Agenda hari ini adalah pemetaan Air Terjun Ai Mual dan bertamu ke Kantor Sekretaris Daerah Sumbawa Barat. Kami melakukan pemetaan tepat pukul 07.00 WITA. Di pemetaan sungai kali ini, kami tetap menggunakan metode pemetaan gua forward method karena metode yang kami mampu dan cocok adalah itu. Di sini kami memetakan lebar sungai dan perbedaan kedalaman sungai dan ketinggian air terjun. Kami menyelesaikan pemetaan pada pukul 09.15 WITA. Setelahnya, kami kembali dan istirahat sejenak di basecamp. Sekitar pukul 10.00 WITA kami melanjutkan perjalanan ke Kantor Daerah KSB. Kami melanjutkan perjalanan tanpa Isma karena dia sakit dan tidak memungkinkan untuk ikut dengan kami. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam. Sesuai perjanjian, kami sampai di sana tepat pukul 11.00 WITA. Ternyata sekretaris daerah sedang ada pekerjaan di luar sehingga kami harus menunggu hingga sekitar pukul 12.30 WITA. Di sana kami berbincang – bincang mengenai kegiatan yang telah kami lakukan selama di Bangkat Monteh. Kami berbincang – bincang selama kurang lebih setengah jam. Setelahnya kami saling bertukar buah tangan dan berfoto bersama. Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang di Alun – Alun Taliwang sembari memikirkan tempat yang akan kami tuju selanjutnya. Setelah mencari – cari tempat kami akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke pantai. Perjalanan kesana memakan waktu kurang lebih satu jam dengan pemandangan yang mempesona di kanan kiri kami. Pantai ini bagaikan pantai pribadi karena sepi pengunjung. Ditambah lagi, kami mengambil tempat di pojok pantai sehingga hanya kami pengunjung yang ada di sana. Kami di sana cukup lama hanya sekedar main – main dengan ombak, memanjakan mata dengan melihat laut, dan mengabadikan momen. Di sana kami juga membuat ucapan ulang tahun untuk salah satu mapala yang sedang berulang tahun dekat – dekat tanggal itu. Setelah cukup puas memanjakan mata dan batin, kami kembali menuju basecamp. Sesampainya di basecamp kami bersih diri dan istirahat hingga pukul 20.00. Setelah itu kami melakukan evaluasi harian dan briefing untuk besok harinya.
Hari berikutnya sebenarnya adalah hari cadangan kami. Kebetulan hari cadangan ini tidak terpakai dan akhirnya kami memutuskan untuk berlibur. Kami diajak oleh Bang Ecky dan Kak Pia untuk ke Mantar. Mantar merupakan dataran tinggi yang digunakan untuk paralayang hingga kancah internasional. Kami berangkat sekitar pukul 10.00 WITA. Sebelum ke Mantar, kami mampir terlebih dahulu ke toko oleh – oleh untuk membeli buah tangan untuk orang rumah. Di perjalanan, kami sempat menghadapi razia motor yang akhirnya tanpa diduga kami harus berbelok ke rumah warga. Alasan kami menghindari razia dikarenakan motor yang digunakan Aza dan Gandhi sudah berhenti pajak dan kami hanya menggunakan helm vertikal sebagai pelindung kepala kami. Kami menunggu dan sekitar pukul 11.30 WITA razia selesai dilakukan. Dalam rangka perjalanan menuju ke Mantar, kami harus menyewa pick up dikarenakan jalannya yang sangat curam dan berbahaya bagi wisatawan awam apalagi kendaraan kami yang sebagian tidak dalam keadaan sehat. Kami harus merogoh kocek 40.000 rupiah untuk pulang pergi per orangnya. Sesampainya di sana, ternyata sedang ada acara peringatan hari kemerdekaan oleh kepolisian dan ada paralayang juga. Di sana kami dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah. Kami bisa melihat pulau – pulau kecil di Sumbawa dan lautan biru yang luas. Selain itu kami juga melihat pertunjukan yang dimainkan tim paralayang. Kemudian kami melihat pertunjukan ibu – ibu bhayangkari yang menarikan tari tradisional. Sekitar pukul 17.00 WITA kami sudah dijemput oleh pick up yang mengantar kami tadi. Sangat disayangkan kami tidak dapat melihat indahnya sunset di Mantar. Dengan berat hati kami menaiki pick up kembali pulang ke bawah. Sesampainya di bawah kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di basecamp kami segera bersih – bersih diri. Pada pukul 19.00 WITA kami berkunjung ke rumah kepala desa, Pak Sangkot. Di rumah beliau kami langsung disuguhi ikan nila kuah kuning oleh anaknya. Ya, lagi – lagi kami diminta untuk makan malam di rumah kepala desa. Namun sayangnya Pak Sangkot sedang ada pekerjaan di Sumbawa besar sehingga beliau tidak dapat bertemu dengan kami malam itu. Setelah makan malam kami sempat berbincang – bincang dengan Kak Pia hingga tak terasa sudah pukul 22.00 WITA. Kami memutuskan untuk kembali ke basecamp karena sudah malam dan Pak sangkot belum juga kunjung datang. Di basecamp seperti biasa kami melakukan briefing. Berbeda dari briefing sebelumnya kali ini briefing dilakukan untuk rangkaian kepulangan kami selama tiga hari kedepan. Briefing berjalan cukup lama karena terjadi sedikit kendala dalam perbendaharaan dan transportasi yang berubah total. Pada briefing ini kami menghasilkan kesepakatan baru untuk melakukan penjadwalan ulang keberangkatan kereta api kami, menyewa motor untuk mobilitas selama di Lombok karena kami ingin berlibur walau sebentar di Lombok, menemui Pak sangkot besok pagi pukul 06.00 WITA karena malam ini Belum bisa bertemu beliau untuk pamit, dan beberapa kesepakatan lainnya. Hingga hampir tengah malam kami baru selesai dan bersiap untuk istirahat.
Kami bangun pukul 05.00 WITA dan segera bersiap – siap. Pukul 05.30 WITA kami segera briefing dan sarapan. Seperti kesepakatan awal, pukul 06.00 WITA kami berkunjung ke rumah kepala desa untuk berpamitan dan penyerahan tanda terima kasih. Sesampainya di sana, beliau ternyata belum bangun sehingga kami harus menunggu beberapa saat hingga pintu rumahnya terbuka. Setelah itu kami langsung menyampaikan rasa terima kasih sekaligus permintaan maaf kami terhadap beliau dan warga desa Bangkat Monteh yang sudah menyambut baik kami dan banyak dibantu mengenai berbagai aspek. Pukul 07.00 WITA kami dijemput oleh Bang Niko untuk diantar menuju Pelabuhan Poto Tano. Sebenarnya, kami seharusnya di antar ke Terminal Taliwang. Namun, karena menunggu bus yang ngaret maka Bang Niko menawarkan untuk berfoto – foto terlebih dahulu di Pelabuhan Poto Tano. Akhirnya, kami menuju ke Pelabuhan Poto Tano terlebih dahulu. Sesampainya di sana, kami dimanjakan oleh pemandangan indah di seluruh penjuru mata. Kami juga melihat ikan – ikan yang saling bergerombol di lautan. Kami banyak mengambil dokumentasi pribadi di sini hingga akhirnya bus yang akan kami tumpangi datang. Kami bergegas untuk menghampiri bus tersebut, melakukan loading logistik, dan segera duduk di tempat duduk yang sudah ditentukan. Sebelum masuk bus tak lupa kami berpamitan dengan Bang Niko dan pastinya Bang Ecky yang sudah menemani kami dari awal hingga kami pulang. Setelah perpisahan singkat itu bus segera memasuki kapal. Sesampainya di dalam kapal dan bus berhenti, kami turun dan menuju ke ruang penumpang yang berada di lantai dua kapal tersebut. Karena kurang cepat dari yang lain, kami tidak dapat kasur tidur, sehingga kami terduduk di kursi penumpang. Laut kali ini kurang bersahabat. Ombak yang cukup besar mengguncangkan kapal kami cukup kencang, bahkan laju kapal sempat terhenti sejenak. Setelah dua jam terombang ambing di kapal yang cukup membuat kami deg – degan dan mua. Akhirnya kami sampai ke Pelabuhan Kayangan dan kami pun bergegas kembali masuk ke bus yang kami tumpangi untuk berjalan menuju Pool Damri Mataram. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar dua jam. Di sana, kami dijemput oleh pemilik sewa motor yang kami sewa untuk diantarkan ke tempat pengambilan motor. Sebelum mengambil motor, kami sempat mampir ke rumah pemilik tersebut untuk menitipkan barang – barang kami, lalu kami juga sempat diantarkan untuk menuju Di kantor ESDM. Di sana, kami bertemu dengan Pak Zainal. Beliau adalah salah satu kagama yang sudah membantu kami dalam hampir keseluruhan kegiatan kami. Dari beliau kami memperoleh kontak – kontak penting dan secara tidak langsung memperkenalkan kami ke orang – orang penting tersebut. Sepulangnya kami dari kantor ESDM, kami menyempatkan untuk membeli oleh – oleh sekaligus mencari hiburan ke Desa Sade. Di sini kami memborong banyak barang mulai dari gelang, sarung, baju, topi, tas, dan lain sebagainya. Karena kami sampai sana sudah jam 18.00 WITA sedangkan kampung tersebut tutup pukul 19.00 WITA, kami tidak dapat terlalu lama di sana. Setelahnya, kami mampir untuk makan malam terlebih dahulu sebelum mengembalikan motor sewaan. Gandhi dan Rosani berpencar sebelum makan malam untuk membeli tiket kapal dari Lombok tujuan ke Surabaya untuk kepulangan kami. Setelah membeli tiket mereka bergegas menyusul kami menuju tempat makan yang sudah diberitahukan.
Setelah semuanya kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah pemilik persewaan motor untuk mengambil barang dan mengembalikan motor yang kami sewa. Setelahnya, kami menunggu jemputan mobil yang sudah kami sewa untuk mengantarkan kami menuju ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Sekitar pukul 23.00 WITA kami sampai di Pelabuhan Lembar. Di sana kami menunggu kedatangan kapal yang akan kami tumpangi untuk kepulangan kami menuju Jogja. Kami menunggu kapal cukup lama karena kapal yang awalnya seharusnya bersandar pukul 01.00 WITA baru dapat bersandar pukul 04.00 WITA. Dan kami masih harus menunggu penumpang sebelumnya menurunkan muatan dan kami baru bisa naik sekitar pukul 06.00 WITA. Di sini kami memulai war untuk memperebutkan tempat tidur penumpang karena tempat tersebut hanya tersedia satu ruangan dan sekitar 64 kasur saja. Gandhi, Isma, dan Larisa bertugas untuk mencari tempat tidur. Aza, Haqqi, dan Lyan bertanggung jawab terhadap duffle sedangkan Rosani bertugas dengan pertiketan. Dari war yang cukup sengit dan membuat ngos – ngosan kami memperoleh empat tempat tidur yang setiap tempat tidurnya kami gunakan untuk dua orang. Setelahnya, kami istirahat karena sudah cukup lelah dan kami belum beristirahat dari pagi hingga pagi lagi. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar dua puluh jam. Tidak banyak yang kami lakukan di kapal, hanya makan, tidur, dan foto tim di sore hari. Hingga tak terasa sudah pukul 02.30 WIB kapal mulai bersandar, kami bergegas untuk turun. Karena kami tidak mengendarai kendaraan, kami dipersilahkan untuk turun awal. Setelahnya, kami menaiki angkot untuk menuju Stasiun Gubeng, Surabaya. Kami sampai stasiun sekitar pukul 03.30 WIB dan kereta kami berangkat pukul 05.50 WIB. Sela – sela waktu luang itu kami gunakan untuk makan dan sekedar beristirahat. Tepat pukul 05.50 WIB, kereta berangkat menuju Stasiun Lempuyangan. Perjalanan ini kami tempuh sekitar lima jam setengah. Di kereta, kami banyak tidur karena sudah cukup kelelahan. Dan lagi – lagi insiden carrier jatuh terulang lagi. Kali ini carrier Gandhi lagi yang menjadi tersangkanya dan kebetulan Gandhi sendiri yang jadi korbannya ketika dia tidur. Hal tersebut cukup mencuri perhatian penumpang lain dan membuat kami harus menata ulang carrier yang tertata miring. Pukul 11.30 WIB kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Sesampainya di sana, kami dijemput oleh beberapa teman kami yang dapat menyempatkan waktunya. Mereka adalah Benaya, Niko, Mayang, dan Wahyu. Kami ucapkan terima kasih untuk mereka apabila mereka membaca cerita ini. Karena sampai Sekretariat Mapagama sudah siang dan kami cukup lapar, kami memutuskan untuk melakukan evaluasi sekaligus membeli makanan di warung makan mi ayam. Kami memutuskan memilih mi ayam karena kami sudah cukup ngidam mie ayam sejak berada di Sumbawa. Kami melakukan evaluasi dan makan siang hingga sekitar pukul 14.30 WIB. Selanjutnya kami kembali ke Sekretariat Mapagama dan melakukan pembersihan dan beres – beres alat. Setelah semuanya beres, kami kembali pulang ke rumah masing – masing yang sudah kami tinggalkan sekitar dua minggu ini.
Banyak hal – hal baru yang kami dapatkan dan kami lihat selama melakukan kegiatan Gladimadya ini. Mulai dari budaya, bentang alam, adat istiadat, kenampakan gua, dan lain sebagainya. Dari kegiatan ini, kami dapat lebih membuka mata akan perbedaan dan keindahan yang tidak kami dapatkan di Yogyakarta.
Gegap Bijak Gandhi, Tim Gladimadya Penelusuran Gua: Saniskala – Surga Tana Samawa, 2022.
Pagi hari tanggal 12 Agustus 2023 tim menambah kegiatan eksplorasi permukaan ke Desa Lanne. Tim ditemani tiga warga lokal, yaitu Kak Saridah, Kak Ainun, dan bapak kepala dusun. Sebelum menuju Desa Lanne, tim mampir terlebih dahulu ke warung untuk mengisi bensin dan membeli air minum. Namun, saat di perjalanan, motor yang dikendarai Gandhi dan Haqqi mengalami bocor ban di depan Kantor Desa Bonto Birao. Anggota tim yang berada di warung pun sedikit terkejut sebab pergi ke bengkel di desa ini akan menjadi lebih sulit karena jalanan yang rusak. Untungnya saat itu di kantor desa ada banyak orang karena sedang ada kerja bakti, sehingga Gandhi dan Haqqi dibantu untuk menambal bannya yang 
Kapal pun berangkat dari Pelabuhan Makassar sekitar pukul 03.00 WITA dan perjalanan diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih selama 24 jam. Selama di kapal, tim menghabiskan waktu sama seperti pada saat keberangkatan, ada yang menonton film, membaca novel, dan menikmati pemandangan dari atas kapal. Akhirnya, tim tiba di Pelabuhan Tanjung Perak pada 17 Agustus 2023 sekitar pukul 03.00 WIB dan tim segera keluar dari Pelabuhan. Tim menunggu Mama Kaizan dan supir yang akan menjemput kurang lebih selama 1 jam. Setelah mobil yang menjemput tiba, tim segera memasukkan barang-barang ke dalam mobil lalu mampir untuk membeli makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Kaizan. Setelah makan, tim menuju ke rumah Kaizan untuk bersih diri dan beristirahat sebentar. Pukul
Hari kedua berada di Desa Bonto Birao, tim melanjutkan kegiatan lapangan akhir dengan pemetaan Leang Pa’niki. Pemetaan Leang Pa’niki dianggarkan selama lima hari hingga tanggal 12 Agustus 2023. Tentu saja sebelum berangkat pemetaan, tim mengisi perut terlebih dahulu. Hidup berdampingan dengan tim KKN dari Unhas dan keluarga kepala desa sendiri menjadikan tim harus bekerja sama dalam penyediaan pangan untuk seluruh personel yang tinggal di rumah ini. Dengan jumlah penghuni mencapai 19 orang, pagi hari pun digunakan untuk bergelut di dapur bersama tim dapur KKN Unhas. Sedikit obrolan dengan tim KKN Unhas menghasilkan beberapa informasi penting bagi tim, salah satunya adalah tidak adanya warung yang menjual sayur di sekitar desa. Konsumsi sayur masyarakat Bonto Birao sepenuhnya bergantung pada mobil pick-up penjual sayur yang berkeliling dengan jadwal tak menentu. Atau jika memungkinkan, beberapa hari sekali kepala desa akan meminta tolong orang-orangnya untuk berbelanja sebab rumah kepala desa tidak pernah sepi kunjungan sehingga harus selalu tersedia bahan makanan. Pasar di desa ini hanya ada di hari Jumat, pun sering tak menentu sebab bergantung pada para pedagang yang mau naik ke desa ini. Pengaturan konsumsi tim selanjutnya pun harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Beruntungnya, tim telah membawa bahan makanan sehingga stok bahan pangan untuk setidaknya dua hari sudah aman. Pada hari pertama pemetaan ini, salah satu anggota KKN Unhas dan beberapa warga lokal turut menemani tim. Seluruh anggota tim kecuali Azarya masuk ke dalam gua, sedangkan Azarya berjaga di mulut gua ditemani oleh Kak Babul dan beberapa pemuda sekitar. Dari informasi yang didapatkan tim, Leang Pa’niki termasuk gua dengan aliran air yang digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat sekitar juga sering masuk untuk menangkap ikan. Memasuki Leang Pa’niki, tim disambut dengan
Hari berikutnya adalah saat untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tim memulai persiapan dari pukul 07.00 WITA. Kegiatan Tri Dharma ini berlokasi di balai desa yang berada tepat di depan lapangan desa. Balai desa memiliki posisi bangunan yang lebih tinggi daripada lapangan yang pada saat itu adalah hamparan luas rumput yang menguning. Pegunungan di kejauhan dapat terlihat dari balai desa dan seolah menjadi latar pemandangan lapangan desa. Lapangan desa pada hari Jumat itu memiliki pemandangan lain, yaitu pasar dadakan. Pasar dadakan pagi itu hanya terdiri dari 2 mobil pick-up yang menjual kebutuhan pokok. Tim sungguh beruntung bisa menyaksikan pasar dadakan ini, sebab setiap Jumat pun belum tentu para pedagang mau naik ke desa yang jaraknya 2-3 jam dari pasar induk terdekat. Tri Dharma yang semula direncanakan pada hari Minggu harus berubah menjadi Jumat pagi sebab menyesuaikan kegiatan sehari-hari masyarakat sekitar. Akhir minggu digunakan untuk masyarakat pergi ke ladang dan pagi hari di hari Jumat menyesuaikan dengan waktu ibadah solat Jumat. Tri Dharma ini berbentuk sosialisasi yang berjudul “Tata Cara Pengajuan Kelegalitasan Nomor Izin Berusaha (NIB) sebagai Awalan dalam Memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR)” dengan sasaran masyarakat dan Karang Taruna Desa Bonto Birao, terutama yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya. Pada kegiatan Tri Dharma ini, Kaizan dan Jayu bertugas sebagai pemateri, Saphira sebagai MC, Binar sebagai operator dan notula, Azarya sebagai notula, serta Gandhi dan Haqqi sebagai dokumentasi. Setelah materi disampaikan oleh Kaizan dan Jayu, praktik langsung bersama masyarakat yang hadir juga dilakukan untuk mendapatkan NIB melalui aplikasi bernama OSS. Selama pembuatan NIB, beberapa orang mengalami kendala sehingga kondisi sempat sedikit hectic oleh ibu-ibu yang kebingungan. Namun, setelah dibantu oleh tim akhirnya NIB pun berhasil terbit. Masyarakat yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya terlihat sangat antusias untuk mendapatkan NIB ini sehingga mereka sangat senang saat NIB sudah berhasil terbit. Sebanyak sebelas NIB berhasil terbit dari masyarakat Bonto Birao yang dibantu oleh

Akhirnya dengan segala perjuangan, tim tiba di rumah Kepala Desa Bonto Birao pukul 00.30 WITA yang kemudian disambut oleh teman-teman KKN dari Universitas Hassanudin dan bapak kepala desa. Selayaknya bertamu pada umumnya, tim beramah-tamah dan akhirnya istirahat pada pukul 03.00 WITA. Bertemankan suara jendela dan
Pada saat melakukan eksplorasi ke dalam salah satu gua, ditemui ular berwarna merah yang sedang beristirahat pada dinding gua. Karena terkejut dan warga lokal yang menemani masuk takut dengan ular, tim segera memutuskan keluar gua dan melanjutkan kegiatan. Setelah menemukan beberapa gua, tim ishoma terlebih dahulu.Lokasi ishoma berada di sungai yang dengan air terjun kecil. Roti dan buah menjadi santapan siang sembari beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon dan menikmati segarnya air sungai. Setelah cukup beristirahat, tim melanjutkan kegiatan eksplorasi hingga ke desa sebelah. Selama melintasi jalanan desa yang tidak kalah buruk dari jalanan semalam, tim beberapa kali berhenti untuk mengambil footage dari tempat yang dirasa bagus, salah satunya adalah lahan dipenuhi batuan yang digunakan untuk melepas sapi-sapi coklat milik warga. Tempat itu seperti kastil sapi dan rupanya memang cukup ikonik di situ. Setelah menyusuri area eksplorasi, tim kembali ke rumah kepala desa lalu bersih-bersih, ramah tamah, eval, briefing, dilanjut dengan istirahat.
0 Comments