Hari kedua bertepatan pada hari Jumat. Sesuai dengan saran warga, kami memulai kegiatan setelah sholat Jumat. Kami memulai pergerakan pada pukul 14.00 WITA. Pergerakan dimulai di hutan yang berada di area Desa Bangkat Monteh. Perjalanan eksplorasi kami diisi dengan Haqqi sebagai leader, Lyan sebagai sweeper, Aza bertugas untuk melakukan tracking dengan aplikasi Avenza, dan Larisa bertanggung jawab atas dokumentasi. Ketika kami memasuki hutan, kami terkagum-kagum dengan kenampakan yang terdapat di sana karena sangat berbeda dengan apa yang ada di DIY. Tiang-tiang karst yang jarang kami jumpai baik di Panggang maupun Purworejo berdiri dengan megah gagah menjulang tinggi ke langit. Batuan karst yang ikut menjadi isi dari hutan yang didominasi dengan pepohonan dengan banir besar juga sangat menarik di mata karena putihnya warna batuan serta susunannya yang indah.
Setelah beberapa saat berjalan, kami menemukan Gua Batu Barisan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju gua yang masih merupakan jajaran gua sebelumnya. Kemudian, di gua ketiga ini, kami menemukan gua yang cukup besar dan panjang dibandingkan dengan yang kami temukan sebelumnya. Gua tersebut bernama Gua Prenang Selan. Kami memutuskan untuk melakukan eksplorasi selama satu jam. Gua ini merupakan gua berair dengan aliran air outlet dan terdapat beberapa kolam di dalamnya yang apabila musim kemarau kedalamannya sekitar satu meter. Mulut gua yang kami masuki memiliki lebar 4 meter dan tinggi 2 meter. Ketika masuk, kami menemui lorong berbelok ke kanan dan setelahnya kami harus melewati beberapa kolam dengan rata–rata sedalam satu meter. Kemudian di kolam terakhir, kami menemui dua lorong. Pada eksplorasi kali ini, kami memutuskan untuk mengeksplor lorong kanan yang lebih lebar. Kami memutuskan untuk mengambil lorong kanan karena kami kira lorong kiri hanya sebuah chamber saja. Setelah berjalan ke lorong kanan, kami menemukan dua vertical entrance yang tingginya sekitar lima meter. Di entrance tersebut, kami melakukan penandaan pada peta. Setelah itu, kami melakukan fotografi hingga tiba waktu kami harus keluar. Sesudah itu, kami kembali melanjutkan eksplorasi. Namun, gua yang akan kami datangi ternyata memiliki medan yang cukup ekstrim sehingga kami memutuskan untuk melakukan penandaan dari jarak yang dapat kami tempuh saja. Setelah itu, karena hari sudah mulai petang, kami memutuskan untuk kembali. Sebelum kembali ke basecamp, kami mampir ke rumah sekretaris desa untuk sekedar istirahat dan ngobrol. Sekitar pukul 18.00 WITA, kami memutuskan untuk pamit kembali ke basecamp karena keadaan kami yang basah kuyup dan kotor. Sesampainya di basecamp, kami bergegas untuk melakukan bersih–bersih diri, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi harian dan briefing untuk kegiatan esok harinya. Pada pukul 21.30 WITA, kami sudah beristirahat sesuai SOP yang telah ditentukan.
Hari esoknya berbeda dari hari sebelumnya. Kami memulai pergerakan dari pagi hari sekitar pukul 09.00. Kami memulai eksplorasi di pinggiran desa Bangkat Monteh dan di sana kami menemukan dua buah gua yang berjejeran. Gua tersebut bernama Gua Taloyo 1 dan Gua Taloyo 2. Kami melakukan eksplorasi dan fotografi gua selama satu jam pada masing-masing gua. Di gua Taloyo 1, kami menemukan beberapa makhluk hidup seperti kelelawar, burung walet, kolo cemeti, dan lain-lainnya. Di gua ini, kelelawar gua berkerumun di sepanjang lorong gua sehingga kami sering kali bertabrakan dengan mereka saat melalui lorong-lorong gua tersebut. Burung walet dan sarangnya juga banyak dijumpai di sana. Setelah kami melakukan eksplorasi gua tersebut secara keseluruhan, dapat di deskripsikan bahwa gua tersebut memiliki dua lorong. Lorong ke kiri memiliki panjang sekitar 7 meter hingga 10 meter yang dapat dilalui dengan berdiri tetapi cukup sempit dan lorong ke kanan sepanjang 40 meter dilalui dengan jalan jongkok dan membungkuk. Setelah melakukan fotografi di berbagai spot, kami melanjutkan eksplorasi di Gua Taloyo 2. Di Gua Taloyo 2, terdapat dua mulut gua yang berdampingan dipisahkan oleh chamber kecil di tengahnya yang memiliki lubang tembus sehingga menambah keindahan gua tersebut. Gua ini hanya memiliki satu lorong yang dilalui dengan jongkok dan semakin dalam sehingga kami harus tiarap. Karena jalur yang dilalui sangat sempit dan fokus kegiatan kita adalah eksplorasi permukaan, maka kami memutuskan untuk tidak melanjutkan eksplorasi lebih dalam lagi. Setelah satu jam, kami bergerak melanjutkan perjalanan menuju ke Desa Rarak. Kami diajak ke kebun kopi dan di sana kami menemukan dua gua. Selama perjalanan, kami melewati permukiman yang masih origin dimana rumah-rumah di sana masih menggunakan rumah panggung. Uniknya, hanya penduduk desa ini yang warganya masih menggunakan rumah panggung semua. Desa ini merupakan desa paling atas di Brang Rea. Selama perjalanan, kami cukup terkagum-kagum dengan desa tersebut, sehingga kami akhirnya tiba di tujuan kami yaitu Ai Kolan. Sesampainya di sana, kami memutuskan untuk melakukan makan siang dan beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan eksplorasi kami. Hingga jam sudah menunjukan pukul 13.00 WITA, kami memutuskan untuk memulai eksplorasi kembali. Di sini terdapat dua gua yang keduanya bernama Gua Jepang. Di gua pertama, terdapat satu mulut gua yang hanya ada satu ruangan dengan panjang sekitar 7 meter saja, gua tersebut merupakan gua kering yang harus dimasuki dengan jalan jongkok. Di gua ini, Haqqi, Gandhi, dan Lyan bertugas untuk eksplorasi dan Larisa bertugas untuk dokumentasi, sedangkan yang lain menunggu di luar gua. Eksplorasi gua ini hanya memakan waktu kurang dari lima belas menit. Untuk gua kedua, tim yang masuk adalah Gandhi, Haqqi, Aza yang bertugas eksplorasi, dan Larisa yang bertugas untuk dokumentasi. Gua kedua ini memiliki panjang lorong yang lebih panjang, berkondisi kering, dan hanya memiliki satu mulut gua. Ketika masuk sekitar 5 meter dengan entrance yang sedikit curam dan batuannya lepas, kami dapat melihat di sebelah kiri terdapat chamber kecil dan di sebelah kanan ada lorong sedalam 10 meter dan buntu. Kami memasuki gua ini dengan jalan jongkok. Di lorong belok kanan ini, kami harus berhati – hati untuk berjalan masuk karena batuannya yang lepas sehingga mudah untuk longsor. Kami berada di gua ini sekitar selama tiga puluh menit. Setelah itu, kami diajak Bang Ecky untuk ngopi di Kopi Rarak karena Rarak ini terkenal dengan kopinya. Di sana, kami disambut baik oleh pemiliknya. Kami berbincang-bincang dengan pemilik dan tamu lain mengenai berbagai hal, terutama kegiatan kita selama di Sumbawa Barat ini. Setelah kopi kami sudah mulai habis disandingi waktu yang terus berjalan, kami memutuskan untuk pamit. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat berfoto-foto dahulu dengan pemilik warung kopi tersebut dan sempat menempelkan stiker kami di sana. Setelah itu baru kami benar-benar undur diri. Sebelum pulang, kami diajak untuk mengunjungi air terjun Petung Mampis. Untuk melihat keindahan air terjun ini, kami perlu tracking yang memakan waktu sekitar lima belas sampai tiga puluh menit dengan jalan yang lumayan naik turun dan melewati sungai, sawah, dan kandang. Kelelahan kami terbayarkan dengan melihat indahnya Air Terjun Petung Mampis yang cantik dengan ketinggiannya mengalir cukup deras. Kami berdiam diri di sana cukup lama, hanya duduk – duduk ataupun mendokumentasikan diri. Waktu yang semakin sore, kami memutuskan untuk kembali ke basecamp. Kami sampai basecamp sekitar pukul 16.30 WITA. Sesampainya di sana, kami langsung melakukan bersih diri secara bergantian dan istirahat. Pukul 19.20 WITA sampai pukul 19.40 WITA, kami melakukan evaluasi kegiatan harian dan setelahnya kami langsung diajak Bang Ecky dan Kak Pia untuk makan di luar. Sekitar pukul 20.00 WITA, kami berkendara menuju Taliwang ke rumah makan yang sudah kami pesan sebelumnya. Sesampainya di tempat makan tersebut, kami mendapatkan rasa kecewa karena menunya hampir 80% tidak ada dan menu yang sudah dipesan pun jauh dari ekspektasi. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah tempat makan. Di tempat makan kedua ini, kami melakukan briefing mengenai teknis kegiatan besok harinya bersama dengan Bang Ecky, Kak Pia, dan Irul karena kegiatan besok rencana awalnya terlibat dengan beberapa warga desa dan Pokdarwis. Setelah selesai makan malam dan briefing, kami diajak untuk bersenang senang melepaskan stres dengan berkaraoke. Di samping itu, kami berkaraoke karena menghindari kegiatan razia yang dilakukan malam itu. Razia tersebut dilakukan untuk melakukan pengecekan kepada para pengguna jalan apakah mereka membawa barang – barang terlarang dan berbahaya atau tidak. Namun lucunya sekitar tiga ratus meter dari tempat razia terdapat balap liar yang terlaksana dengan aman – aman saja. Apesnya, setelah kami selesai karaoke pun razia tersebut masih berjalan. Beruntungnya, kami dibantu pemilik karaoke tersebut sehingga kami lolos dari razia. Kami baru sampai basecamp pukul 23.30 WITA. Sebelum istirahat, kami sempat melakukan briefing internal tim untuk acara besok. Tepat pukul 00.00 WITA kami memutuskan untuk istirahat.
bersambung ke Episode ketiga Cerita Saniskala
Gegap Bijak Gandhi, Tim Gladimadya Penelusuran Gua: Saniskala – Surga Tana Samawa, 2022.
Pagi hari tanggal 12 Agustus 2023 tim menambah kegiatan eksplorasi permukaan ke Desa Lanne. Tim ditemani tiga warga lokal, yaitu Kak Saridah, Kak Ainun, dan bapak kepala dusun. Sebelum menuju Desa Lanne, tim mampir terlebih dahulu ke warung untuk mengisi bensin dan membeli air minum. Namun, saat di perjalanan, motor yang dikendarai Gandhi dan Haqqi mengalami bocor ban di depan Kantor Desa Bonto Birao. Anggota tim yang berada di warung pun sedikit terkejut sebab pergi ke bengkel di desa ini akan menjadi lebih sulit karena jalanan yang rusak. Untungnya saat itu di kantor desa ada banyak orang karena sedang ada kerja bakti, sehingga Gandhi dan Haqqi dibantu untuk menambal bannya yang 
Kapal pun berangkat dari Pelabuhan Makassar sekitar pukul 03.00 WITA dan perjalanan diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih selama 24 jam. Selama di kapal, tim menghabiskan waktu sama seperti pada saat keberangkatan, ada yang menonton film, membaca novel, dan menikmati pemandangan dari atas kapal. Akhirnya, tim tiba di Pelabuhan Tanjung Perak pada 17 Agustus 2023 sekitar pukul 03.00 WIB dan tim segera keluar dari Pelabuhan. Tim menunggu Mama Kaizan dan supir yang akan menjemput kurang lebih selama 1 jam. Setelah mobil yang menjemput tiba, tim segera memasukkan barang-barang ke dalam mobil lalu mampir untuk membeli makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Kaizan. Setelah makan, tim menuju ke rumah Kaizan untuk bersih diri dan beristirahat sebentar. Pukul
Hari kedua berada di Desa Bonto Birao, tim melanjutkan kegiatan lapangan akhir dengan pemetaan Leang Pa’niki. Pemetaan Leang Pa’niki dianggarkan selama lima hari hingga tanggal 12 Agustus 2023. Tentu saja sebelum berangkat pemetaan, tim mengisi perut terlebih dahulu. Hidup berdampingan dengan tim KKN dari Unhas dan keluarga kepala desa sendiri menjadikan tim harus bekerja sama dalam penyediaan pangan untuk seluruh personel yang tinggal di rumah ini. Dengan jumlah penghuni mencapai 19 orang, pagi hari pun digunakan untuk bergelut di dapur bersama tim dapur KKN Unhas. Sedikit obrolan dengan tim KKN Unhas menghasilkan beberapa informasi penting bagi tim, salah satunya adalah tidak adanya warung yang menjual sayur di sekitar desa. Konsumsi sayur masyarakat Bonto Birao sepenuhnya bergantung pada mobil pick-up penjual sayur yang berkeliling dengan jadwal tak menentu. Atau jika memungkinkan, beberapa hari sekali kepala desa akan meminta tolong orang-orangnya untuk berbelanja sebab rumah kepala desa tidak pernah sepi kunjungan sehingga harus selalu tersedia bahan makanan. Pasar di desa ini hanya ada di hari Jumat, pun sering tak menentu sebab bergantung pada para pedagang yang mau naik ke desa ini. Pengaturan konsumsi tim selanjutnya pun harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Beruntungnya, tim telah membawa bahan makanan sehingga stok bahan pangan untuk setidaknya dua hari sudah aman. Pada hari pertama pemetaan ini, salah satu anggota KKN Unhas dan beberapa warga lokal turut menemani tim. Seluruh anggota tim kecuali Azarya masuk ke dalam gua, sedangkan Azarya berjaga di mulut gua ditemani oleh Kak Babul dan beberapa pemuda sekitar. Dari informasi yang didapatkan tim, Leang Pa’niki termasuk gua dengan aliran air yang digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat sekitar juga sering masuk untuk menangkap ikan. Memasuki Leang Pa’niki, tim disambut dengan
Hari berikutnya adalah saat untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tim memulai persiapan dari pukul 07.00 WITA. Kegiatan Tri Dharma ini berlokasi di balai desa yang berada tepat di depan lapangan desa. Balai desa memiliki posisi bangunan yang lebih tinggi daripada lapangan yang pada saat itu adalah hamparan luas rumput yang menguning. Pegunungan di kejauhan dapat terlihat dari balai desa dan seolah menjadi latar pemandangan lapangan desa. Lapangan desa pada hari Jumat itu memiliki pemandangan lain, yaitu pasar dadakan. Pasar dadakan pagi itu hanya terdiri dari 2 mobil pick-up yang menjual kebutuhan pokok. Tim sungguh beruntung bisa menyaksikan pasar dadakan ini, sebab setiap Jumat pun belum tentu para pedagang mau naik ke desa yang jaraknya 2-3 jam dari pasar induk terdekat. Tri Dharma yang semula direncanakan pada hari Minggu harus berubah menjadi Jumat pagi sebab menyesuaikan kegiatan sehari-hari masyarakat sekitar. Akhir minggu digunakan untuk masyarakat pergi ke ladang dan pagi hari di hari Jumat menyesuaikan dengan waktu ibadah solat Jumat. Tri Dharma ini berbentuk sosialisasi yang berjudul “Tata Cara Pengajuan Kelegalitasan Nomor Izin Berusaha (NIB) sebagai Awalan dalam Memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR)” dengan sasaran masyarakat dan Karang Taruna Desa Bonto Birao, terutama yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya. Pada kegiatan Tri Dharma ini, Kaizan dan Jayu bertugas sebagai pemateri, Saphira sebagai MC, Binar sebagai operator dan notula, Azarya sebagai notula, serta Gandhi dan Haqqi sebagai dokumentasi. Setelah materi disampaikan oleh Kaizan dan Jayu, praktik langsung bersama masyarakat yang hadir juga dilakukan untuk mendapatkan NIB melalui aplikasi bernama OSS. Selama pembuatan NIB, beberapa orang mengalami kendala sehingga kondisi sempat sedikit hectic oleh ibu-ibu yang kebingungan. Namun, setelah dibantu oleh tim akhirnya NIB pun berhasil terbit. Masyarakat yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya terlihat sangat antusias untuk mendapatkan NIB ini sehingga mereka sangat senang saat NIB sudah berhasil terbit. Sebanyak sebelas NIB berhasil terbit dari masyarakat Bonto Birao yang dibantu oleh

Akhirnya dengan segala perjuangan, tim tiba di rumah Kepala Desa Bonto Birao pukul 00.30 WITA yang kemudian disambut oleh teman-teman KKN dari Universitas Hassanudin dan bapak kepala desa. Selayaknya bertamu pada umumnya, tim beramah-tamah dan akhirnya istirahat pada pukul 03.00 WITA. Bertemankan suara jendela dan
Pada saat melakukan eksplorasi ke dalam salah satu gua, ditemui ular berwarna merah yang sedang beristirahat pada dinding gua. Karena terkejut dan warga lokal yang menemani masuk takut dengan ular, tim segera memutuskan keluar gua dan melanjutkan kegiatan. Setelah menemukan beberapa gua, tim ishoma terlebih dahulu.Lokasi ishoma berada di sungai yang dengan air terjun kecil. Roti dan buah menjadi santapan siang sembari beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon dan menikmati segarnya air sungai. Setelah cukup beristirahat, tim melanjutkan kegiatan eksplorasi hingga ke desa sebelah. Selama melintasi jalanan desa yang tidak kalah buruk dari jalanan semalam, tim beberapa kali berhenti untuk mengambil footage dari tempat yang dirasa bagus, salah satunya adalah lahan dipenuhi batuan yang digunakan untuk melepas sapi-sapi coklat milik warga. Tempat itu seperti kastil sapi dan rupanya memang cukup ikonik di situ. Setelah menyusuri area eksplorasi, tim kembali ke rumah kepala desa lalu bersih-bersih, ramah tamah, eval, briefing, dilanjut dengan istirahat.
0 Comments