Di Balik Cahaya Terowongan Surga Part (3)
Pagi hari tanggal 12 Agustus 2023 tim menambah kegiatan eksplorasi permukaan ke Desa Lanne. Tim ditemani tiga warga lokal, yaitu Kak Saridah, Kak Ainun, dan bapak kepala
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Pagi hari tanggal 12 Agustus 2023 tim menambah kegiatan eksplorasi permukaan ke Desa Lanne. Tim ditemani tiga warga lokal, yaitu Kak Saridah, Kak Ainun, dan bapak kepala
Hari kedua berada di Desa Bonto Birao, tim melanjutkan kegiatan lapangan akhir dengan pemetaan Leang Pa’niki. Pemetaan Leang Pa’niki dianggarkan selama lima hari
Hari itu Jumat, 4 Agustus 2023, matahari sudah terik sejak pagi, seolah merestui Tim Gladimadya Lagusan Liwanag Langit untuk berangkat menuju Gerbang Indonesia Timur
Mapagama telah mengadakan seminar pada hari Sabtu, 10 Juni 2023 sebagai salah satu rangkaian HUT ke-50. Topik yang diangkat adalah “Satu Suara, Satu Tindakan: Peran Mahasiswa dalam Tanggap Darurat”.
Setelah dua tahun, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada akhirnya kembali dengan ekspedisi penelitiannya. UGM Research Expedition
Aku merekam momen ketika kami
Unit Kegiatan Mahasiswa Mapagama laksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Sekolah Kreatif Si Doel, Desa Paraksari, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan pengabdian yang bertemakan Peningkatan Kapasitas Anak dan Remaja Melalui Edukasi Budaya dan Lingkungan Khas Yogyakarta di Sekolah Kreatif Si Doel dilaksanakan selama 36 hari, dimulai sejak tanggal (27/09) hingga (01/11) lalu. Sekolah Kreatif Si Doel menjadi sasaran kegiatan pengabdian, karena tingkat kemauan dan minat anak-anak untuk belajar di sekolah tersebut semakin menurun. Hal tersebut diindikasikan dengan tingkat partisipasi anak-anak yang semakin sedikit pada setiap kegiatannya.
Selama 36 hari berkegiatan di Sekolah Kreatif Si Doel, tim Pengabdian Mapagama mengusung tema yang berbeda-beda di setiap pekannya. Adapun tema pada pekan pertama yaitu perkenalan, pekan kedua yaitu lingkungan, pekan ketiga yaitu budaya, pekan keempat sopan santun, pekan kelima keluarga, dan pekan keenam yaitu mitigasi bencana. Tema-tema yang dipilih untuk kegiatan setiap minggu ini merupakan hal-hal yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Tema-tema tersebut diusung dengan harapan anak-anak dapat mudah mengingat dan mengimplementasikan apa yang telah didapatkan lewat kegiatan pengabdian tersebut. Koordinatir Tim Kegiatan, Intan mengatakan, Sejak tanggal 27 September – 1 November 2020, Tim Mapagama melakukan enam kali kegiatan di Sekolah Kreatif Si Doel di setiap hari Minggu. Hal ini dilakukan dengan menimbang sumber daya manusia dan anak-anak di sana yang masih harus melaksanakan kegiatan kuliah maupun sekolah secara daring selama hari Senin hingga Sabtu. Selain itu, harapannya, kegiatan yang dilaksanakan pada hari Minggu ini dapat sekaligus memanfaatkan waktu libur dengan belajar sembari bermain di Sekolah Kreatif Si Doel. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pengabdian di Sekolah Kreatif Si Doel ini senantiasa memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Hal tersebut diwujudkan dengan mewajibkan setiap peserta untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum masuk ke dalam ruangan dan wajib mengenakan masker. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan suhu tubuh. Seluruh peserta juga senantiasa diingatkan untuk menjaga jarak satu sama lain dan menghindari adanya kontak secara fisik.
Unit Kegiatan Mahasiswa Mapagama bersama Pemuda Desa Paraksari berharap, dengan adanya kegiatan pengabdian tersebut dapat membantu anak-anak Desa Paraksari untuk kembali bermain dan dapat menggugah minat belajar dan menambah wawasan pengetahuan bagi anak-anak di Desa Paraksari.
Tim UGM Research Expedition IV berhasil melakukan pengambilan data di 36 titik sampel yang berlokasi di Hutan Kerinung, Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Cakupan titik-titik sampel sendiri mencapai luasan 347 hektar dengan jarak antar titik kurang lebih 200 m. Pengambilan data abiotik dan biotik dilakukan sejak tanggal 6 September 2019 hingga 18 September 2019.
“Setiap harinya tim harus menempuh 5 – 8 km perjalanan dari fbc (flying basecamp) untuk menuju titik-titik sampel, total jarak yang ditempuh tim selama di lapangan sekitar 40,4 km. Hal ini dikarenakan kondisi Danau Sentarum tidak bisa diakses menggunakan speedboat akibat sedang surutnya Sungi Tawang” ujar Faizal selaku koordinator lapangan dan ketua peneliti tim abiotik.
Dari pengambilan data yang telah dilakukan, tim UGM Research Expedition IV berhasil melakukan pengeboran kedalaman gambut sejumlah 236 kali dengan kedalaman berkisar dari 0,2 m – 9,29 m, pengambilan sampel tanah gambut di 15 titik, menganalisis vegetasi sebanyak 941 individu, mendata jenis burung yang ditemui sebanyak 182 individu, dan melakukan identifikasi serangga dengan total 2043 individu yang terdapat di lokasi penelitian.
M. Ismail Hamsyah menambahkan selaku anggota tim peneliti “Selama pengambilan data tim juga banyak berinteraksi dengan masyarakat kampung nelayan sekitar lokasi penelitian seperti warga di Resort Tekenang dan Desa Pengembung. Kami turut serta mengikuti kegiatan sehari-sehari warga agar dapat mengenal lebih baik budaya maupun bahasa local tersebut”
Kegiatan penelitian di Kalimantan Barat dengan tajuk “Kawal Gambut Kapuas Hulu” ini merupakan kegiatan ekspedisi riset yang ke empat yang dilakukan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada (Mapagama). Sebelumnya ekspedisi riset pertama di Taman Nasional Gunung Merapi di Yogyakarta (2017), ekspedisi riset kedua di Taman Nasional Manusela di Maluku (2017), dan ekspedisi riset ketiga di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling dan Sungai Penuh di Sumatera (2019).
Dalam ekspedisi riset di Kalimantan Barat ini MAPAGAMA tidak hanya mengirimkan anggota internalnya sendiri, melainkan juga beberapa anggota eksternal yang berasal dari berbagi fakultas di Universitas Gadjah Mada. Mereka adalah Gracia Melsiana A (Pascasarjana 2017), Kresna Muharram (MIPA 2016), Fariz Ardianto (Kehutanan 2016), M Ismail Hamsyah (Ilmu Budaya 2017), Fahrudin Firda Raharja (Sekolah Vokasi 2017), Faizal Musthofa (Geografi 2016), M. Khalid Arrasyid (Ekonomikan dan Bisnis 2016) dan Demetria Alika P. (Kehutanan 2018).
‘’Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya” – Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat.
Kartini menjadi sosok teladan dalam hal ketangguhan seorang perempuan. Hal ini menjadikan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada (Mapagama) menjadikan momentum Hari Kartini sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi perempuan dalam pengabdian kepada masyarakat dan kegiatan kepencintaalaman. Setelah fokus “bermain” di Pulau Jawa dan Sulawesi pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Kartini Mapagama akan melakukan kegiatan yang bertajuk “Ekspedisi Putri Tanah Minang” di Pulau Sumatera, tepatnya di Desa Pinaga, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Sebanyak 12 mahasiswi dari Mapagama dan satu mahasiswi Internasional UGM yang bertolak menuju Sumatera Barat pada tanggal 17–27 April 2019. Anggota tim yang akan berangkat meliputi Demetria Alika P (Kehutanan, 2018), Aloysiana Intan O.D (Ilmu Budaya, 2018), Nur Rima R (Fisipol, 2018), Linasari (Sekolah Vokasi, 2018), Deswita Ayu Wandira (Ilmu Budaya, 2017), Alfira Ihda (Sekolah Vokasi, 2017), Rahayu Septiningsih (Sekolah Vokasi, 2016), Alfia Municha (Ilmu Budaya, 2016), Mayang Sari (Filsafat, 2016), Hajar Lutviah (Kehutanan, 2015), Eva Lutvi Atur N (Fisipol, 2014), Chordya Iswanti (Pertanian), dan Miranda Ellen Lucas (Ilmu Budaya, 2018).
Kegiatan besar kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, yaitu berupa pengabdian dan pendidikan yang dilakukan di SDN 21 Pasaman dan masyarakat sekitar kaki Gunung Talamau via Pinaga. Kegiatan yang dilakukan memberikan edukasi tentang Pendidikan Cinta Lingkungan dan Kesehatan Reproduksi. Hal yang melatarbelakangi Kartini Mapagama melakukan edukasi ini adalah melihat perilaku remaja milenial saat ini yang telah menginjak ke tahap yang cukup memprihatinkan serta kurangnya akses informasi mengenai kesehatan reproduksi. Hingga saat ini, pendidikan tentang kesehatan reproduksi masih dianggap tabu oleh beberapa kumpulan masyarakat, padahal pendidikan ini sangat penting disampaikan sejak dini untuk memberikan bekal kepada anak-anak Indonesia akan bahaya kekerasan seksual terhadap anak yang menjadi isu yang terus-menerus berkembang dari tahun ke tahun di Indonesia. Upaya ini juga ditujukan untuk membangun kesadaran anak-anak dan remaja mengenai cinta lingkungan yang sehat dan bersahabat. Untuk itu, Kartini Mapagama menginginkan perubahan yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia generasi bangsa.
Selain itu, Kartini juga melakukan pendakian di Gunung Talamau (atap tertinggi di Sumatera Barat dan gunung yang memiliki kaldera terbanyak di Indonesia) menjadi imbalan untuk para Kartini yang telah melakukan upaya memberikan edukasi di kaki Gunung Talamau tersebut. Dalam pendakian kali ini tim mencoba tetap konsisten dengan menerapkan ‘Less Waste’, yang tahun sebelumnya telah diterapkan melalui pendakian di Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan. Penerapan Less Waste ini berupa tidak adanya penggunaan barang yang menghasilkan sampah plastik yang susah diurai pada seluruh logistik pendakian. Semua menggunakan wadah ramah lingkungan yang tidak sekali pakai dan mudah diurai. “Harapan kami, selain memberikan edukasi cinta lingkungan kepada orang lain alangkah baiknya dimulai dari kesadaran dan aksi nyata yang dilakukan oleh diri kita sendiri serta sebagai salah satu langkah persuasif bagi para penggiat alam lainnya untuk mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah plastik dalam kegiatan berpetualangan”, ujar Deswita Ayu selaku Koordinator Tim. (Nofita/Ditmawa)