Pada hari Jumat tanggal 28 Oktober 2016, kami peserta Gladimula angkatan XXXIII memulai serangkaian kegiatan Mapagama. Kegiatan yang dilaksanakan di Kabupaten Gunung Kidul tersebut kami persiapkan sebelumya dalam kepengurusan satu team. Proses yang kami lalui hari itu bermula dengan berkumpul dahulu di lapangan rumput Gelanggang Mahasiswa UGM pada pukul 16.00 WIB. Kegiatan awal tersebut sempat terhambat karena sebagian dari kami datang tidak tepat waktu sehingga kami harus mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut. Proses gladimula selanjutnya dimulai dengan pembagian kaos lapangan kepada setiap peserta gladimula. Selanjutnya barang-barang peserta dicek oleh panitia sementara kebanyakan dari kami tidak membawa barang dan salah membawanya. Dengan kesalahan yang terjadi kami harus mempertanggungjawabkannya melalui hukuman beberapa set yang sudah disepakati bersama. Kesalahan yang dirasa sangat banyak membuat panitia memberi kesempatan kepada peserta untuk memperbaiki barang yang harus dibawa. Panitia memberi toleransi selama satu jam agar peserta bisa mencari barang perlengkapan kegiatannya sesuai dengan daftar dari panitia. Pada pukul 21.00 WIB, peserta diharuskan untuk sampai di rumah N30 tepat waktu, meskipun kenyataannya masih ada yang terlambat karena belum selesai melengkapi barangnya. Setelah semua peserta sampai di rumah N30, pengecekan barang peserta dilakukakan kembali oleh panitia. Kemudian setelah semua selesai dicek, peserta diarahkan untuk beristirahat dan tidur malam di ruangan N30.
Pada pagi harinya tanggal 29 Oktober 2016, pagi-pagi sekali kami dibangunkan oleh panitia. Pagi itu kami awali dengan melakukan kegiatan pemanasan streching di depan rumah N30. Setelah dirasa cukup, kami diarahkan panitia untuk menuju Gelanggang Mahasiswa UGM dalam kurun waktu 5 menit. Sesampainya di gelanggang, kami bersiap-siap masuk ke dalam truk beserta barang-barang yang kami bawa. Setelah semua siap, kami mulai berangkat menuju Gunung Kidul. Selama perjalanan hampir semua peserta tidur terlelap meskipun dalam suasana truk yang penuh sesak. Saya sendiri sempat menggunakan kesempatan dalam waktu sekitar dua jam untuk benar-benar tidur.
Setibanya di lokasi kegiatan, kami menyiapkan diri masing-masing terutama mental dan fisik kami. Hal pertama yang harus kami laksanakan adalah membayar hutang set kesalahan team meskipun kami hanya menyicilnya sebagian. Kondisi tubuh saya yang sebelumnya terasa dingin, mendadak menjadi panas bercucuran keringat. Kegiatan streching sempat kami lakukan yang diteruskan dengan jogging menyusuri jalan di depan lokasi kegiatan. Setelah cukup berlari, kami beristirahat dan makan.
Setelah selesai makan, para peserta diperintahkan panitia untuk berhitung dengan keputusan bahwa untuk hari itu yang berangka genap melaksanakan climbing, sementara yang berangka ganjil melaksanakan caving. Peserta climbing tetap tinggal ditempat, sementara peserta caving harus naik truk menuju lokasi Gua Jlamprong. Saat itu saya mendapat angka ganjil sehingga saya bergegas naik ke dalam truk untuk pergi ke gua. Setelah sekitar 15 menit dalam truk, akhirnya kami sampai di lokasi walaupun belum berada di depan mulut guanya. Panitia yang ada di sana langsung mengajak kami menuju ke sebuah gubuk kecil di dekat sawah di samping tempat pengolahan batu kapur. Di dalam gubuk kecil itu kami diajak berdiskusi oleh kedua panitia untuk membicarakan orientasi menganai gua. Panitia mengajak kami mendalami gua yang akan kami datangi. Kami juga dikenalkan tentang bagian eksokarst dan endokarst gua serta proses terbentuknya gua. Selama proses diskusi, kami semua bertanya tentang hal-hal yang masih janggal mengenai gua. Panitia menjelaskan semuanya dengan penuh kewibawaan.
Tidak terasa hari makin siang, kemudian kami mendapat perintah dari panitia untuk membuat dua kelompok. Dua kelompok tersebut memiliki misi mencari mulut gua yang menjadi lokasi kegiatan caving kami. Pencarian demi pencarian kami lakukan dengan mengidentifikasi tempat yang bervegetasi bebas dari pohon jati. Setelah lama kami berjalan, beruntunglah kelompok saya yang pertama menemukan mulut guanya, tetapi kami berada di atas gua sehingga harus memutar balik menuju bawah. Sesampainya di depan mulut gua, saya merasakan sentuhan hawa segar aroma khas bau suatu gua. Di depan mulut gua tersebut nampak sebuah pohon tua yang besar dengan balutan kain yang melilitinya. Di hadapan mata saya ada sebuah batu berlumut bertuliskan Gua Jlamprong. Setelah sekitar beberapa menit sesampainya kami, terdengar suara kelompok lain yang mulai mendekat. Akhirnya kami telah lengkap untuk memulai kegiatan caving. Berhubung kami terbagi dalam dua kelompok sehingga rangkaian kegiatan hari itu dipecah menjadi kegiatan SRT (Single Rope Technique) di depan mulut gua dan penelusuran ke dalam gua. Saya termasuk dalam kelompok pertama yang melaksanakan tahap SRT. Sebelum giliran naik tali, saya sempat diuji oleh panitia untuk mencoba mempraktekkan sembilan simpul. Sebenarnya saya sempat lupa dan diminta untuk mengulanginya kembali. Syukurlah saya bisa hapal membuat kesembilan simpul secara lancar. Beberapa menit kemudian, saya mendapat giliran naik menggunakan SRT. Awalnya saya optimis bisa lancar naik ke atas, namun ketika sampai puncak seketika saya mengalami masalah terhadap croll (salah satu alat yang digunakan dalam penelusuran gua vertikal menggunakan teknik SRT) yang saya pakai. Saya kesulitan melepaskannya yang membuat seorang panitia yang mengawasi saya sempat mau menolong, namun seketika itu alhasil saya bisa melepaskannya. Cukup aneh rasanya ketika saya mengalami kesulitan saat hendak turun, meskipun setelah beberapa saat kemudian saya bisa turun kembali dengan selamat. Setelah semua kelompokku mendapat giliran naik SRT tibalah waktunya kami untuk makan siang.
Beberapa menit telah kami habiskan untuk beristirahat dan makan siang sehingga kelompok kami mendapat giliran masuk ke dalam gua. Kami menyiapkan semua alat yang diperlukan selama menyusuri gua. Perjalanan kami di dalam gua didampingi oleh tiga orang panitia yang menyampaikan banyak hal tentang apa yang ada dalam Gua Jlamprong. Hal-hal baru semakin menambah wawasan saya karena kegiatan itu menjadi sebuah pengalaman baru. Tidak jarang saya merasa sangat kagum terhadap suasana gua saat itu. Suara aliran air yang sangat deras terdengar sangat dekat di telinga saya bak seperti ada di samping air terjun. Sebuah kehidupan kelelawar di tiap-tiap sisi atap gua juga terlihat begitu harmonis menyambut kedatangan kami. Suara khas yang mereka teriakkan dengan bersaut-sautan melengkapi suasana kala itu. Sampai beberapa lama kami berjalan, kemudian panitia menawarkan untuk istirahat dan meminta mengganti cahaya senter kami dengan menyalakan lilin. Di suasana gelap dalam tengah gua, kami diminta untuk berjalan satu-persatu menyusuri sebuah lorong yang ternyata adalah jalan keluar dari gua tersebut. Secercah cahaya yang saya amati dari kejauhan nampak semakin jelas terlihat menandakan akhir penyusuran yang saya lakukan. Tidak begitu jauh dari mulut gua itu, seketika saya dikagetkan dengan sebuah suara di samping saya. Saya sangat terkejut mendengar suara tersebut lalu dengan spontan saya tidak sengaja menginjak batu yang salah yang membuat saya terpeleset. Ternyata yang saya dengar adalah suara panitia yang bersembunyi di sela-sela gua. Kemudian saya diminta untuk menceritakan pengalaman mengenai materi dari kegiatan susur gua yang saya lakukan. Kemudian panitia menyuruh saya memejamkan mata dan seketika panitia mengoleskan lumpur ke wajah dan baju saya (Sebagai simbol ucapan selamat datang didunia caving dari para caver Mapagama). Saya hanya pasrah terhadap perlakuan tersebut, tetapi hal itu cukup mengesankan. Setelah itu saya diizinkan untuk keluar dari gua dengan bentuk wajah yang tidak karuan. Selanjutnya saya bertemu dengan teman yang lain di luar yang sudah lebih dulu keluar dari gua. Kami tampak saling menertawakan geli melihat wajah teman-teman yang keluar dari gua. Sekeluarnya semua anggota kelompok saya, kami bergegas menuju kembali ke lokasi SRT sebelumnya. Setelah serangkaian kegiatan caving dilaksanakan, kami semua bersiap-siap menuju truk untuk pulang ke lokasi kumpul kegiatan gladimula.
Sesampainya di lokasi, kami langsung menyatu bersama teman-teman yang climbing untuk melanjutkan kegiatan berikutnya yaitu membangun bivak kelompok. Setelah bivak selesai dibangun, kami melanjutkan ke sesi evaluasi kegiatan sesuai divisi yang kami jalani hari itu. Setiap individu menyampaikan semua kesan dan kendalanya yang dihadapi saat kegiatan lapangan. Setelah cukup, evaluasi ditutup dan dilanjutkan dengan makan malam. Sebelum kami makan, kami harus menyicil beberapa set akan konsekuensi kesalahan kami. Perasaanku amat senang ketika kami selesai melaksanakan set yang dilanjutkan menyantap makanan beserta teh hangat yang menambah selera kami. Seusai makan, kami dianjurkan untuk langsung beristirahat dan tidur senyaman mungkin di dalam bivak. Saat malam hari, sempat turun hujan yang mengejutkan kami yang sedang tidur. Beruntung hujan tidak terlalu deras dan tidak mengganggu suasana tidur kami. Saya sangat merasakan tidur yang begitu pulas malam itu.
Pagi harinya tanggal 30 Oktober 2016, saya bangun dari tidur melihat keadaan sekitar bivak yang sangat segar dengan balutan rindangnya pohon-pohon yang gagah berdiri. Saya tidak lupa mengucap syukur atas hari tersebut karena tiba hari terakhir kami melaksanakan kegiatan. Seperti hari sebelumnya, peserta gladimula diajak untuk melakukan pemanasan dengan kegiatan streching dan lari jogging di jalan dekat lokasi. Setelah berlari-lari, peserta ditagih membayar set akan konsekuensi kesalahan yang belum lunas. Kami sepakat hanya membayar tiga set atau dapat dibilang setengah dari hutang kami. Sesudah itu, kami diizinkan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan. Setelah semua usai makan, kami langsung bergegas mempersiapkan kegiatan.
Hari itu, kelompok saya mendapat giliran melaksanakan kegiatan climbing di tebing dekat lokasi bivak kami. Kami dibagi kelompok lagi untuk bergiliran melaksanakan 3 sesi climbing yaitu, top roof, runner to runner, dan prusiking. Sebelum dimulai, panitia mencotohkan kembali tiap-tiap sesi tersebut sebelum dipraktekkan oleh peserta. Setelah semua ingat dan paham akan semua teknik yang diperagakan panitia, kami mulai mencoba satu demi satu mempraktekkannya, namun ada beberapa dari kami yang secara tidak sengaja melanggar aturan sehingga poin kesalahan kami menjadi bertambah. Beruntunglah, ada sejumlah 11 anak yang dapat mencapai top atau puncak sehingga bisa menjadi cadangan untuk membayar kesalahan kami jika ada lagi. Perasaan senang juga sempat saya ciptakan sendiri ketika saya bisa ikut berkontribusi mencapai top saat top roof dan runner to runner.
Setelah kegiatan climbing selama satu hari tersebut berlangsung, akhirnya tibalah saat kami untuk membereskan bivak dan berkemas untuk packing. Setelah itu, semua peserta gladimula berkumpul dengan membuat barisan. Saat itu, panitia kembali menagih set kesalahan kami yang kemudian kami tanggapi dengan semangat untuk menyelesaikan sisa set di ujung acara tersebut. Setelah itu, semua peserta diajak berfoto bersama seluruh panitia untuk menutup kegiatan gladimula di tempat tersebut. Barang-barang pun kami angkat masuk ke dalam truk setelah semua ter-packing dengan baik. Akhirnya, kami sebagai peserta gladimula bisa pulang kembali ke Jogja setelah menumpangi truk selama kurang lebih dua jam.
Sesampainya di Gelanggang Mahasiswa UGM, kami menurunkan barang-barang kami dan melanjutkan kegiatan mencuci alat-alat yang digunakan. Sehabis itu, kami berkumpul ke suatu ruangan di lantai atas Gelanggang Mahasiswa UGM untuk makam malam yang dilanjutkan melaksanakan sesi evaluasi kegiatan kami selama kegiatan Gladimula XXXIII Mapagama. Akhirnya, tibalah dimana kegiatan selama tiga hari tersebut berakhir. Saya merasa sangat mengapresiasi kerja panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan secara luar biasa. Banyak hal baru dan berharga selama saya berproses sebagai calon anggota Mapagama di Gladimula XXXIII. Semoga ke depannya calon angkatan ini bisa meneruskan estafet organisasi dengan lebih baik dan seterusnya.
Ditulis Oleh:
Laurentius Riyan Setyadi
Sekolah Vokasi
Peserta GLADIMULA XXXIII “Beyond Wanderlust”.
Pagi hari tanggal 12 Agustus 2023 tim menambah kegiatan eksplorasi permukaan ke Desa Lanne. Tim ditemani tiga warga lokal, yaitu Kak Saridah, Kak Ainun, dan bapak kepala dusun. Sebelum menuju Desa Lanne, tim mampir terlebih dahulu ke warung untuk mengisi bensin dan membeli air minum. Namun, saat di perjalanan, motor yang dikendarai Gandhi dan Haqqi mengalami bocor ban di depan Kantor Desa Bonto Birao. Anggota tim yang berada di warung pun sedikit terkejut sebab pergi ke bengkel di desa ini akan menjadi lebih sulit karena jalanan yang rusak. Untungnya saat itu di kantor desa ada banyak orang karena sedang ada kerja bakti, sehingga Gandhi dan Haqqi dibantu untuk menambal bannya yang 
Kapal pun berangkat dari Pelabuhan Makassar sekitar pukul 03.00 WITA dan perjalanan diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih selama 24 jam. Selama di kapal, tim menghabiskan waktu sama seperti pada saat keberangkatan, ada yang menonton film, membaca novel, dan menikmati pemandangan dari atas kapal. Akhirnya, tim tiba di Pelabuhan Tanjung Perak pada 17 Agustus 2023 sekitar pukul 03.00 WIB dan tim segera keluar dari Pelabuhan. Tim menunggu Mama Kaizan dan supir yang akan menjemput kurang lebih selama 1 jam. Setelah mobil yang menjemput tiba, tim segera memasukkan barang-barang ke dalam mobil lalu mampir untuk membeli makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Kaizan. Setelah makan, tim menuju ke rumah Kaizan untuk bersih diri dan beristirahat sebentar. Pukul
Hari kedua berada di Desa Bonto Birao, tim melanjutkan kegiatan lapangan akhir dengan pemetaan Leang Pa’niki. Pemetaan Leang Pa’niki dianggarkan selama lima hari hingga tanggal 12 Agustus 2023. Tentu saja sebelum berangkat pemetaan, tim mengisi perut terlebih dahulu. Hidup berdampingan dengan tim KKN dari Unhas dan keluarga kepala desa sendiri menjadikan tim harus bekerja sama dalam penyediaan pangan untuk seluruh personel yang tinggal di rumah ini. Dengan jumlah penghuni mencapai 19 orang, pagi hari pun digunakan untuk bergelut di dapur bersama tim dapur KKN Unhas. Sedikit obrolan dengan tim KKN Unhas menghasilkan beberapa informasi penting bagi tim, salah satunya adalah tidak adanya warung yang menjual sayur di sekitar desa. Konsumsi sayur masyarakat Bonto Birao sepenuhnya bergantung pada mobil pick-up penjual sayur yang berkeliling dengan jadwal tak menentu. Atau jika memungkinkan, beberapa hari sekali kepala desa akan meminta tolong orang-orangnya untuk berbelanja sebab rumah kepala desa tidak pernah sepi kunjungan sehingga harus selalu tersedia bahan makanan. Pasar di desa ini hanya ada di hari Jumat, pun sering tak menentu sebab bergantung pada para pedagang yang mau naik ke desa ini. Pengaturan konsumsi tim selanjutnya pun harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Beruntungnya, tim telah membawa bahan makanan sehingga stok bahan pangan untuk setidaknya dua hari sudah aman. Pada hari pertama pemetaan ini, salah satu anggota KKN Unhas dan beberapa warga lokal turut menemani tim. Seluruh anggota tim kecuali Azarya masuk ke dalam gua, sedangkan Azarya berjaga di mulut gua ditemani oleh Kak Babul dan beberapa pemuda sekitar. Dari informasi yang didapatkan tim, Leang Pa’niki termasuk gua dengan aliran air yang digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat sekitar juga sering masuk untuk menangkap ikan. Memasuki Leang Pa’niki, tim disambut dengan
Hari berikutnya adalah saat untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tim memulai persiapan dari pukul 07.00 WITA. Kegiatan Tri Dharma ini berlokasi di balai desa yang berada tepat di depan lapangan desa. Balai desa memiliki posisi bangunan yang lebih tinggi daripada lapangan yang pada saat itu adalah hamparan luas rumput yang menguning. Pegunungan di kejauhan dapat terlihat dari balai desa dan seolah menjadi latar pemandangan lapangan desa. Lapangan desa pada hari Jumat itu memiliki pemandangan lain, yaitu pasar dadakan. Pasar dadakan pagi itu hanya terdiri dari 2 mobil pick-up yang menjual kebutuhan pokok. Tim sungguh beruntung bisa menyaksikan pasar dadakan ini, sebab setiap Jumat pun belum tentu para pedagang mau naik ke desa yang jaraknya 2-3 jam dari pasar induk terdekat. Tri Dharma yang semula direncanakan pada hari Minggu harus berubah menjadi Jumat pagi sebab menyesuaikan kegiatan sehari-hari masyarakat sekitar. Akhir minggu digunakan untuk masyarakat pergi ke ladang dan pagi hari di hari Jumat menyesuaikan dengan waktu ibadah solat Jumat. Tri Dharma ini berbentuk sosialisasi yang berjudul “Tata Cara Pengajuan Kelegalitasan Nomor Izin Berusaha (NIB) sebagai Awalan dalam Memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR)” dengan sasaran masyarakat dan Karang Taruna Desa Bonto Birao, terutama yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya. Pada kegiatan Tri Dharma ini, Kaizan dan Jayu bertugas sebagai pemateri, Saphira sebagai MC, Binar sebagai operator dan notula, Azarya sebagai notula, serta Gandhi dan Haqqi sebagai dokumentasi. Setelah materi disampaikan oleh Kaizan dan Jayu, praktik langsung bersama masyarakat yang hadir juga dilakukan untuk mendapatkan NIB melalui aplikasi bernama OSS. Selama pembuatan NIB, beberapa orang mengalami kendala sehingga kondisi sempat sedikit hectic oleh ibu-ibu yang kebingungan. Namun, setelah dibantu oleh tim akhirnya NIB pun berhasil terbit. Masyarakat yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya terlihat sangat antusias untuk mendapatkan NIB ini sehingga mereka sangat senang saat NIB sudah berhasil terbit. Sebanyak sebelas NIB berhasil terbit dari masyarakat Bonto Birao yang dibantu oleh

Akhirnya dengan segala perjuangan, tim tiba di rumah Kepala Desa Bonto Birao pukul 00.30 WITA yang kemudian disambut oleh teman-teman KKN dari Universitas Hassanudin dan bapak kepala desa. Selayaknya bertamu pada umumnya, tim beramah-tamah dan akhirnya istirahat pada pukul 03.00 WITA. Bertemankan suara jendela dan
Pada saat melakukan eksplorasi ke dalam salah satu gua, ditemui ular berwarna merah yang sedang beristirahat pada dinding gua. Karena terkejut dan warga lokal yang menemani masuk takut dengan ular, tim segera memutuskan keluar gua dan melanjutkan kegiatan. Setelah menemukan beberapa gua, tim ishoma terlebih dahulu.Lokasi ishoma berada di sungai yang dengan air terjun kecil. Roti dan buah menjadi santapan siang sembari beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon dan menikmati segarnya air sungai. Setelah cukup beristirahat, tim melanjutkan kegiatan eksplorasi hingga ke desa sebelah. Selama melintasi jalanan desa yang tidak kalah buruk dari jalanan semalam, tim beberapa kali berhenti untuk mengambil footage dari tempat yang dirasa bagus, salah satunya adalah lahan dipenuhi batuan yang digunakan untuk melepas sapi-sapi coklat milik warga. Tempat itu seperti kastil sapi dan rupanya memang cukup ikonik di situ. Setelah menyusuri area eksplorasi, tim kembali ke rumah kepala desa lalu bersih-bersih, ramah tamah, eval, briefing, dilanjut dengan istirahat.
0 Comments