Oleh: Alfia Municha

Puncak

Photo by Bang Andi

Awalnya hanya dimulai dari sebuah mimpi yang tidak sempurna, mimpi yang akan sulit terwujud ketika tidak ada kerjasama, kemudian perjalanan kami pun dimulai. pagi hari yang cerah, kami disibukkan dengan persiapan keberangkatan 2 anggota kami menuju titik impian yang selama ini kami idam-idamkan. Mereka berdua adalah jembatan awal yang menghubungkan kami dengan impian kami. Dengan tersenyum dan mengucap selamat tinggal kami melepaskan kepergian mereka di Stasiun Lempuyangan. Kata terakhirku untuk mereka adalah “awas ya kalo sampai ketinggalan pesawat”.

Tiga hari setelah mereka berangkat tepatnya tanggal 19 Oktober, kami berangkat menyusul mereka, kami berlima diantarkan oleh teman-teman kami menuju Stasiun Lempuyangan, tentu saja kami melewati jalur keberangkatan yang sama dengan teman-teman kami yang berangkat terlebih dahulu atau yang biasa kami sebut sebgai Tim Advance. Kami berpisah di dekat gerbang keberangkatan, sebelum itu kam merasa satpam disana selalu melihat kearah kami, ah.. mungkin hanya perasaan kami saja. Akhirnya satpam tersebut menghampiri kami dan berkata “mas, mbak mau kemana?” koortim kami, hanif pun menjawab dengan santainya “kami mau ke NTT pak”. “barang bawaannya banyak banget, dek? Isinya apa?” satpam tersebut kembali bertanya. “isinya buku pak”jawab Hanif. Dalam hati kami hanya mengira bapak tersebut penasaran karena melihat perawakan kami yang mayoritas kecil membawa carrir yang menjulang tinggi melebihi kepala kami.

Dan ternyata dugaan kami salah besar “ dek, kalo bawaannya segitu melebihi batas bawaan didalam kereta, coba kesini dulu timbang tasnya” omongnya dengan santai. Waduh, kami heran karena memang pikir kami tidak akan ditimbang si kereta, karena biasanya juga sebanyak apapun bawaan penumpang jika dikereta tidak akan ditimbang. Akhirnya, kami semua menumbang carrir satu persatu dan setelah selesai kami harus membayar kelebihan tas kami, yah.. anggap saja lagi apes. tidak lama berselang kami masuk kedalam kereta, dan kami pun mulai berangkat.

Sepanjang perjalanan, kami melewati banyak kota-kota, banyak sekali yang dapat dilihat, dari kota  metropilis hingga perkampungan, perkotaan penuh dengan warna hingga hijaunya sawah dan kebun-kebun. Hampir delapan jam kami disuguhi dengan berbagai macam pemandangan, dan akhirnya ketika operator menyebut Stasiun Wonokromo, kami turun dari kereta. Hawa panas yang menyengat mulai menyambut kami di Surabaya. Kami mulai keluar dari stasiun dan menunggu Bang Udin, senior kami yang menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke bandara. Kami sungguh berterima kasih atas bantuan dan dukungannya dalam kegiatan kami. Tidak lama kemudian, kami sampai di Bandara sore hari, jadi kami harus menunggu beberapa jam sebelum pesawat kami take off. Well... menunggu lebih baik dari pada kami ketinggalan pesawat  jadi dengan sabarnya kami menunggu hingga dibukanya tempat check-in dan of course kami mengurus kelebihan bagasi juga. Setelah itu, kami naik di lantai dua untuk menunggu disana. Mendekati waktu yang ditentukan, kami memasuki lounge gate untuk melakukan boarding. Perjalanan tidak akan menyenangkan tanpa adanya masalah yang mendadak, ketika daypack deswita melewati mesin x-ray, petugas mulai mengambil tas dan memanggil mereka berdua dan meminta mereka mengeluarkan barang yang tidak boleh dibawa di kabin pesawat.

Gunting dan tripod itulah barang yang menjadi bump in the road, alhasil aku,deswita, dan sheila harus bolak-balik turun dari lantai dua ke lantai satu kemudian kembali lagi untuk mengurus masalah bagasi tambahan. Ketika kembali ke lounge gate kami pikir itu adalah menit-menit terakhir kami berada di jawa, tapi ternyata pesawat kami delay selama hampir kurang lebih 3 jam, jadilah kami luntang-lantung di lounge gate. Kami menggunakan waktu tersebut untuk tiduran di kursi, makan, sholat,ke kamar mandi, dll. Sekitar jam 10 malam kami pin akhirnya take off menuju titik awal perjalanan kami yaitu, kota kupang.

Selama tiga jam kami mangudara, yang kami lakukan hanyalah tidur belaka. Tak terasa, kami sudah landing di bandara El Tari. Hawanya hampir sama seperti Surabaya tetapi lebih pengap lagi. Sekali lagi, kami harus berterima kasih karena orang tua dari Mas Zul bersedia menolong kami dan menyediakan tempat berteduh walau hanya semalam. Bahkan yang membuat kami tidak enak adalah beliau menunggu kami sangat lama karena pesawat yang mengalami delay. Kami pun pergi ke alam mimpi yang terasa sangat sebentar.

Keesokan harinya kami bangun pagi dan mulai bergegas menata logistik kami dan sesegera mungkin ke bandara. Karena kelebihan logistiknya sangat banyak kami mencoba menkargokan logistik yang digunakan untuk pengabdian. Kami pun terbagi menjadi dua tim. Tim pertama, Mas Mike dan Hanif yang diantar oleh ayah Mas Zul pergi ke L**N Parcel  dan tim kedua, aku, Deswita, dan Sheila bergegas ke bandara. Disitu, awalnya kami yang berada dibandara hanya santai belaka, mendekati waktu check in ditutup aku harus bolak-balik keluar masuk untuk mengurus boarding pass, memohon-mohon dengan petugasnya supaya mencetak boarding pass tim pertama yang sedang dalam perjalanan menuju El Tari. Untungnya, 15 menit sebelum keberangkatan mereka sudah sampai, kami pun berpamitan dengan ayah Mas Zul dan mulai berlarian menuju gate keberangkatan.

Bandara

Photo by Sheilafita

Kami pun kembali mengudara, oh my god…. pemandangannya benar-benar indah sekali. Bandara yang sangat dekat dengan pantai membuat kami melihat betapa biru dan jernihnya air laut, kapal-kapal nelayan yang bertengger di tepi pantai, hingga jalanan Kota Kupang yang lenggang. Mataku tidak henti-hentinya memandang daratan yang sangat indah sampai aku melihat pemandangan yang putih seperti kapas dan mataku pun mulai terpejam. Untungnya, ketika mataku kembali terbuka aku tidak melewatkan hamparan perbukitan hijau dan indah di bawahku. Diantara, hijaunya perbukitan yang masih asri terbentang dan jalan kecil yang meliuk-liuk seperti ular. Dalam hati ku menjerit yesssss, akhirnya sampai floressss. Landing pesawat kali ini adalah yang sangat seru, karena sebelum roda menapakkan kaki di tanah pesawat terlebih dahulu meliuk-liuk kekanan dan kekiri and i love it.

Kami pun turun dari pesawat menuju bandara SOA, tidak seperti kota besar bandara ini sangatlah kecil dan sederhana. Bahkan, untuk mengantarkan bagasi penumpang masih menggunakan cara manual yaitu mengangkatnya satu persatu menuju tempat barang. Kami menunggu barang-barang kami dan mulai menuju pintu keluar. Disana kami telah di jemput oleh teman Bang Andi yang memiliki jasa travel. Sepanjang perjalanan kami melihat bagaimana rumah-rumah penduduk disana. Perjalanan dari bandara menuju Rumah Bang Andi ternyata cukup jauh. Ditengah perjalanan kami melihat para pekerja yang sedang membangun jembatan.

Setelah kurang lebih satu jam kami sampai di Rumah Bang Andi, disana kami disambut oleh dau teman kami yaitu Mbak Verent dan Ajun yang terlebih dahulu melakukan survey lokasi dan perijinan. Mereka terlihat sangat bahagia karena bisa melihat seluruh kota lebih dahulu. Ajun, koorlap kami ingin menyampaikan hasil survey dan jalur trek yang akan kami lalui, tapi sebelun itu dia berkata “mending kalian makan dulu deh, pusing nanti kalo tau” kami pun makan siang bersama Mama Ita. Kemudian selesai makan Ajun menyampaikan “ini di Goggle Maps udah dititikin tapi banyak banget, terus kalau mau kepuncak itu dari di gambar hampir 90 derajat. Nggak tahu bisa dilewati apa nggak soalnya kalo kita keperosok kita bakal jatuh nggelundung terus ke jurang sampai bawah” sambil memperlihatkan gambar yang memang terdapat jurang yang begitu besar dibawah trek yang dia bilang akan menuju puncak.

Karena kami melewati trek yang bukan jalur pendakian biasa, maka belum ada data sama sekali mengenai jalur yang akan kami lalui. Kami hanyalah mendengar beberapa cerita yaitu ketika hamil 5 bulan anak perempuan kepala suku Desa Watu naik dan sampai ke puncak Inerie. Hal itu tentunya membuat kami heran karena dari hasil interpertasi yang kami lakukan sangatlah sulit untuk menuju puncak dengan trek yang hampir 90 derajat. But, let face the reality because we have to hiking in that trek. Ajun yang dibantu Bang Andi memiliki beberapa rencana cadangan, yaitu kita berjalan tetap pada jalur yang di titik di Google Maps jika memang tidak bisa lanjut kita akan berbalik dan menuju jalan pintas yang menghubungkan Desa Watu dengan Watumeze yang notebennya jalur yang biasa dipakai. Bang Andi juga menawarkan bantuannya dan memantau kami di jalur Watumeze. Selesai menyusun rencana, kami segera membeli bahan-bahan makanan yang dibutuhkan untuk pengabdian. Sekita pukul 5 sore kami berangkat menuju Desa Watu. Melewati lengangnya jalanan Kota Bajawa, menikmati senja dengan melihat puncak yang akan kami kunjungi dari kejauhan dengan merahnya langit sore sungguh membuat hati tenang dan tentram. Rasanya kami tidak ingin pulang.

Dua jam kemuda kami sampai di jalan awal Desa Watu ketika hari sudah gelap, disana kami disambut dan tinggal di rumah kepala adat selama semalam. Disini, masyarakat percaya bahwa jika pendatang yang mau mendaki gunung harus melewati upacara adat. Jadilah, kami mengikuti upacara adat agar diberi keselamatan ketika pendakian kami. Kami siap dengan  membawa si jago untuk dikorbankan. Kami mengikuti upacara adat dengan khidmat dan tercengang karena kami belum pernah melihat upacara adat secara langsung apalagi kami yang menjadi subjeknya, so exited. Kemudian kami diharuskan meminum moke, minuman khas Flores dan mengusapkan darah ayam dari dagu sampai tengkuk kepala. Kemudian Bapak Niko, melihat usus ayam dan membacakan ramalan dari usus tersebut, that’s one in a life time. Kemudian, kami makan dan bertanya-tanya tentang bagaimana jalur pendakian hingga puncak. Tidak lupa kami juga dikenalkan oleh anak Bapak Niko yang mana ketika hamil 5 bulan mencapai puncak Inerie, Bapak Niko juga menawarkan bantuannya untuk mengantarkan kita kepuncak. Kami pun terlelap menanti hari esok menuju impian kami.

Dusun Watu

Photo by Bang Ansel

Pagi-pagi buta, kami bangun dan sarapan bersama keluarga besar Bapak Niko. Kemudian kami melakukan streching dan mulai berjalan naik. Jalanan masih sedikit menanjak, tapi jarang ada bonus. Kami berjalan hingga gubuk Bapak Niko yang masih dalam area perbebunan milik beliau. Wajah kami jelas sudah menunjukkan lelah saat itu, tapi ini barulah awal. Kami disusul oleh oleh dua mama dan anaknya serta Saudara Bapak Niko dan mereka sangat cepat hingga menyusul kami. Mereka ternyata juga ingin menuju puncak Ineie, dengan bekal yang sederhana kami naik bersama. Setiap tanjakan dan tetes ketingat yang terjatuh disana menjadi saksi bisu bagaimana usaha kami menggapai mimpi kami. Setiap tulang kami seakan-akan kesemutan denagan beban logistik 4 hari pendakian dan jalur yang luar biasa tanjakannya.

Tapi semua itu tidak membuat kami menyerah, berbagai hal-hal baru kami coba disana. Kami pun masih bisa tertawa ketika makan siang di tempat yang curam karena tidak ada landaian. Disinilah kami harus berpisah dengan Bapak Niko serta keluarganya, dikarenakan hari sudah siang dan mereka harus kembali sebelum malam. Tapi, mereka dilarang kembali sebelum mencapai puncak. Disitu bapak Niko berkata bahwa ia akan meninggalkan tanda agar mempermudah kami diperjalanan. Setelah kami makan siang, kami kembali melanjutkan perjalanan, kali ini lebih berat hingga sore menjelang. Kami sudah lelah sekali sampai akhirnya Ajun dan Mas Mike sedikit berselisih dan akhirnya kami memutuskan mencari tempat camp.

Tidak seperti biasanya kami mencari tempat datar dan nyaman, kali ini kami tidak bisa mencari lagi yang lebih baik dari tempat kami karena belum tentu ada sedikit landai seperti yang kami pijaki. Setelah makan dan evaluasi kami pun tidur di zona kemiringan. Sedikit tidak nyaman memang, tapi ini lebih baik dari tidak sama sekali. Paginya, badan kami sakit semua dan kami sudah bergeser dari posisi awal tidur. Kami segera bergegas menuju puncak dengan dipimpin oleh koortim, Hanif. Dia mengikuti petunjuk yang Bapak Niko berikan sampai pada titik dimana kami kehilangan tanda tersebut dan mencoba terus berjalan menuju batas vegetasi. Sampainya di batas vegetasi, benar-benar berbeda, lebih curan, lebih berpasir, lebih berbatu dan lebih horor. Jika kami terperosok dan tidak bisa mengendalikan trekking pole ataupun kaki kami maka that’s the end baby.

Disitu Ajun berkomunikasi dengan Bang Andi untuk menentukan titik koordinat dimana kita akan bertemu. Ternyata, kami terlalu melipir, alhasil kami harus bergerak melipir lagi dan menyebrang ke trek yang mengarahkan kami kepuncak. It’s like forever, trek yang paling menantang dalam hidup, lama kami berkutan di batas vegetasi. Terpeleset, terpelosok, terbentur itulah makanan kami, kami sampai harus melakukan moving together karena bahayanya medan. Untungnya kami masih punya tali temali yang selalu setia mengiringi kami dalam menyebrang dan membantu satu sama lain.

Photo by Verent

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami berhasil menggapai mimpi kami. Kami berada di ketinggian 2245 mdpl. Dari atas kami melihat kampung adat yang mengelilingi Gunung Inerie, indahnya laut dan Pantai Aimere, sabana yang membentang dibawah, serta birunya awan dilangit. Semua itu seperti lukisan dalam kanvas, tapi yang ini nyata. Puas kami di puncak kami harus turun menuju puncak bayangan tempat camp Bang Andi. Well, jalurnya tidak jauh berbeda, hanya saja lebih menakutkan ketika turun karena seperti perosotan yang berpasir dan berbatu yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan kami.  Kami masih harus menggunakan tali-temali kami tercinta. Tidak lama kami berjalan kami sampai dipersimpangan dekat Gua Maria, karena ingin menuju camp kami menaruh carrir dan membawa perbekalan seperlunya untuk di camp. Disana kami bertemu dengan Ansel, yang menemani Bang Andi mendaki Gunung Inerie.

Kami mengobrol dan makan siang bersama sebelum melanjutkan perjalanan turun. As i expected, jalurnya masih sama terus menurun curam dan miring. Kami lama berkutat disini, karena hampir 80 persen jalur turun seperti ini. Sebelum matahari tenggelam kami sampai di titik dimana yanahnya berpasir dengan tekstur krikil kecil ditengahnya. Akhirnya kami turun seperti main perosotan,  dengan tetap waspada mengendalikan rem kaki. Hingga matahari turun, kami belum mencapai desa, kami pun melanjutkan perjalanan dengan lambat karena lelah. Tepat pukul 8 malam kami sampai di desa Watumeze yang tentu saja sudah tidak ada aktivitas penduduk lagi. Disana, kami dijemput oleh teman Bang Andi dan kembali kerumah. Disitu, kami membersihkan diri dan terlelap.

Esoknya kami melakukan melakukan evalusai, dan istirahat sehari sebelum akhirnya kami menuju Kampung Bena. Tepatnya, pada pagi hari berikutnya. Kami melaju membelah jalanan Flores menuju Kampung Bena. Sepanjang perjalanan rumah-rumah penduduk disini memiliki banyak memiliki kemiripan. Dari yang semua kami lezati belum ada gedung pencakar langit ataupun mal-mal besar yang menginvasi kota ini. Sungguh tenang dan nyaman, mereka masih hidup dalam suasana gotong royong dan kekeluargaan. Kami sampai di rumah Bapak Thomas pada sang hari, setelah mengobrol dan berkenalan sejenak kami izin untuk melakukan kegiatan kami selanjutnya, yaitu penelitian yang berada di Kampung Bena. Jarak dari Rumah Bapak Thomas tidak seberapa jauh jadi kami jalan kaki.

Kami melihat sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan apa yang kami lihat selama ini. Tapi keindahannya benar-benar masih terjaga. Semakin mendekat kebawah, kami bisa melihat gagahnya Gunung Inerie yang selalu mejaga kampung-kampung adat yang berada dibawahnya. Mataharipun tenggelam dengan indahnya jika dari sini. Kami pun kembali ketika hari sudah gelap. Malamya, kami mendapat informasi dari dari Bapak Thomas jika esok hari ada upacara pemasangan atap rumah adat. Kami tidur lebih awal agar bisa bangun pagi-pagi untuk mengikuti acaranya dari awal hingga selesai.

D-Day has come, kami sarapan terlebih dahulu, dan berjalan menuju kampung, sesampainya disana upacara belum dimulai, tapi sudah terlihat berbagai macam persiapan untuk upacara ini. Kami pun berpencar terlebih dahulu dan mulai mencari informasi. Aku pun berjalan sendiri melihat-lihat dari ujung ke ujung, hingga kutemukan spot yang sungguh istimewa. Tepat dibelakang rumah yang akan dibangun, jika kita menaiki tangga kita akan menemukan patung Bunda Maria yang dilatar belakangi oleh perbukitan hijau yang membentang. Masyarakat setempat menyebutnya Gua Maria. Aku juga melihat betapa sibuknya salah satu suku yang membantu memasak hidangan untuk seluruh kampung.

Upacara pun dimulai, dimulai dengan menbagi sarapan kepada seluruh masyarakat yang ada dikampung. Disini, ketika urusan masak memasak maka tuan rumah hanya boleh dibantu oleh anggota sukunya saja ketika mereka memasak, suku lain hanya tinggal menunggu datangnya makanan. Kami duduk di salah rumah bersama mama-mama lainnya. Makanan pun dibagi, dan tentu saja babi menjadi hidangan utama saat itu. Setiap upacara adat disini pastilah harus berkorban babi dan menggunakan moke.

Nama hidangannya adalah ra’arette yang di padu dengan moke susu yang tidak membuta mabuk. Setelah itu keramaian pun dimulai. Kami juga ikut bahu-membahu membantu mengantarkan alang-alang yang akan dipasang ditap rumah, tarian ja’i dan musik tradisional mengiringi kami. Hal ini berlangsung hingga siang hari dan kam kembali makan dan minum. Setelah selesai tibalah saaatnya saat yang ditunggu, tiga babi gemuk yang adak dikorbankan untuk rumah baru ini. Setelah bergelut cukup lama, jiwa babi itu pun melayang dengan dua pukulan kapak di kepalanya. Darahnya dimasukkan kedalam mangkuk besar yang nantinya akan dibuat untuk mengolesi rumah adat dan campuran dari ra’arette. Kami juga melihat bagaimana pengolahannya, yaitu dengan membakar kulit luarnya dan yang memasak disini adalah para lelaki sedangkan para wanita hanya harus memasak nasi.

Photo by Sheilafita

Kami pun kembali, dan tentu saja makan lagi, diakhir ini, tidak lupa juga dengan moke susu, tapi beberapa orang juga meminum moke putih yang bisa membuta mabuk. Hari itu hampir seluruh masyarakat mabuk dan berbahagia. Kamipun kembali ketika matahari sudah turun. Hari-hari berikutnya, sama seperti yang kami jalani selama hampir seminggu kami disini. Pernah di satu hati, sebelum hari sumpah pemudah malamnya kami diajak Bapak Thomas ke SDN koloko’a untuk menghadiri pentas seni disana. Selesainya, kami berjalan menuju srumah salah satu guru dan maam malam dengan ditemani oleh moke anggur. Paginya kami ikut menghadiri upacara bendera dan kembali melihat lomba fashion show, jamuan disini kali ini adalah singkong dengan sambal khas Flores dan tentu saja moke. What can we say, there isn’t a day without drunk.

Esok harinya, kami mulai melakukan pengabdian dengan berbagi sedikit ilmu yang kami tau hingga siang hari. Selesai itu kami kembali dijamu oleh para guru dari SD Bena dan saling bertukar cinderamata. Setelah itu, sore hampir tiba, kami diajak mandi di air terjun. Orang-orang disini, bilangnya hanya sebentar dan jalannya cukup mudah karena melewati perkebunan warga. Tapi, ternyata kami harus melewati jalur yang terus menurun dan harus berhati-hari karena jalanan mulai licin. Saat hampir gelap kami baru tiba di air terjun langsung saja kami menceburkan diri dan merasakan hangatnya air yang mengalir. Puas kami bermain air, kami pun kembali dengan jalan yang masih sama tapi gelap. Butuh perjuangan ekstra untuk naik keatas karena gelap dan licin di tambah badan kami yang basah, jadinya kami harus berusaha keras untuk naik. Sesampainya disana kami langsung membersihkan diri dan makan malam serta briefing untuk esok hari.

Esok telah tiba, hari terakhir kami disini, tapi kami bermalas-malasan karena kegiatan kami siang hari. Sebelum memulai kegiatan, kami briefing terlebih dahulu dan mulai berjalan menuju lapangan SD Bena sembari mengumpulkan adik-adik dari Desa. Sesampainya di lapangan kami menjelaskan tujuan kami dan membagi mereka menjadi tiga kelompok. Permainan berlangsung sengit, tidak ada satupun yang mau mengalah diantara tida kelompok tersebut. Alhasil, beberapa permainan mengalami sedikit kericuhan ataupun kecurangan yang dilakukan adik-adik ini. Meskipun kami tidak setuju dengan permainan mereka yang curang, tapi namanya anak kecil kami masih memakluminya, yang kami kagumi dari mereka adalah semangatnya. Dari awal bertemu mereka, kami melihat bahwa mereka itu memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan selalu bersemangat dalam segala hal.

Photo by Manto

Ketika hari mulai gelap, kami kembali ke rumah Bapak Thomas, dari kejauhan kami melihat mobil merah Bang Andi yang sudah menunggu kami. Setelah itu kami beres-beres dan mulai berpamitan. Saat itu adalah saat yang sangat emosional, kami sangat amat senang walaupun mengenal mereka dalam waktu yang singkat. Kami belajar apa arti kerja keras, dan kekeluargaan yang sesungguhnya. Kami belajar bagaimana toleransi disini sangat amat indah, semua saling menghormati satu sama lain tanpa memandang dari mana mereka berasal, dan apa keluarga ataupun agama mereka.

Kami pun mulai melaju dengan melambaikan tangan kami melalui kaca mobil. Mobil melaju semakin kencang menembus dinginnya malam Kota Bajawa. Sesampainya kami di rumah Bang Andi, kami pun membakar ikan untuk makan malam. Dengan penuh kehangatan kami makan dan berbincang-bincang kemudian kami pun kembali terlelap. Esoknya, kami diajak Bang Andi menuju Air Terjun Ogi. Perjalanan yang kami tempuh memang agak jauh, tapi semua itu terbayar dengan melihat alam Flores yang masih hijau. Disana, air terjun masih belum resmi menjadi daerah wisata, jadi kami masuk dengan gratis. Tapi, sudah ada indikasi bahwa tempat tersebut akan dijadikan daerah wisata. Air terjun tersebut kecil dan tinggi dengan dikelilingi oleh tebing yang sangat tinggi, airnya sangat sejuk dan tidak ada satupun sampah disana. Puas melihat air terjun kami pun kembali pulang, tapi sebelumnya kami mampir ke Pasar Boubou untuk membeli bahan masakan. Pasar tradisional disini benar-benar rapi, tidak seperti pasar tradisional di Jawa pada umumnya. Para pedagang diklasifikasikan menurut barang dagangannya dan beberapa sangat unik untuk dilihat, sebagai contoh garam disana dijual menggunakan daun lontar. Puas kami berbelanja, kami kembali ke rumah Bang Andi dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.

Sebelumnya Bang Andi mengajak kami untuk camping ceria di salah satu bukit dengan pemandangan yang pastinya luar biasa. Nah, kami akan pergi pada malam hari dan sorenya kami ditawari untuk berbagi cerita di radio Bajawa. Estimasi kami hanyalah satu jam di radio, tetapi karena melebihi estimasi jadilah kami hanya membakar ikan lagi, tapi hal itu tetap menyenangkan karena kebersamaan yang kami jalani.

Hari ini tibalah hari terakhir kami berada di Bajawa, kami pun bersiap-siap dari pagi hari dengan membeli makanan cadangan untuk di kapal. Setelah itu Bang Andi, Bang Ansel, dan Mama Ita mengantarkan kami menuju Bandara SOA. Kami akan kembali mengudara menuju Bandara Komodo, seperti biasa yang kami tunggu-tunggu adalah pemandangan dari ketinggian. Apalagi, saat akan sampai di  Bandara Komodo melihat hijaunya pulau-pulau kecil yang dikelilingi birunya lautan membuat kami tidak mau turun dari pesawat. Tapi mau bagaimana lagi, kami harus turun dan melanjutkan perjalanan kami. Kami sampai disana dengan selamat dan mulai menuju Pelabuhan Labuan Bajo. Karena kapal kami baru tiba esok hari, maka kami mencari penginapan yang tidak jauh dari sana.

Malamnya, kami berjalan-jalan melihat hingar-bingar kota yang dipenuhi oleh turis asing. Kami merasa terkejut karena melihat banyaknya restoran mahal dan hotel-hotel yang berdiri tidak sebanding dengan banyaknya perkampungan masyarakat asli yang tersisihkan dan cenderung kekurangan air bersih. Restoran dan hotel tersebut malah kebanyakan dimiliki oleh orang dari luar. Saat paginya kami menunggu kapal kami tiba, pemilik penginapan berkata bahwa kapal kami adalah kapal yang selalu molor dan memang benar, karena kami berangkat pada pukul sepuluh pagi, terlambat dua jam dari waktu yang ditentukan.

Ini adalah kali pertama kami naik kapal dengan waktu lebih dari sehari. Ternyata dek kapal itu berada dibawah dan seperti tempat “penampungan” karena banyak sekali orang dan tidak ada sekat diantara kami dan mereka. Jadinya, kami harus pandai menjaga barang-barang pribadi. Pemandangan diatas juga tidak kalah indah dengan kapal yang membelah lautan melintasi pula-pulau disekitarnya dtambah dengan angin sepoi-sepoi membuat kami sangat nyaman. Dua hari kemudian, tepanya pada sore menjelang malam kami sampai di pelabuhan Tanjung Benoa, kami pun langsung menuju Sekre Wanaprastha Dharma untuk bersilaturahmi. Disana, kami bersenda gurau bercerita-cerita dan saling mengenal dan memahami satu sama lain.

Pagi-pagi buta aku, Sheila, dan Deswita dan Mbak Verent pergi untuk mencari makan, kami tidak tahu jalan dan tempat makan yang dekat. Jadilah kami berjalan hanya dengan mengikuti insting kami, berbelok-belok hingga menemukan tempat makan. Tidak lama kemudian, Mas Mike, Ajun dan Hanif menyusul kami. Selesai makan kami membuat rencana untuk setidaknya jalan-jalan di Bali. Ajun dan Hanif kembali ke sekre dan kami pun memulai petualangan kami membeli oleh-oleh dan menjelajahi kota bali hingga sore menjelang.

Ketika sore tiba, kami sampai di sekre, sebelum berpamitan pulang kami makan bersama terlebih dahulu. Malamnya kami menuju Terminal Ubung dengan diantar teman baru kami. Sayangnya, bis berikutnya baru berangkat pada pukul sebelas malam, jadi sembari menunggu kami ngopi ceria sambil bercerita-cerita dengan teman baru kami. Mendekati waktunya kami masuk bis dan berpisah dengan mereka. Tetapi, bisnya tidak juga berjalan hingga pukul 12 malam, mungkin karena menunggu penumpang, kami berdo’a semoga waktu ini cukup untuk mengejar kereta pagi hari. Sekitar pukul dua dini hari kami sampai di pelabuhan Gilimanuk dan segera berjalan membeli tiket penyebrangan. Untungnya, kami tepat waktu sebelum kapal berangkat menuju Pelabuhan Ketapang.

Subuh dini hari, kami sampai di Pelabuhan Ketapang, kami pun berjalan menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Jalanan sangat sepi dan lenggang, kami hanya melihat satu atau dua pejalan kaki yang menuju ke masjid untuk beribadah. Tepat pukul 06.30 kereta kami melaju menuju rumah kami. Kami melewati kurang lebih 27 stasiun sebelum kami sampai di Yogyakarta. Di dalam kereta yang kami lakukan hanyalah tidur, makan, mengambil foto begitu seterusnya hingga kami sampai Jogja pada pukul 19.30. Teman-teman kami kemudian menjemput kami dan mengantar kami hingga sekre.

Photo by Mike

Tiga minggu yang penuh perjuangan, kerja keras, dan usaha dalam menggapai mimpi kami. Dalam prosesnya, suka dan duka kami alami bersama, berbagai pertengkaran dan kesalahpahaman muncul seiring dengan waktu. Kami pernah kehilangan semangat dan kehilangan rasa percaya diri. Tapi, kami berusaha bangkit kembali dan menyusun kepingan impian kami hingga menjadi puzzle yang utuh. Dan disinilah kami saat ini, salah satu impian kami telah terwujud. Memang prosesnya membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan tidaklah mudah untuk sampai disini. Tetapi, asalkan kami bersama dan bekerjasama kami pasti bisa mewujudkan impian kami.

Tim Gladimadya Tanah Bajawa

– Gladimula XXXIII –


4 Comments

Agustinus · June 2, 2018 at 3:23 am

Di lain waktu,cobalah mengunjungi pemandian air panas Mengeruda dan Batu Bunyi, batu yg berbunyi seperti gong bila diketuk, di Bajawa Utara.

    Humas MAPAGAMA · June 10, 2018 at 7:24 am

    wah mantap itu mas, akan kami jadikan referensi untuk perjalanan berikutnya hehe

untari travel notes · September 25, 2018 at 7:43 am

saya penasaran, kenapa kok tripod ga bleh dibawa naik pesawat ya. kalau gunting si paham karena benda tajam.
Sungguh perjalanan yang panjang ya untuk bisa menikmati pemandangan di tanah bajawa

Hanif Nur Hassan Al Faruqi · April 11, 2019 at 8:24 am

Menariknya memang waktu itu kami tergesa-gesa untuk menuruti apa yang menjadi kebijakan di bandara, dan karena hal itu lah kami lupa menanyakan alasannya. Gitu Mbak

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.