Selasa, 25 Oktober 2022 diawali dengan langit yang cerah. Hari ini adalah hari keberangkatan Tim Ekspedisi “Hike & Fly Banda Neira” dari Yogyakarta. Akhirnya, setelah melalui proses manajemen dan persiapan yang terasa panjang dengan penuh lika-liku, berangkatlah kami menuju surganya pala di Indonesia; Banda Neira. Banda yang sudah menjadi lokasi terbang impian beberapa anggota Divisi Paralayang Mapagama sejak 3 tahun silam, kini benar-benar jadi kenyataan. Aku, Mba Jo, Mas Hendra serta Mas Pandu sebagai salah satu supporting team berangkat dari Sekretariat Mapagama menuju Stasiun Lempuyangan. Seperti biasa, Mas Nugie menjadi andalan untuk mengangkut kami bertiga ke stasiun. Sri Tanjung dengan deretan gerbongnya yang panjang telah menunggu. Pukul 7 tepat, kami pun sudah anteng duduk di kursi tegak kereta jarak jauh tersebut. Kami dibawa menuju Surabaya sebagai kota transit pertama kami. Tengah hari, kami pun tiba di Stasiun Surabaya Gubeng. Seperti titelnya, Surabaya memang panas dan ternyata panasnya hari itu menjadi pertanda bahwa akan turun hujan pula.

Mas Pandu sebagai warga lokal kemudian mengambil mobilnya sementara kami menunggu di foodcourt stasiun. Rencananya, kami akan diantar Mas Pandu menuju Himapala Unesa tempat kami menginap semalaman ini dan esok hari diantar menuju Tanjung Perak. Tak berselang lama, Mas Pandu tiba dengan mobil abu-abunya. Kami beserta seluruh barang bawaan yang berukuran separuh tubuh berhasil masuk ke dalam mobil. Mas Pandu membawa kami makan belut di warungnya dan mengantarkan kami menjelajah sebentar daratan Surabaya yang berjejal kendaraan. Benar saja, hujan pun turun dalam perjalanan kami menuju Mahipala Unesa. Alhasil, kami tiba di Sekretariat Himapala sambil sedikit basah-basahan. Beruntung, Himapala menyambut dengan hangat di tengah dinginnya suasana hujan yang menyergap badan lelah kami. Kemudian, selayaknya kunjungan ke sesama mapala, kami banyak mengobrol, bergurau, dan saling melontarkan tebak-tebakan. Mas Luthfi juga singgah di sana malam itu, menambah seru obrolan kami dengan anggota Himapala hingga tiba saatnya untuk kami melelapkan badan menjelang tengah malam. Keesokan harinya selepas bersih diri dan makan, kami bersiap untuk pergi lagi untuk memulai perjalanan laut menuju Banda. Seakan tidak rela kami harus hengkang dari Himapala, langit Surabaya benar-benar seperti menangis keras alias hujan turun cukup deras membawa hawa kantuk dan enggan untuk beranjak. Tetapi rencana haruslah tetap berjalan, kami pun berangkat ke Tanjung Perak di tengah derasnya hujan. Mendekati pelabuhan, kami sudah berniat singgah di Kantor PELNI untuk membatalkan tiket kapal Mas Hanggara yang kemarin terlanjur dipesan tetapi tidak jadi digunakan. Namun, kami tidak jadi singgah karena pembatalan seharusnya dilakukan maksimal 3 jam sebelum waktu keberangkatan dan kami sudah melampaui batas waktu itu. Satu-satunya tempat yang kami singgahi sebelum tiba di pelabuhan adalah minimarket di pinggir jalan untuk membeli snack sebagai bekal cemilan kami selama 5 hari di kapal kelak. Tak lama setelah itu, kami pun tiba di Tanjung Perak dan menunggu Bang Dika di selasar North Quay yang ramai orang. Sebentar kemudian, Bang Dika tiba dan kami masuk ke dalam setelah menunaikan perpisahan dengan Mas Pandu. Mas Pandu sendiri berjanji untuk memantau kepergian kami di atas North Quay.

Kapal dengan kulit putih-krem itu terlihat menyeramkan. Amat besar. Mengambang di atas perairan coklat Tanjung Perak. Melalui dermaga utara atau North Quay, kami berhasil masuk ke dalam perut si pengarung segara itu. Lorong-lorong remang dengan nuansa kuning dan coklat mengisi netra kami. Kontras dengan penampakan North Quay yang modern dan ramai, lorong PELNI dengan nama Nggapulu ini terasa kuno dan menyesakkan dengan ingar-bingar penumpang yang berjubel. Buruh bagasi berusia kira-kira separuh tua menembak kami dengan “Mapala ya?”. Aih, kami terjebak. Mungkin wajah kami yang asing dengan aura riuh-ramai PELNI amat sangat kentara di mata penuh pengalaman miliknya. Sontak, tiket kami beralih tangan. Dengan lagak profesional, Ia mengantarkan kami menuju kasur sesuai nomor tiket kami. Melihat barang yang ada di atas kasur kami, lelaki yang ternyata membawa anak buahnya itu marah dan meminta sang anak buah menurunkan barang yang ada di kasur kami. Anak buah sungkan, maka melayanglah kalimat “Turunkan saja, goblok, itu bukan barang kita”, demikian kemudian anak buah cekatan menurunkan barang dan meletakkannya sembarang tempat. Kami kemudian harus membayar “bea antar” itu sebesar Rp20.000 setiap kepala. Sesungguhnya, di awal setelah pertanyaan apakah kami mapala muncul, aku masih bersangka baik mengira bahwa kami akan dikasihani dan diantar secara cuma-cuma ke kasur kami. Rupanya wajah melas kami belum semelas itu. Kelas ekonomi yang kami pilih begitu menggambarkan prioritas kehidupan di sini. Semua orang memilih di sini karena prioritasnya ekonomi.

Selepas menempati kasur masing-masing yang ternyata saling terpisah, Mas Hendra dan Bang Dika langsung menjelajahi kapal Nggapulu yang masih diam ini. Sedangkan, aku dan Mba Jo memilih untuk merebahkan diri dan lelap setelah lelah dengan kekacauan agenda siang itu. Kami hampir melupakan Mas Pandu yang menunggu keberangkatan kami di atas North Quay, seusai menghubungi Mas Pandu bahwa kami sudah di dalam, aku dan Mba Jo benar-benar lelap di atas kasur hijau sambil ditemani anakan kecoa hingga malam tiba. Aku dan Mba Jo tinggal di kasur deret 5, aku di kasur 2 dan Mba Jo di kasur 4. Di sela lelap kami, beberapa kali buruh bagasi datang bersama orang yang mencari nomor kasurnya. Datang pula seorang nenek yang ingin menempati kasur di antara aku dan Mba Jo karena memang itu miliknya tapi tidak jadi karena masih ada barang orang lain di atas kasurnya. Ia memilih pergi. Kemudian datanglah seorang wanita dengan baju merah muda bersama anak lelakinya. Katanya, nenek tadi saudaranya. Mereka menempati kasur di antara kami. Dari malam hingga pagi, kami tidur dan terjaga ditemani dengan sekelompok musisi yang berangkat dari Priok dan akan mengakhiri layar di Makassar. Sekelompok besar itu duduk di hadapan aku dan Mba Jo. Mereka memainkan berbagai jenis lagu dengan instrumen keroncong. Tak jarang lagu “Hei Tayo” yang mereka aransemen dimainkan berkali-kali sebagai pengantar tidur, sering pula lagu barat, dan tak lupa lagu Maluku yang membuat sebagian orang di ruangan ini ikut bernyanyi. Pagi ketika kami terbangun, kemudian kami tahu sang anak lelaki yang semalam datang bernama Dino. Ibunya yang berkaos pink amat sabar mengasuh Dino yang cukup rewel karena gusinya bengkak. Dino sangat aktif dan lincah, serta sungguh menunjukkan bahwa Ia sangat dekat dengan Ibunya.

Hari-hari kami tinggal di Nggapulu terbilang membosankan. Pagi-pagi sekali bangun untuk mengambil sarapan, lalu memakannya di 2 hari awal, baru lanjut tidur. Tapi belakangan ini kami sudah bosan. Seusai mengambil sarapan, hanya kami diamkan dan kami hanya makan siang dan makan malam. Oh iya, para musisi turun di Makassar pada hari Kamis, bebarengan dengan mas-mas dari UNY dan UAD yang menempati kasur pojok sebelah Mba Jo. Ruangan seketika sepi. Berisik di sini akhirnya hanya tangis bocah, termasuk rengekan Dino yang suka berteriak. Bicara tentang anak kecil, ruangan ini dan sepertinya di ruangan manapun, berisi banyak anak kecil. Ada seorang anak kecil yang amat cantik, wajahnya seperti boneka. Ada pula bayi berusia satu bulan, tinggal di balik bilik kasurku dan Mba Jo. Hampir semuanya aktif, suka berlari, tertawa, dan tentu saja menangis. Semua anak-anak juga jadi teman pedagang asongan dari PELNI yang ramah itu. Ada banyak pedagang yang lalu-lalang menawarkan dagangannya. Hebatnya, pedagang asongan di sini menjual hampir segala hal. Mungkin hanya janji manis yang tidak dijual mereka, hehehe. Yang paling teringat di memoriku adalah bapak pedangan asongan bertubuh gempal dengan wajah sumringahnya yang selalu mengajak tos setiap anak kecil sambil menyapa dengan “Halo hai!”-nya yang khas serta tidak lupa promosinya yang unik “Aqua rasa air”.

PELNI meninggalkan banyak jejak menyenangkan di benakku, terlepas dari anakan kecoa di sisi kasur yang menemani hari-hari kami. Suara pengumuman di sini amat sangat jelas, jauh berbeda dengan pengumuman di kapal DLN rute Surabaya – Lombok dan sebaliknya yang serasa mendengarkan radio rusak, lebih tepatnya sang penyiar seolah-olah memasukkan mikrofon ke dalam mulutnya sehingga apa yang dikatakan menjadi samar dan teredam. Menyenangkan sekali karena di sini informasi dan suara pengumuman sangat jelas entah jadwal makan sudah tiba atau teater yang menayangkan berbagai macam film sudah buka. Minusnya hanya satu yaitu penyiar yang mengucapkan “film” sebagai “felem” khas orang-orang tua zaman dahulu. Tidak lupa Pak Ferdinand si peneriak jumlah kotak makan ketika kami mengambil makan di kantin. Rambutnya putih, dan ketika berkeliling di dek kami beliau menghapal Mba Jo sebagai Si Cina. Di balik ketegasan beliau ketika menegur Mba Jo yang merekam video di kantin kapal, rupanya beliau sangat ramah.

Di tengah kebosanan tinggal di Nggapulu dengan penampakan biru laut sejauh mata memandang, singgahlah kapal ini di Bau-Bau. Kami diajak Mak Dobo yang tinggal balik kasur Mba Jo untuk turun dan berjalan-jalan. Kebetulan saat itu waktu singgah kami hanya singkat, satu setengah jam saja. Aku dan Mba Jo pun turun dengan perasaan was-was akan ditinggal kapal, padahal kami bersama orang yang sudah sangat bersahabat dengan tabiat kapal alias Mak Dobo dan anaknya. Kusebut Mak Dobo karena beliau memang seorang mak yang akan turun di Dobo. Bau-Bau menjadi persinggahan wajibnya karena beliau memiliki kerabat di sini dan sepertinya di setiap kota yang disinggahi Nggapulu. Di pelataran Pelabuhan Bau-Bau ini kami diajak membeli bakso yang tentu saja pedagangnya sudah kenal dekat dengan Mak Dobo. Kami pesan 4 porsi tanpa tahu seberapa banyak satu porsinya. Lalu, setelah kembali masuk ke dalam kapal, kami terkejut dengan satu porsi bakso seharga Rp25.000 tersebut. Aku dan Mba Jo hanya sedikit terhenyak ketika plastik besar berwarna hitam wadah 4 porsi bakso kami terasa berat. Ternyata setalah kami buka isinya sungguh porsi besar, bahkan aku dan Mba Jo yang sama-sama berperut karet hanya mampu menghabiskan satu porsi yang dibagi berdua. Mak Dobo yang melihat kami kaget hanya tertawa, rupanya beliau juga heran kami pesan 4 porsi karena tiap porsinya terdiri dari 16 butir bakso lengkap dengan kuah yang melimpah. Sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan juga, tentu saja karena baksonya enak. Kami tidur nyenyak setelah itu.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.