Setelah singgah entah untuk yang ke berapa, kami tiba di Ambon. Dari sini Mas Hanggara bergabung dengan kami berempat. Nggapulu mencapai Ambon pada malam hari, hanya menyisakan lampu-lampu kota yang dapat ditangkap netra kami. Tidak masalah, hanya lampu kota pun Ambon tetap nampak cantik. Dari Ambon ini, Nggapulu langsung bertolak ke Banda. Diperkirakan sampai di Banda sekitar pukul 7 pagi, malam itu kami berkemas siap pergi dari kapal yang sudah menjadi rumah kami selama hampir 5 hari. Sedikit meleset dari pekiraan, keesokan harinya sekitar pukul 8 kami pun tiba. Dengan begitu, kami resmi menjejakkan kaki di tanah pengasingan Bung Hatta dan Bung Syahrir. Mama Na yang sudah bertukar kabar selama beberapa tahun dengan Mas Hanggara dan beberapa minggu dengan Mba Jo menyambut kami dengan hangat di tengah keramaian Pelabuhan Banda yang kecil itu. Pelabuhan sangat ramai karena rupanya kami bebarengan dengan konon katanya rombongan artis tapi entah siapa namanya, yang jelas pelabuhan penuh dengan riuh penyambutan. Kami dibawa Mama Na menuju rumah Mama Nur yang hanya berjarak beberapa meter saja dari pelabuhan. Dari situ aku langsung tahu bahwa Banda Neira bahkan lebih sempit dari bayanganku. Pulau Neira sendiri benar-benar kota kecil.

Mama Na sekeluarga membawa kami ke rumah Mama Nur. Singkatnya, Mama Nur adalah saudara Mama Na. Beliau memiliki tiga anak. Si sulung sedang menempuh pendidikan di Jawa Barat dan si bungsu tinggal bersama Mama Na. Tinggal anak tengah yang di rumah bersama Mama Nur, satu-satunya anak lelaki dari ketiga bersaura tersebut dan namanya adalah Dede. Dede pun turut menyambut kedatangan kami dan sepertinya akan menemani hari-hari kami yang akan datang. Rumah Mama Nur yang kami tempati ini terbilang cukup untuk menjadi tempat kami berteduh dari panasnya Banda. Bagiku, Banda dan Surabaya sama saja panasnya. Beruntung sepanjang jalan tadi kulihat ada banyak penjual es berjejer. Tapi ternyata kami lebih beruntung lagi hari ini, perut kami yang sudah bosan dengan makanan hambar Nggapulu kini akan dimanjakan dengan berbagai jenis olahan ikan yang disediakan Mama Nur untuk membuka petualangan kami di Banda. Ada lebih dari satu ikan dan memori jangka pendekku tidak dapat mengingat satupun namanya. Yang teringat hanyalah nikmatnya ikan yang baru ditangkap dari laut dan langsung dimasak. Rasanya segar, gurih, dan tentu saja sulit ditemukan persamaannya karena jarang sekali kujumpai yang seperti ini di Jawa. Lidah kereku yang biasanya akrab dengan lele empang jika dapat berjingkrak pasti sudah berjingkrak kegirangan bersua dengan rasa ikan yang seenak ini. Selain ikan, kali ini kucicipi suami, bukan suami orang tetapi suami yang terbuat dari ubi dan teksturnya seperti apem dumbo. Wow, nikmat Tuhan mana lagi yang ku dustakan jika begini.

Hari pertama di Banda ini diisi dengan makan-makan dan jalan-jalan setelah kami membersihkan diri. Sepanjang perjalanan ke rumah tadi, kami menyusuri jalanan cantik Banda yang penuh dengan bangunan lawas. Rumah tinggal kami dekat dengan Rumah Pengasingan Bung Syahrir yang terkenal, Gereja Tua Banda, Benteng Belgica, dan lain sebagainya. Sungguh strategis dan semuanya benar-benar dekat, ditempuh dengan jalan kaki pun tidak terasa melelahkan. Tetapi jalan-jalan kami hari ini tidak berhenti di jalanan Banda dengan gedung tuanya. Kami lagi-lagi dibawa wisata oleh Mama Na sekeluarga. Kali ini, kami mengunjungi lahan yang konon katanya milik Bahlil Lahadalia sang Menteri Investasi. Usai menyeberang dengan ketinting atau perahu kayu kecil dengan mesin, kami menikmati kelapa muda sampai kenyang berkali-kali di atas laut. Di lahan sang menteri ini didirikan rumah kayu sederhana dengan teras di atas laut. Dari sini pun burung-burung yang menghuni Gunung Api Banda terlihat di antara tajuk pepohonan rimba Ganapus yang megah berdiri tegak di tengah lautan. Sesudah puas dengan kelapa muda dan pemandangan sore itu, kami pun kembali ke seberang mengingat hari yang mulai petang. Ketika langit sudah gelap, kami berkunjung ke penginapan Mas Reza, seorang senior yang membuka penginapan dan kelas diving. Dede ikut bersama kami. Menjelang tengah malam, kami pun pamit karena besok Dede harus sekolah. Karena merasa lapar, kami berjalan ke arah pasar dan mencoba mencari makanan yang masih buka malam itu. Setelah nasi goreng dan bakso kami dapatkan, perjalanan pulang pun dilanjutkan. Ternyata sampai di rumah, Mama Nur sudah memasak untuk kami. Akhirnya malam itu kami makan lagi sampai kenyang dan puas. Kemudian, seperti lapangan Mapagama biasanya, hari ditutup dengan evaluasi.

Hari Senin adalah hari kedua kami di Banda. Aku mengawali hari bersama Mama Nur dengan pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan. Hal ini sesungguhnya di luar rencanaku pribadi sebagai sie konsumsi yang niatnya membeli nasi bungkus setiap harinya untuk makan tim, tetapi sepertinya Mama Nur punya kebiasaan memasak jika ada banyak tamu di rumah. Dan seperti kata pepatah “di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak”, kami mengikuti kebiasaan rumah Mama Nur karena kami sudah diberi izin untuk tinggal di sana. Mama Nur membawaku berkeliling pasar, dari ujung satu ke ujung yang lain. Kami menjelajahi sudut-sudut Banda yang mungkin tidak akan kujamah jika beliau tidak mengajak. Setelah mendapatkan barang yang Mama Nur mau, kami pun kembali ke rumah dan memasak. Sebetulnya hari ini kami berniat menuntaskan perizinan terkait kegiatan penerbangan dan pengambilan data sosial, tetapi karena kami kebanyakan tidur dan berakhir dengan Pak Camat yang sudah pulang ke rumahnya, kami tidak jadi bertemu beliau hari ini. Hari dilanjutkan dengan Mas Hanggara, Bang Dika, dan Mas Hendra yang sudah berpencar menjelajahi Banda. Menyisakan aku dan Mba Jo yang dipesani Mama Na untuk datang ke Istana Mini mengikuti senam. Kami pun datang karena sudah berjanji, lengkap dengan setelan siap senam. Di halaman Istana Mini aku dan Mba Jo mengikuti gerakan senam bersama ibu-ibu yang rupanya punya acara besar besok dan senam ini menjadi salah satu rangkaian kegiatannya. Berbeda dengan para ibu-ibu yang luwes menggerakkan badan, kami berdua tampak seperti boneka kertas yang kaku dan tidak enak dilihat. Kendati demikian, kami menyelesaikan gladi itu sampai akhir. Aku dan Mba Jo kemudian menghampiri Mas Hendra, Dede, dan Mama Nur yang ada di depan Istana Mini. Kami menghabiskan hari dengan menonton matahari terbenam, lalu pulang. Ternyata setelah sampai rumah, Mas Hanggara dan Bang Dika membawa kabar bahwa mereka berdua sudah bersosialisasi dengan komunitas pencinta alam setempat yang bertitel Gembala dan Mapala UBN. Kelak kegiatan kami akan selalu didampingi dan dibantu oleh Gembala dan Mapala Universitas Banda Neira.

Hari-hari selanjutnya kami akhirnya dapat melaksanakan kegiatan yang kami rencanakan. Mas Hanggara, Mba Jo, dan Bang Dika berhasil terbang dari puncak Gunung Api Banda. Penerbangan berjalan lancar diiringi dengan antusiasme yang luar biasa dari warga lokal. Sempat beberapa kali hujan atau angin yang kurang mendukung, tetapi untungnya itu tidak berjalan lama dan penerbangan tetap bisa terjadi tanpa hambatan yang berarti. Dengan begitu, mimpi lama Mas Hanggara dan Bang Dika telah menjadi nyata. Dengan total 3 kali penerbangan, suasana di lokasi landing selalu haru. Kami juga tetap bisa mengambil data sosial untuk penelitian. Karena kesibukan yang menggunung dilengkapi dengan wawancara untuk pengambilan data sosial yang selalu dilaksanakan malam hari hingga menerabas jam ngantukku, hari terasa cepat berlalu. Tiba-tiba kami sudah pergi ke Lonthoir lalu tiba-tiba lagi kami sudah memancing di tengah laut, kemudian tiba-tiba hari berganti. Dan tiba-tiba tanggal 8 November datang, artinya besok kami harus pulang.

Tak terasa, tibalah hari kepulangan kami. Kami harus menaiki kapal menuju Ambon dan baru naik pesawat dari sana. Hari terakhir di Banda ini kami manfaatkan untuk berpamitan kepada pihak-pihak yang telah membantu dan menyokong kegiatan kami. Pamitan hari ini diawali dengan bertandang ke kantor kecamatan. Sembari menunggu Pak Camat, Mas Hendra memesan tiket pesawat kepulangan. Tapi ternyata karena harus menunggu lama untuk Pak Camat datang, kami pun diajak Mama Na untuk makan terlebih dahulu di rumah seorang yang dekat dengan beliau. Kami makan beraneka ragam masakan lokal yang mengeyangkan perut dan memuaskan lidah. Selepas makan, barulah kami kembali ke kantor kecamatan. Ternyata, Pak Camat sudah datang. Kami pun menunaikan perpisahan di sana. Setelah pulang dari kantor kecamatan, kami yang berencana mengadakan perpisahan kecil-kecilan bersama Gembala dan Mapala UBN pun bersiap dan berangkat ke lokasi. Kami melangsungkan perpisahan berbekal snack beraneka macam, mengambil foto bersama, dan kembali ke rumah untuk packing kepulangan. Aku dan Mba Jo sebelumnya membeli oleh-oleh terlebih dahulu di salah satu hotel dekat Benteng Belgica. Setelah pulang dan semuanya berkumpul, kami mengadakan makan-makan perpisahan bersama Mama Na sekeluarga. Kami dibekali gantungan kunci berbentuk pala dan kaos untuk masing-masing orang oleh Mama Na. Sedangkan, Mama Nur membawakan kami perbekalan yang cukup untuk kami makan mungkin tiga hari. Ikan, lapat, sambal, dan satu kresek pisang goreng dibekalkan agar kami tidak kelaparan. Kemudian, dengan berat hati kami harus berangkat ke pelabuhan karena kapal menuju Ambon sudah sandar. Malam itu, kami sedih karena harus berpisah sekaligus meyakini akan ada kesempatan lain untuk kembali. Usai melayangkan lambaian tangan perpisahan, kapal bergerak menjauh dari Banda.

Esok hari kami terbangun karena cahaya matahari yang menyeruak dari jendela di depan tempat duduk kami semua. Kami segera makan bekal dan kembali beristirahat. Namun, pengumuman dari awak kapal membuat pikiran kami gonjang-ganjing seketika. Kami berada di tengah laut antah berantah karena ada kendala pada mesin kapal, diperkirakan kami akan sampai Ambon pada sore hari. Padahal Bang Dika sudah punya agenda untuk terbang pulang siang ini. Begitulah kronologi hangusnya satu tiket pesawat kami. Berbekal sinyal E, Mas Hendra selaku sie transport tetap mengusahakan refund dibantu Bendahara Mapagama dari Jogja. Refund berhasil dan kami harus membeli satu tiket baru. Akhirnya, sore tiba. Begitupun kami yang juga tiba di Ambon. Kami dijemput oleh teman-teman dari Mafispala dan menginap di Mafispala selama semalaman. Di Ambon ini, Bang Mike mengunjungi kami. Keesokan hari ketika kami harus pulang ke Jogja, Bang Mike juga turut mengantar kami bersama teman-teman Mafispala. Demikian aku, Mba Jo, Mas Hendra, dan Bang Dika kembali ke habitat kami masing-masing pada hari itu. Sedangkan, Mas Hanggara memilih tinggal sehari dan terbang ke Jakarta besok paginya. Kami tiba di Jogja selepas magrib dan dijemput Mas Nugie untuk kembali ke panti kuning kesayangan; Sekretariat Mapagama.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.