kondisi fisik jalur yang mencakup papan pemberitahuan kawasan Taman Nasional, papan larangan, papan pemberitahuan pos, dan tempat pembuangan sampah. Sayang sangat disayangkan jalur pendakian suwanting masih belum bisa dikatakan layak, melihat kondisi papan yang hanya berada dipos 1, sedangkan papan larangan, pemberitahuan kawasan dan pemberitahuan pos masih sangat kurang, bahkan kodisinya ditiap pos bayangan ataupun pos utama sangat buruk keadaannya yang mana plank hanya tergeletak dan tergantung tanpa ada pengikatnya.
Tempat pembuangan samaph khusus pun masih belum kami dapati keberadaannya sehingga dari dua fakta diatas berimbas pada sampah yang berserakan ditiap-tiap pos yang biasa digunakan pendaki untuk berhenti. Sangat disayangkan tidak adanya pemberitahuan diawal ketika pendaki masih berada dibasecamp terkait informasi medan jalur pendakian, juga informasi titik-titik rawan. Padahal kita semua tahu bahwasanya tak semua pendaki memahami medan, apalagi yang baru pertama kali dan dirombongannya belum ada orang yang dalam satu rombongannya pernah mendaki gunung merbabu via suwanting.
Dari poin-poin yang kurang mengenakkan berdasar fakta yang telah disebutkan diatas alangkah baiknya pihak pengelola basecamp mengadakan penutupan jalur pendakian untuk sementara waktu, yang mana dalam kurun waktu penutupan tersebut pihak mengelola melakukan evaluasi atas keadaan-keadaan yang kurang baik pada fisik jalur dan pencegahan kecelakaan terkait kondisi fisik yang memungkinkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pendaki terpeleset dijalur yang sebagian sisinya longsor dan rapuh namun tidak ada papan peringatan. Juga terkait dengan camp site pada tiap-tiap pos pemberhentian sementara ataupun pos utama bagusnya diperlebar area landainya untuk memadai pendaki mendirikan tenda. Selain 2 hal tersebut, juga sebaiknya dibuatkan plank yang berisi informasi nama pos, ketinggian, dan jarak tempuh menuju pos selanjutnya. Dari hal-hal tersebut pengelola akan secara sadar memahami bahwasanya medan yang selama ini telah digunakan lalu lalang pendaki menuju pos 3 sangat kurang layak untuk standar umum jalur pendakian.
Perihal standar pendakian juga perlu diperhatikan, seperti cek list logistik yang dibawa pendaki sebagai pengawasan dari pihak basecamp, mengenai apa saja yang dibawa pendaki. Apakah sudah mencukupi dan sesuai standar operasional prosedur pendakian atau maish kurang ? malah terkadang ada juga pendaki yang membawa logistik yang melenceng dari peraturan seperti minuman keras dan obat-obatan yang tidak diperlukan dikegiatan pendakian, dan memungkinkan akan menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. Menurut kami, hal-hal sederhana namun penting dampaknya itu perlu diperhatikan dan diadakan pengecekannya, sebab dari sana akan diketahui layak tidaknya seseorang mendaki dengan logistik yang dibawanya untuk bekal selama diperjalanan. Pula perihal sampah, wajib setidaknya diberikan satu tong sampah besar atau trashbag disetiap posnya beserta himbauan untuk menjaga kelestarian alam dengan menjaga area tetap bersih dan nyaman.
Meskipun begitu kami sangat menyadari bahwasanya proses untuk membenahi lebih sulit daripada mencegah, maka dari itu perihal seperti ini memang perlu kesadaran dari pihak pengelola bersama warga sekitar untuk bahu membahu membenahi demi terciptanya jalur pendakian yang aman, nyaman dan sesuai dengan standar operasional prosedur umum jalur pendakian resmi. Walaupun secara sosial masyarakat Dusun Suwanting sudah cukup baik dalam pengaturan jaga pos yang digilir tiap harinya per RT. Wajib diketahui secara menyeluruh setidaknya untuk staff pengelola basecamp perihal standar umum kelayakan jalur pendakian.
Menilik Fasilitas dan Tingkat Keamanan Basecamp Wekas, Gunung Merbabu
Gunung Merbabu adalah salah satu gunung api yang menjadi destinasi favorit bagi pendaki terutama pendaki pemula yang baru pertama kali mendaki gunung. Selain karena pemandangannya yang indah, jalur pendakian Gunung Merbabu juga tidak terlalu sulit. Sehingga banyak pendaki yang tertarik ikut mengabadikan pesona Merbabu. Gunung ini secara administratif teletak di Kabupaten Magelang pada lereng sebelah barat, Kabupaten Boyolali pada lereng sebelah timur dan selatan, serta Kabupaten Semarang pada lereng sebelah utara.
Salah satu jalur pendakian favorit adalah melalui Basecamp Wekas. Terletak di Kampung Kedekan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Dari jalan utama Magelang Salatiga menuju basecamp hanya membutuhkan waktu 15 menit menggunkan kendaraan bermotor. Akses jalan menuju basecamp pun terbilang mudah, tanjakkan yang dilewati juga tidak terlalu curam. Banyak pula papan penunjuk arah yang memudahkan pendaki menuju basecamp.
Sampai di lokasi basecamp, akan terlihat banyak rumah warga yang dijadikan tempat beristirahat para pendaki. Hal tersebut menjadi tambahan rezeki tersendiri bagi warga sekitar. Basecamp yang kami huni adalah milik Pak Purwanto. Fasilitas di basecamp termasuk lengkap. Ada tiga ruangan terpisah yang disediakan bagi rombongan pendaki yang mampu menampung sekitar 50 orang. Terdapat warung yang menyediakan makan berat maupun snack dan minuman hangat, serta peralatan outdoor dan alat pendakian. Kekurangan dari basecamp Pak Purwanto adalah toilet yang hanya ada satu ruang. Hal ini cukup mengganggu jika banyak rombongan ingin menggunakan toilet di waktu yang bersamaan. Bagi yang tidak mau mengantre, tidak jauh dari basecamp disediakan toilet umum yang dikelola waga sekitar. Toilet umum ini juga sebagai tempat pengambilan air sebelum memulai pendakian. Di basecamp ini juga dilengkapi dengan peta jalur pendakian yang tertempel di halaman luar.
Kondisi lingkungan sekitar basecamp terlihat terawat dengan baik. Meskipun belum terdapat tempat pengelolaan sampah, tapi tidak ditemukan sampah bertebaran di lingkungan sekitar basecamp. Hal ini didukung oleh kesadaran masyarakat sekitar tentang kebersihan lingkungan.
Menurut penilaian kami, jika dilihat dari apa yang disediakan oleh pemilik basecamp, fasilitas yang ada di basecamp wekas sudah baik. Namun, ada beberapa hal yang menurut kami kurang. Terutama pada tingkat keamanan karena letak pos keamanan yang tidak kami ketahui keberadaannya. Hal tersebut mungkin disebabkan lingkungan yang masih aman dan petugas ronda yang berkeliling tiap malam. Juga letak puskesmas yang terbilang cukup jauh dari basecamp. Jika terjadi gangguan kesehatan, pihak basecamp hanya melarikan penderita ke mantri desa. Sehingga belum ada kejelasan terkait.
Solusi yang ada menurut kami yaitu sebaiknya disediakan pos keamanan. Walaupun dirasa aman, menurut kami dengan adanya pos keamanan dapat mempermudah para pendaki yang ingin melapor jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan. Begitu pula dengan pos kesehatan, bukan hanya disediakannya pos kesehatan tetapi juga diperlukan adanya petugas medis yang siaga di pos tersebut.
Gunung Merbabu Tak Bisa Terus-terusan Jadi Tempat Sampah
Oleh : Endang Sri Nugroho
Di Provinsi Jawa Tengah terdapat sebuah gunung yang hampir tak pernah sepi yaitu Gunung Merbabu. Jika dalam kondisi normal atau layak daki, ratusan pendaki akan bertamu di gunung ini setiap harinya. Gunung dengan ketinggian 3.142 mdpl ini terletak di beberapa wilayah kabupaten di Jawa Tengah yakni Boyolali, Magelang, Salatiga, dan Semarang. Gunung Merbabu merupakan salah satu pendakian favorit di Pulau Jawa dikarenakan pemandangan yang disuguhkan begitu indah ditambah lagi tingkat kesulitan pendakian tidaklah tinggi. Terdapat banyak puncak di gunung ini yaitu Puncak Ondorante, Puncak Gegersapi, Puncak Watutulis, Puncak Watugubuk, serta tiga puncak utama yakni Puncak Syarif (3119 mdpl), Puncak Triangulasi (3142 mdpl), dan Puncak Kentengsongo (3142 mdpl). Gunung Merbabu juga memiliki 5 kawah yaitu Kawah Sambernyowo, Kawah Rebab, Kawah Kendang, Kawah Kombang, dan Kawah Condrodimuko. Pendakian menuju puncak dan kawah-kawah tersebut dapat ditempuh melalui 5 jalur alternatif, yang paling terkenal ialah Jalur Selo diikuti Jalur Thekelan, Jalur Chuntel, Jalur Swanting, dan Jalur Wekas.
Mengingat tingkat kesulitan pendakian yang cukup rendah maka gunung ini dijadikan pilihan pendakian yang pas bagi para pemula. Pendaki yang mengunjungi lokasi ini pun banyak berasal dari luar Jawa bahkan luar luar negeri. Apalagi di hari-hari besar atau libur panjang, bukan hal yang sulit untuk menemui begitu banyak pendaki hampir di sepanjang jalur pendakian. Melihat fenomena ini, masuk akal jika makin banyak pendaki yang berkunjung maka semakin banyak juga sampah yang menggunung di tempat tersebut. Meskipun Gunung Merbabu telah banyak dilabeli sebagai gunungnya para pemula namun hal tersebut tak seharusnya menjadi alasan untuk bebas membuang sampah sembarangan. Ditambah lagi menurut pengalaman saya saat berkunjung ke gunung ini, masih banyak dari mereka yang sudah sering mendaki bahkan komunitas yang bertitel pencinta alam pun terkadang tak lepas dari kebiasaan buruk ini dan tidak dapat menjadi contoh yang baik bagi para pendaki pemula.
Modern ini, kecanggihan tekhnologi telah berkembang pesat. Keinginan untuk mencapai puncak gunung, mengabadikan momen dengan kamera dan mengunggahnya di media sosial tanpa disadari menjadi alasan utama banyak pendaki modern ini tanpa menilik kembali tujuan mendaki gunung yang sebenarnya. Lebih mengharukan lagi adalah ketika mereka berbondong-bondong berburu foto yang indah tanpa menyadari tanggung jawab mereka sebagai pendaki yakni menjaga kebersihan lingkungan. Miris sekali rasanya ketika di depan mata kami sebagian dari mereka dengan santainya membuang bungkus makanan ringan, bungkus permen, putung rokok, dan botol kosong di sepanjang jalur pendakian tanpa merasa berdosa. Entah apa alasanya, apakah karena benar-benar tidak peduli dengan kebersihan lingkungan, tidak menyadari dampak dari perbuatan mereka terhadap kerusakan ekosistem hutan atau semata-mata hanya karena rasa malas membuang sampah pada tempatnya. Budaya buang sampah sembarangan ini terjadi karena mental masyarakat yang terbiasa melakukan hal tersebut sehingga kebiasaan ini terbawa saat mendaki gunung.
5 Maret 2017 kurang lebih pukul 16.00 WIB, kami yang terdiri dari 9 calon anggota muda beserta 3 anggota pendamping kegiatan Wajib Gunung Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Gadjah Mada (Mapagama) berkumpul di tengah Sabana 2 Gunung Mebabu yang tengah diselimuti kabut. Usai mengemasi tenda dan berbagai logistic tim ke dalam carrier, briefing yang dipimpin oleh Koordinator Lapangan pendakian tim kami pun resmi dimulai. Beberapa hal penting disampaikan di tengah briefing tersebut, tak lupa salah satu poin dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pengabdian kepada Masyarakat. Sebagai bentuk tanggung jawab kami selaku mahasiswa pecinta alam terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi maka kami memilih upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai bukti nyata dari pengabdian tersebut. Selain itu upaya ini kami lakukan untuk memberi contoh baik pada pendaki-pendaki lainnya yang nampak kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan minimal agar membuang sampah pada tempatnya. Selembar trashbag hitam kini ada di genggaman tangan masing-masing dari kami. Seusai menutup briefing satu per satu dari kami mulai meninggalkan Sabana 2 dan mendaki turun menuju basecamp melewati jalur Selo. Sungguh mengejutkan ketika kami menyadari bahwa mengumpulkan sampah di sepanjang jalur pendakian Selo bukanlah hal yang sulit. Bahkan rasanya kapasitas ke-sebelas trashbag ukuran besar yang kami bawa pun masih jauh dari kata cukup untuk mengantongi sampah-sampah tersebut. Pemungutan sampah juga kami fokuskan pada titik-titik tertentu dengan gunungan sampah. Hal ini kami lakukan dengan tujuan untuk mematahkan anggapan liar pendaki lainnya bahwa gunungan sampah di atas gunung memang sengaja disediakan bagi mereka. Selain itu dari kasus yang kami temukan, sampah berbahan plastic sangat mendominasi di jalur Selo. Sehingga jenis sampah yang paling kami cara ialah sampah plastic mengingat dibutuhkan waktu hingga 500 tahun bagi alam untuk menguraikankannya. Sesampainya di kaki gunung, sampah-sampah yang berhasil kami kumpulkan segera kami buang di tempat pembuangan yang sengaja disediakan oleh warga setempat.
Mari bangun kepedulian dan kesadaran kita terhadap kelestarian serta kelangsungan ekosistem Gunung Hutan. Buktikan pada dunia bahwa pecinta alam bukanlah perusak alam !.
Eksplorasi Keindahan Surga Bawah Tanah Pacitan
Sepuluh orang mahasiswa yang tergabung dalam tim penelusuran gua MAPAGAMA dengan tajuk kegiatan Gladimadya Land of a Thousand Caves melakukan
Tambora yang Membangkitkan Gelora
Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada






