Di Balik Cahaya Terowongan Surga Part (3)
Pagi hari tanggal 12 Agustus 2023 tim menambah kegiatan eksplorasi permukaan ke Desa Lanne. Tim ditemani tiga warga lokal, yaitu Kak Saridah, Kak Ainun, dan bapak kepala dusun. Sebelum menuju Desa Lanne, tim mampir terlebih dahulu ke warung untuk mengisi bensin dan membeli air minum. Namun, saat di perjalanan, motor yang dikendarai Gandhi dan Haqqi mengalami bocor ban di depan Kantor Desa Bonto Birao. Anggota tim yang berada di warung pun sedikit terkejut sebab pergi ke bengkel di desa ini akan menjadi lebih sulit karena jalanan yang rusak. Untungnya saat itu di kantor desa ada banyak orang karena sedang ada kerja bakti, sehingga Gandhi dan Haqqi dibantu untuk menambal bannya yang bocor. Setelah selesai menambal ban, Gandhi dan Haqqi menyusul teman-teman lainnya yang sudah berada di warung. Tim yang berada di warung pun akhirnya mengetahui bahwa yang menambal ban adalah bapak kepala desa sendiri dengan perlengkapannya di balai desa serta sepertinya hal tersebut merupakan hal yang lazim di sini. Setelah semua berkumpul, tim segera menuju Desa Lanne bersama Kak Saridah dan Kak Ainun untuk menemui bapak kepala dusun terlebih dahulu. Sesampainya di Desa Lanne, tim langsung menuju Leang Suli dipimpin oleh bapak kepala dusun. Leang Suli terletak di tengah perbukitan sehingga tim perlu berjalan cukup jauh untuk menyusuri bukit untuk mencapai Leang Suli. Selain ke Leang Suli, tim juga diarahkan ke Leang Balinaprak. Bapak kepala dusun juga menawarkan untuk ke Leang Pamaroang, tetapi karena letaknya ada di atas bukit, tim memutuskan untuk tidak jadi ke sana dan hanya mencari data sekundernya saja. Setelah dari Desa Lanne, tim kembali ke rumah kepala desa. Namun, saat di perjalanan pulang, tim mengunjungi satu gua lagi yang ada di pinggir jalan. Tidak diketahui nama gua tersebut dan ternyata gua tersebut tidak terlalu panjang, hanya sekitar 25-30 meter saja. Tim juga menyempatkan untuk foto bersama di depan gua tersebut sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Setelah selesai, tim berpisah dengan Kak Saridah dan Kak Ainun di depan gua tersebut karena mereka masih ada keperluan lain sehingga tim kembali ke rumah kepala desa sendiri. Kegiatan selesai pada pukul 12.30 WITA dan setelahnya digunakan untuk pengolahan data. Kaizan dan Jayu juga sempat ikut ke kantor desa untuk membantu kerja bakti di sana, sementara Saphira, Binar, Azarya, Gandhi, dan Haqqi tetap di rumah kepala desa untuk melakukan pengolahan data. Malamnya, tim evaluasi dan briefing harian seperti biasanya dan dilanjutkan istirahat sampai pagi.
13 Agustus 2023, tim bangun pukul 05.00 WITA dan membereskan barang-barang karena tim akan turun ke Makassar hari ini. Tim berpamitan dan memberikan oleh-oleh yang dibawa dari Jogja serta tidak lupa untuk foto bersama. Setelah loading semua barang ke motor dan berpamitan, tim segera menuju ke Makassar. Tim menuju Makassar ditemani Kak Babul karena kebetulan beliau juga akan ke Makassar. Free time hari ini digunakan oleh tim untuk ke wisata alam yang ada di Maros, yaitu Rammang-Rammang. Rammang-Rammang merupakan kampung karst yang ada di Maros dan menjadi desa wisata karena pemandangan alamnya yang indah. Sesampainya di Rammang-Rammang, tim naik perahu yang ada di sana untuk berkeliling, lalu menyusuri jalan-jalan yang ada di kampung tersebut. Kak Babul tidak ikut dan hanya menunggu di tempat duduk yang ada di sana sehingga tim hanya bertujuh. Menara-menara karst yang tinggi menjulang serta cukup memanjakan mata setiap anggota tim. Tak terasa, tiga jam telah dihabiskan untuk mengelilingi kampung karst tersebut dan tidak lupa untuk banyak mengambil foto. Setelah puas berkeliling, tim kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Makassar. Sesampainya di Kota Makassar, Kak Babul mengajak berkunjung ke Universitas Hasanuddin terlebih dahulu untuk membeli es pisang ijo. Tetapi, sesampainya di sana ternyata warung yang dituju sedang tutup sehingga tim memutuskan untuk langsung menuju penginapan yang sudah dibooking semalam. Sampai di penginapan, tim mengalami masalah sehingga tidak bisa memasuki kamar yang telah dibooking. Karena sudah menunggu lama dan juga mengurus masalah terkait pesanan tetapi tidak berhasil, tim memutuskan untuk mencari penginapan yang lain. Akhirnya, Azarya dan Gandhi pergi untuk mencari penginapan lain, sementara Kaizan, Jayu, Saphira, Binar, dan Haqqi masih menunggu di penginapan yang sebelumnya. Setelah Azarya dan Gandhi mendapatkan tempat penginapan yang baru, tim segera menuju penginapan tersebut dan menaruh barang-barang. Setelah itu, tim keluar lagi untuk mencari makan malam dan dipilihlah sup saudara sebagai santapan malam ini. Tim makan sup saudara sambil melakukan eval-briefing. Setelah selesai kegiatan hari ini, tim kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Keesokan harinya, tim mengunjungi beberapa tempat yang ada di Makassar dan mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jogja. First stop tim adalah Fort Rotterdam. Pukul 10.00 WITA tim sampai di Fort Rotterdam dan meski hari belum terlalu siang, matahari sudah terik di kota ini. Karena Museum La Galigo berada di dalam Fort Rotterdam, akhirnya tim memutuskan untuk sekalian berjalan-jalan di sana. Jayu, Binar, dan Azarya bersama-sama untuk berkeliling museum sebab mereka yang paling antusias, sementara Kaizan, Saphira, Gandhi, dan Haqqi lebih banyak duduk. Setelah cukup berkeliling, tim melanjutkan perjalanan untuk mencari makan siang. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan berada di Makassar, tim memilih untuk mencoba iga konro, makanan khas dari Makassar. Setelah selesai makan, tim lanjut lagi untuk mencari oleh-oleh di daerah Somba Opu. Beberapa toko oleh-oleh dikunjungi untuk mencari yang paling sesuai dengan keinginan setiap orang. Salah satu toko yang menjadi favorit tim adalah “Toko Keradjinan” karena barang yang dijual cukup lengkap dan berkualitas dengan harga yang paling terjangkau di antara toko oleh-oleh lainnya. Tim menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk mencari oleh-oleh sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Pantai Losari. Sampai di Pantai Losari, matahari masih terlalu terik karena baru menunjukkan pukul 16.00 WITA. Pantai Lossari adalah tipe pantai yang berada di tengah kota, sepreti pantai buatan yang biasa dipakai oleh masyarakat sekitar untuk bersantai di sore hari selepas berkegiatan. Sangat kontras dari imajinasi tim terkait dengan istilah pantai. Namun, meskipun tidak seperti yang diharapkan, Pantai Losari memberikan suguhan sunset yang sangat indah di hari itu. Seperti biasa, tim tidak lupa untuk mendokumentasikannya sebelum beranjak dari sana. Setelah selesai dari Pantai Losari, sekitar pukul 18.00 WITA tim melanjutkan kegiatan untuk mencari makan malam. Akhirnya, tim memilih untuk makan pecel lele yang ada di pinggir jalan akibat jenuh dengan olahan daging sapi yang sudah dikonsumsi secara menerus belakangan ini. Setelah selesai makan dan eval-briefing, tim kembali ke penginapan untuk bersih diri dan istirahat.
Hari selanjutnya, 15 Agustus 2023 adalah hari terakhir tim di penginapan. Sebelum meninggalkan penginapan, tim membereskan barang-barang terlebih dahulu. Pagi itu, tim sarapan dengan nasi kuning yang Azarya beli di pasar dekat penginapan. Setelah selesai berkemas, tim check out dari penginapan sekitar pukul 11.30 WITA dan langsung mencari es pisang ijo karena siang itu sangat terik. Setelah membeli es pisang ijo, tim melanjutkan kegiatan untuk wisata mapala. Tim berkunjung ke Sekretariat Mapala Universitas Muslim Indonesia. Tim juga memberikan oleh-oleh yang dibawa dari Jogja untuk teman-teman Mapala UMI. Selama di Mapala UMI, tim banyak bertukar cerita tentang mapala masing-masing. Berbekal template obrolan ala-ala mapala dengan pertanyaan sejenis bagaimana sistem di dalamnya, jumlah anggota aktif yang ada, hingga teknis dari dikjut masing-masing, tim pun singgah cukup lama. Awalnya, tim juga menganggarkan untuk berkunjung ke Sekretariat Mapala Universitas Perjuangan Republik Indonesia. Tetapi, karena letaknya yang semakin menjauhi Pelabuhan Makassar akhirnya teman-teman dari Mapala UPRI ikut berkunjung ke Mapala UMI sehingga tim bertemu di sana. Tim disuguhi jajanan lokal dan obrolan berlangsung sampai kurang lebih pukul 17.00 WITA. Sebelum berpamitan, tidak lupa tim berfoto bersama terlebih dahulu. Setelah itu, tim melanjutkan kegiatan untuk mencari makan malam dan palubassa yang direkomendasikan oleh teman-teman di sana menjadi pilihan tim.
Palubassa ini juga menjadi hidangan penutup di Makassar sebab malam ini tim akan kembali ke Jawa dengan kapal. Karena masih ada cukup waktu sebelum ke pelabuhan, tim berpencar menjadi dua kelompok. Kaizan, Jayu, Gandhi, dan Haqqi bersama-sama menuju toko oleh- oleh sementara Saphira, Binar, dan Azarya menunggu di Indomaret dekat pelabuhan. Sekitar pukul 19.30 WITA Kaizan dan Jayu menyusul Saphira, Binar, dan Azarya di Indomaret kemudian menuju pelabuhan terlebih dahulu, sementara Gandhi dan Haqqi menyusul langsung ke pelabuhan. Setelah motor yang disewa diambil oleh pemiliknya, Saphira dan Binar masuk ke pelabuhan untuk mencari informasi mengenai penukaran tiket dan mencari tempat untuk menunggu. Karena tiket kapal masih belum dapat ditukarkan, akhirnya Saphira menjaga tempat untuk tim menunggu, sementara Binar menjemput teman-teman yang lain untuk menuju ruang tunggu. Sekitar pukul 23.00 WITA, Binar mulai mengantre untuk menukarkan tiket. Setelah tiket diterima dan dibagikan ke masing-masing, tim segera melakukan pengecekan tiket dan menimbang barang yang tim bawa. Ternyata, duffle yang dibawa terkena biaya bagasi lebih sebesar Rp50.000,00, padahal saat di Pelabuhan Tanjung Perak duffle itu tidak terhitung biaya bagasi lebih. Setelah menyelesaikan pembayaran tersebut, tim segera menuju gate keberangkatan dan menunggu kapal bersandar. Selama menunggu kapal, tim menggunakan waktu tersebut untuk evaluasi dan briefing harian seperti biasanya. Setelah masuk ke dalam kapal, tim segera mencari nomor seat yang sudah tertera pada tiket. Ternyata, seat tim terpisah menjadi dua. Jayu, Saphira, Azarya, dan Gandhi bersebelahan menjadi satu, sementara Kaizan, Binar, dan Haqqi terpisah dari mereka. Untungnya, kedua kelompok seat masih berada dalam satu dek yang sama dan ruangan yang sama sehingga tidak terlalu bermasalah.
Kapal pun berangkat dari Pelabuhan Makassar sekitar pukul 03.00 WITA dan perjalanan diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih selama 24 jam. Selama di kapal, tim menghabiskan waktu sama seperti pada saat keberangkatan, ada yang menonton film, membaca novel, dan menikmati pemandangan dari atas kapal. Akhirnya, tim tiba di Pelabuhan Tanjung Perak pada 17 Agustus 2023 sekitar pukul 03.00 WIB dan tim segera keluar dari Pelabuhan. Tim menunggu Mama Kaizan dan supir yang akan menjemput kurang lebih selama 1 jam. Setelah mobil yang menjemput tiba, tim segera memasukkan barang-barang ke dalam mobil lalu mampir untuk membeli makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Kaizan. Setelah makan, tim menuju ke rumah Kaizan untuk bersih diri dan beristirahat sebentar. Pukul 13.00 WIB, tim keluar dari rumah Kaizan untuk mampir ke warung makan milik senior, yaitu Mas Pandu. Tim makan dan berbincang-bincang dengan Mas Pandu sampai pukul 15.00 WIB dan ditutup dengan foto bersama. Setelah foto bersama, tim berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Pukul 15.10 WIB tim memulai perjalanan pulang menuju Jogja. Saat di perjalanan, tim berhenti beberapa kali untuk mengisi bensin dan beristirahat di rest area. Lagi-lagi, perjalanan ditutup dengan sunset yang sangat cantik. Akhirnya, tim sampai di Sekretariat Mapagama D11 pukul 19.50 WIB dilanjut dengan unloading logistik hingga pukul 20.10 WIB. Setelah itu, kegiatan ditutup dengan makan malam serta evaluasi harian hingga pukul 21.30 WIB. Setelah itu, tim kembali ke Sekretariat Mapagama D11 untuk membereskan logistik yang kemarin dibawa. Setelah semuanya beres, seluruh anggota tim kembali ke rumah masing- masing. Dengan demikian, kegiatan lapangan akhir Tim Gladimadya Lagusan Liwanag Langit telah selesai. Selanjutnya, tim akan menyelesaikan output dan LPJ. Banyak hal dan pelajaran baru yang bisa didapat dari kegiatan Gladimadya ini. Harapannya, ilmu dan pelajaran yang telah didapat dapat menjadi bekal untuk terus berkembang dan berdaya guna untuk manusia, alam, dan kebudayaan.
Hari kedua berada di Desa Bonto Birao, tim melanjutkan kegiatan lapangan akhir dengan pemetaan Leang Pa’niki. Pemetaan Leang Pa’niki dianggarkan selama lima hari hingga tanggal 12 Agustus 2023. Tentu saja sebelum berangkat pemetaan, tim mengisi perut terlebih dahulu. Hidup berdampingan dengan tim KKN dari Unhas dan keluarga kepala desa sendiri menjadikan tim harus bekerja sama dalam penyediaan pangan untuk seluruh personel yang tinggal di rumah ini. Dengan jumlah penghuni mencapai 19 orang, pagi hari pun digunakan untuk bergelut di dapur bersama tim dapur KKN Unhas. Sedikit obrolan dengan tim KKN Unhas menghasilkan beberapa informasi penting bagi tim, salah satunya adalah tidak adanya warung yang menjual sayur di sekitar desa. Konsumsi sayur masyarakat Bonto Birao sepenuhnya bergantung pada mobil pick-up penjual sayur yang berkeliling dengan jadwal tak menentu. Atau jika memungkinkan, beberapa hari sekali kepala desa akan meminta tolong orang-orangnya untuk berbelanja sebab rumah kepala desa tidak pernah sepi kunjungan sehingga harus selalu tersedia bahan makanan. Pasar di desa ini hanya ada di hari Jumat, pun sering tak menentu sebab bergantung pada para pedagang yang mau naik ke desa ini. Pengaturan konsumsi tim selanjutnya pun harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Beruntungnya, tim telah membawa bahan makanan sehingga stok bahan pangan untuk setidaknya dua hari sudah aman. Pada hari pertama pemetaan ini, salah satu anggota KKN Unhas dan beberapa warga lokal turut menemani tim. Seluruh anggota tim kecuali Azarya masuk ke dalam gua, sedangkan Azarya berjaga di mulut gua ditemani oleh Kak Babul dan beberapa pemuda sekitar. Dari informasi yang didapatkan tim, Leang Pa’niki termasuk gua dengan aliran air yang digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat sekitar juga sering masuk untuk menangkap ikan. Memasuki Leang Pa’niki, tim disambut dengan
Hari berikutnya adalah saat untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tim memulai persiapan dari pukul 07.00 WITA. Kegiatan Tri Dharma ini berlokasi di balai desa yang berada tepat di depan lapangan desa. Balai desa memiliki posisi bangunan yang lebih tinggi daripada lapangan yang pada saat itu adalah hamparan luas rumput yang menguning. Pegunungan di kejauhan dapat terlihat dari balai desa dan seolah menjadi latar pemandangan lapangan desa. Lapangan desa pada hari Jumat itu memiliki pemandangan lain, yaitu pasar dadakan. Pasar dadakan pagi itu hanya terdiri dari 2 mobil pick-up yang menjual kebutuhan pokok. Tim sungguh beruntung bisa menyaksikan pasar dadakan ini, sebab setiap Jumat pun belum tentu para pedagang mau naik ke desa yang jaraknya 2-3 jam dari pasar induk terdekat. Tri Dharma yang semula direncanakan pada hari Minggu harus berubah menjadi Jumat pagi sebab menyesuaikan kegiatan sehari-hari masyarakat sekitar. Akhir minggu digunakan untuk masyarakat pergi ke ladang dan pagi hari di hari Jumat menyesuaikan dengan waktu ibadah solat Jumat. Tri Dharma ini berbentuk sosialisasi yang berjudul “Tata Cara Pengajuan Kelegalitasan Nomor Izin Berusaha (NIB) sebagai Awalan dalam Memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR)” dengan sasaran masyarakat dan Karang Taruna Desa Bonto Birao, terutama yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya. Pada kegiatan Tri Dharma ini, Kaizan dan Jayu bertugas sebagai pemateri, Saphira sebagai MC, Binar sebagai operator dan notula, Azarya sebagai notula, serta Gandhi dan Haqqi sebagai dokumentasi. Setelah materi disampaikan oleh Kaizan dan Jayu, praktik langsung bersama masyarakat yang hadir juga dilakukan untuk mendapatkan NIB melalui aplikasi bernama OSS. Selama pembuatan NIB, beberapa orang mengalami kendala sehingga kondisi sempat sedikit hectic oleh ibu-ibu yang kebingungan. Namun, setelah dibantu oleh tim akhirnya NIB pun berhasil terbit. Masyarakat yang sudah memiliki usaha dan ingin mengembangkan usahanya terlihat sangat antusias untuk mendapatkan NIB ini sehingga mereka sangat senang saat NIB sudah berhasil terbit. Sebanyak sebelas NIB berhasil terbit dari masyarakat Bonto Birao yang dibantu oleh

Akhirnya dengan segala perjuangan, tim tiba di rumah Kepala Desa Bonto Birao pukul 00.30 WITA yang kemudian disambut oleh teman-teman KKN dari Universitas Hassanudin dan bapak kepala desa. Selayaknya bertamu pada umumnya, tim beramah-tamah dan akhirnya istirahat pada pukul 03.00 WITA. Bertemankan suara jendela dan
Pada saat melakukan eksplorasi ke dalam salah satu gua, ditemui ular berwarna merah yang sedang beristirahat pada dinding gua. Karena terkejut dan warga lokal yang menemani masuk takut dengan ular, tim segera memutuskan keluar gua dan melanjutkan kegiatan. Setelah menemukan beberapa gua, tim ishoma terlebih dahulu.Lokasi ishoma berada di sungai yang dengan air terjun kecil. Roti dan buah menjadi santapan siang sembari beristirahat sejenak di bawah rindangnya pohon dan menikmati segarnya air sungai. Setelah cukup beristirahat, tim melanjutkan kegiatan eksplorasi hingga ke desa sebelah. Selama melintasi jalanan desa yang tidak kalah buruk dari jalanan semalam, tim beberapa kali berhenti untuk mengambil footage dari tempat yang dirasa bagus, salah satunya adalah lahan dipenuhi batuan yang digunakan untuk melepas sapi-sapi coklat milik warga. Tempat itu seperti kastil sapi dan rupanya memang cukup ikonik di situ. Setelah menyusuri area eksplorasi, tim kembali ke rumah kepala desa lalu bersih-bersih, ramah tamah, eval, briefing, dilanjut dengan istirahat.
0 Comments